Kupastuntas.co – Sejak mengeluarkan uang pecahan baru pada 19 Desember 2016 lalu, berbagai isu tak sedap menerpa Bank Indonesia (BI). Ada yang menyebutkan uang kertasnya terdapat lambang partai komunis (palu-arit), ada yang menyebut uang baru mirip uang Yuan (China). Ada pula yang menyebut uang baru dicetak pihak swasta dan melanggar Undang-undang.

Berbagai isu itu pun ditampik oleh pihak BI cabang Lampung. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, AriefHartawan mengatakan, BI  mengeluarkan 11 uang pecahan baru, terdiri dari 7 uang kertas dan 4 uang logam.

Yang paling disorot dan jadi polemik adalah adanya dugaan lambang palu arit di pecahan uang kertas. Lambang palu arit yang disebutkan banyak orang adalah simbol BI dengan sistem pencetakan ‘Restovecto’ atau gambar saling isi.  Rectoverso adalah suatu teknik cetak khusus pada uang kertas di mana pada posisi yang sama dan saling membelakangi di bagian depan dan bagian belakang uang kertas terdapat suatu ornamen khusus seperti gambar tidak beraturan.

“Lambang palu arit itu tidak benar. Jadi kita gunakan sitem pencetakan restovecto agar uang tidak mudah dipalsukan. Bagian restovecto ini yang paling sulit dipalsukan. Memang sekilas tampak simbol yang terpotong-potong. Tetapi kalau diterawang jelas sekali itu lambang BI,” ujar Arief Hartawan, didampingi Novi Arsano selaku Kepala bidang pendistribusian uang baru dalam konfrensi pers di Gedung BI Lampung, Rabu (11/1).

Lagian, kata dia sistem cetak restovecto ini sudah dilakukan sejak mengeluarkan uang emisi 2014 lalu. “Tetapi kenapa baru sekarang diributkan. Padahal kan ini sudah sejak dua tahun lalu,” imbuhnya.

Terkait uang pecahan baru mirip Yuan, juga dibantah Arief. Sebab jika dibandingkan dengan pecahan uang emisi sebelumnya, warna yang digunakan hampir sama. Pecahan 100ribu menggunakan warna merah, pecahan 50ribu dominan biru, uang 20ribu dominan hijau dan pecahan 10ribu dominan ungu.

“Kalau kita sandingkan, semua pecahan hampir sama. Hanya pecahan seribu yang sedikit berbeda warna,” jelas dia.

Pemilihan warna, sambung Arief memang sudah ditentukan oleh pihak BI agar tidak menggunakan warna umum, tetapi dengan berbagai kombinasi warna namun tidak begitu mencolok. Sebab, kalau dengan warga umum akan sangat mudah dipalsukan. “Kita gunakan warna-warna yang unik. Kalau warna biasa, dengan menggunakan printer biasa juga bisa dipalsukan. Intinya berbagai fitur pengaman memang kita pasang di uang ini,” tegasnya.

Ia juga membantah isu yang menyebutkan bahwa uang pecahan baru ditecak oleh sebuah perusahaan swasta yang berada di Kota Kudus. Arief menyebut hal itu fitnah belaka. Sebab dalam UU nomor 7 tahun 2011 sudah disebutkan yang berhak mencetak uang RI adalah BUMN. Dalam hal ini Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Perum Peruri.

“Apa buktinya. Boleh dicek dengan teliti pasti ada tulisan Peruri di dalam uang kertas, sepintas memang tidak jelas, tetapi kalau kita pakai kaca pembesar, jelas sekali tulisannya. Jadi katanya dicetak pihak swasta itu tidak benar,” tambahnya.

Hendra Desta, selaku perwakilan BI dari bidang pemeriksaan uang palsu menyebut, pecahan uang baru tingkat keamanannya sudah disempurnakan dari emisi sebelumnya.

Beberapa fitur yakni,. Tanda Air (Watermark), Benang Pengaman (Security Thread), Cetak Intaglio dan gambar saling isi (Rectoverso).

“Kemudian ada tinta berubah warna yakni hasil cetak mengkilap yang berubah-ubah warnanya bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada juga tulisan mikro, yakni tulisan berukuran sangat kecil yang hanya dapat dibaca dengan menggunakan kaca pembesar,” katanya.

Selain itu, sambung Desta, ada tinta tidak tampak (invisible ink) yang hanya terlihat melalui sinar ultraviolet. Terakhir, gambar tersembunyi (latent image) yakni teknik cetak dimana terdapat tulisan tersembunyi yang dapat dilihat dari sudut pandang tertentu. (Tampan)