Pelajaran Agama Akan Dihapus Dari Sekolah, Begini Reaksi Rektor UIN Raden Intan Lampung 1
Rektor Univesitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Moh Mukri. Foto: Ist/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang hendak menghapus pendidikan agama di sekolah mendapat penolakan dari Rektor Univesitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Moh Mukri.

Mukri menilai, jika Mendikbud menghapus pendidikan agama dalam penerapan sekolah lima hari tersebut siswa akan kesulitan mencari materi ajar di luar sekolah. Ia menilai pendidikan agama harus tetap diadakan di sekolah untuk membangun moral dan akhlak para pelajar.

“Kalau tidak ada pendidikan agama di sekolah mereka mau belajar dari mana? Apalagi kalau di sekolah menerapkan proses belajar sampai seharian,” ungkapnya, Senin (19/06/2017).

Menurutnya, pelajaran agama memang seharusnya diterapkan di sekolah. Karena dengan kesibukan orang tua murid dalam bekerja, dikhawatirkan pelajaran agama kurang maksimal didapat di dalam keluarga, begitu pun di lingkungan sekitar.

“Belajar agama yang baik justru di sekolah, anak-anak terkadang tak melulu diperhatikan orang tua untuk belajar ngaji di lingkungan rumahnya. Apalagi kalau orang tuanya sibuk,” tambahnya.

Terkait wacana itu, Mukri menyarankan sebaiknya diuji terlebih dahulu ke publik untuk melihat bagaimana respon masyarakat. “Untuk memastikannya ya memang sebaiknya diuji coba dulu,” kata Mukri.

Hal senada disampaikan oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Bandar Lampung, Saraden Nihan. Ia meminta pendidikan agama jangan dihapus di sekolah karena hal ini bertentangan dengan nilai Pancasila.

“Karena di dalam pancasila, sila pertama ketuhanan yang maha esa, artinya memang penting mempelajari agama,” kata dia.

Namun, ia menilai wacana itu belum tentu terlaksana. Sebab Kemendikbud dan MUI sudah menghadap presiden agar mengkaji ulang. “Jadi wacana ini belum final dan kemungkinan akan dibatalkan,” tandasnya.

Diketahui, Mendikbud Muhadjir Effendy menyampaikan wacana pendidikan agama didapat dari luar sekolah. Ia beralasan nilai agama di rapor siswa akan diambil dari rumah ibadah masing-masing siswa, seperti Masjid, Gereja dan sebagainya. “Belajar lima hari itu tidak sepenuhnya berada di sekolah. Guru dan siswa hanya berada di dalam kelas beberapa jam. Selebihnya di luar kelas atau di luar sekolah,” kata Muhadjir. (Wanda)