• Senin, 06 Desember 2021

Direktur Pencegahan BNPT: Virus Radikalisme Bisa Menyasar Siapa Saja

Selasa, 23 November 2021 - 18.58 WIB
179

Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, saat menjadi narasumber pembentukan Duta Damai Dunia Maya Regional Lampung, di Hotel Novotel, Selasa (23/11/2021). Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut, bahwasanya virus radikalisme bisa menyasar siapa saja dan tidak pandang bulu, bahkan hari ini telah menyusup ke kalangan intelektual.

Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan, radikalisme dalam arti yang positif ialah upaya mencari alternatif penyelesaian secara benar dengan cara mendalam dan mendasar sampai ke akar-akarnya.

Namun dalam arti negatif adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan dengan cara drastis dengan ara kekerasan.

Oleh karenanya, yang dimaksud radikalisme adalah sikap ingin mengubah sistem yang sudah mapan atau telah disepakati bersama dengan cara-cara kekerasan.

"Maka virus ideologi ini bisa menyasar ke siapa saja, tidak memandang kaum intelektual, suku, ras dan lainnya," ujar Ahmad Nurwakhid, saat menjadi narasumber pembentukan Duta Damai Dunia Maya Regional Lampung, di Hotel Novotel, Selasa (23/11/2021).

Baca juga : Donald Harris Sihotang: Media Berperan Penting Tangkal Hoax dan Radikalisme

Ahmad Nurwakhid juga menyampaikan, terorisme biasanya dibangun atas agama. Menurutnya yang dinyatakan terorisme juga bukan hanya mereka yang melakukan. Akan tetapi ia yang membantu dan mendukung serta membiayai aksi terorisme.

Ia juga menjelaskan, orang yang terpapar paham itu lantaran lemah akhlak dan budi pekertinya, karena selalu membenturkan segala sesuatu seperti agama dengan ekonomi, budaya, politik dan pancasila. Padahal antara al-quran dan pancasila ini saling berkaitan.

"Karena substansi pancasila adalah sama saja menjalankan perintah al-quran. Maka terorisme ini harus diberantas, karena ini merupakan musuh agama dan negara. Dimana terorisme ini bertentangan dengan nilai-nilai agama yang mewajibkan toleransi dan berakhlak yang baik serta menaati pemimpin," ungkapnya.

Oleh karenanya, Ia meyakinkan bahwasanya yang dilakukan Densus 88 anti teror ini semuanya didasari oleh supremasi hukum. Dimana dalam penindakannya minimal telah mengantongi dua alat bukti.

"Perkara dia anggota TNI, Polri, ASN dan lainnya yang melakukan ini tidak ada kaitannya, bahwa tindakan aksi terorisme itu dengan tindakan agama apapun, atau pun dengan institusi apapun. Tetapi ini terkait dengan pemahaman dan beragama yang menyimpang," jelasnya.

Karena ini adalah ideologi atau paham yang dibangun di atas manipulasi dan historia agama. Maka jangan heran kalau ada dari kalangan yang bergelar ustad yang ditangkap Densus 88.

"Tidak ada kejahatan yang paling kita benci melainkan kejahatan yang mengatasnamakan agama. Karena ini nantinya akan menjadi fitnah dan menjadi Islam pobia, karena kelakuan dari oknum tadi," tutur Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid.

Oleh karenanya, Ia berharap Duta Damai BNPT ini nantinya jangan sampai kalah militan dengan mereka di dunia maya untuk membikin konten. Jika berselancar di dunia maya mempengaruhi paham radikalisme selama 24 jam, maka Duta Damai ini harus lebih dari itu.

"Kalau mereka niatnya jihad, maka ini juga sebagai jihad nya Duta Damai untuk konsisten terhadap pancasila dan bhinneka tunggal ika, UU 1945 dan NKRI. Karena dengan ini kita bisa bersatu, sehingga kedepan menjadi bangsa Indonesia yang aman dan damai," tandasnya. (*)


Video KUPAS TV : RADEN ADIPATI SURYA LIBATKAN MILLENIAL MEMBANGUN WAY KANAN