Penjelasan BMKG Soal Puting Beliung di Bandar Lampung
Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Soal Angin Puting Beliung pada Rabu (4/8/2021) pukul 22.00 WIB yang menyebabkan sejumlah kerusakan pada rumah warga di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, disebabkan karena musim pancaroba.
Hal itu dijelaskan Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Maritim Panjang, Ahmad Rafli, saat dihubungi kupastuntas.co melalui WhatsApp, Kamis (5/8/2021).
Menurut Ahmad Rafli, potensi puting beliung ini terjadi karena selain adanya musim pancaroba, juga karena adanya awan kulumonimbus.
"Kalau setiap ada puting beliung disebabkan oleh awan kulumonimbus. Tapi belum tentu kalau ada awan kulumonimbus itu terjadi puting beliung," kata Ahmad.
Baca juga :
- Puting Beliung di Panjang Bandar Lampung, Lima Atap Rumah Rusak
- Tinjau Lokasi Puting Beliung, Eva Dwiana: Akan Kita Bantu
Kronologi Puting Beliung sendiri adalah setelah angin terbentuk di laut, lalu bergerak ke darat, kemudian sampai Terminal Panjang saat itu.
Rafli menambahkan, ketika musim pancaroba memang patut waspada, karena sering terjadi ketika sore menjelang malam hari seperti hujan deras, angin kencang dan sebagainya.
"Untuk peringatan, tinggi gelombang terjadi di wilayah perairan barat Lampung berkisar antara 2,5 hingga 4 meter, serta di wilayah perairan Selat Sunda bagian barat di wilayah Teluk Semangka mencapai 2.5 sampai 4 meter," jelasnya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap memperhatikan info dari BMKG. Peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG melalui media sosial atau aplikasi info BMKG. (*)
Video KUPAS TV : RATUSAN KIOS PASAR BAKAUHENI HANGUS TERBAKAR
Berita Lainnya
-
Polda Lampung Bongkar Curas di Langkapura, Tujuh Terduga Pelaku Diciduk
Kamis, 05 Februari 2026 -
BI dan Pemprov Lampung Perkuat Sektor Pertanian, Target Pertumbuhan Ekonomi Bisa Tembus 6 Persen
Kamis, 05 Februari 2026 -
Mentan Amran: Rumah Potong Hewan Dilarang Naikkan Harga Daging
Kamis, 05 Februari 2026 -
Teknologi Pertanian Modern Dongkrak Produktivitas, Soppeng Capai 10,4 Ton/Ha
Kamis, 05 Februari 2026









