Petani Ulubelu Tanggamus Keluhkan Turunnya Harga Lada
Lada. Foto : Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Sejumlah petani yang ada di Desa Gunung Sari, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, mengeluhkan penurunan harga lada yang dijuluki sebagai King of Spice tersebut.
Rata-rata para petani yang ada di Kecamatan Ulubelu tersebut menggunakan sistem tumpang sari antara tanaman kopi dengan tanaman lada.
Keluhan tersebut salah satunya disampaikan oleh Mustofa (31). Ia mengungkapkan jika saat ini harga lada hitam berkisar Rp50.000 sementara untuk lada putih Rp60.000 per kilogram.
"Tahun lalu harga lada mencapai Rp80.000 per kilogram bahkan pernah mencapai Rp100.000 per kilogram. Ini menjelang panen harganya malah turun. Perkiraan panen nanti di bulan September," kata dia saat dimintai keterangan, Minggu (14/8/2022).
Baca juga : Ekspor Lada Asal Lampung Tembus Pasar Dunia, Capai 11.848 Ton dengan Nilai Rp584 Miliar
Mustofa mengungkapkan, selain harga yang anjlok jumlah produktivitas lada di Kabupaten Tanggamus juga diprediksi pada tahun ini akan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Tahun ini buah nya jelek tidak seperti tahun lalu, tahun lalu saya panen kurang lebih dapat 50 kilogram, untuk tahun ini paling cuma 30 kilogram saja. Salah satunya faktornya karena beberapa bulan kemarin curah hujan di Tanggamus cukup tinggi," terangnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Sarwono (40), ia menerangkan jika tanaman lada yang ia tanam tengah diserang oleh penyakit busuk pangkal batang sehingga produksi nya sedikit menurun.
"Karena beberapa bulan kemarin disini hujan terus, jadi abis kena hujan tanaman lada daun nya jadi kuning, layu terus gak lama kemudian mati. Kayaknya tahun ini produksi bisa turun sampai 30an persen," kata dia.
Sarwono menerangkan jika tanaman lada yang ia miliki tidak begitu banyak lantara menggunakan sistem tumpang sari dengan tanaman kopi. Dari lahan kopi seluas satu hektare sekitar 30 persen ia tanami lada.
"Lada ini kan ditanam nya harus dilahan yang datar biar saat panen gak sulit. Sementara di Ulubelu ini kebun nya didataran tinggi jadi tanaman lada nya paling cuma 30 persen. Itu lada nya di tanam di tanjar," kata dia.
Baca juga :Penyakit Busuk Pangkal Batang Ancam Penurunan Produktivitas Lada di Lampung
Pada kesempatan tersebut ia berharap agar pemerintah daerah dapat memberikan edukasi serta bantuan bibit lada ke petani didaerah setempat sebagai dukungan dalam peningkatan produksi.
"Disini hampir semua menerapkan sistem tumpang sari antara kopi dan lada. Tapi tidak pernah ada penyuluhan dan bantuan bibit. Jadi kalau kita mau nanam baru kita cuma memanfaatkan solor dari lada yang ada. Itu juga tidak tahu apakah varietas nya bagus atau tidak," kata dia. (*)
Berita Lainnya
-
Mahasiswa Universitas Teknokrat Lahirkan Inovasi PLTB Archimedes 3 Sudu untuk Penerangan UMKM Gunung Kunyit
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Istri Bripka Anumerta Arya Supena Bersyukur Kasus Cepat Terungkap
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Kenangan Rekan untuk Bripka Arya Supena, Polisi Baik yang Gugur saat Bertugas
Sabtu, 16 Mei 2026 -
Perintah Kapolda Lampung Tembak di Tempat Pelaku Begal Tuai Pro dan Kontra
Sabtu, 16 Mei 2026








