Ilustrasi Lubang Hitam Luar Angkasa

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Puluhan juta lubang hitam yang merupakan kumpulan dari runtuhan bintang yang sekarat, bisa mengintai tanpa terdeteksi di galaksi. ‘Persediaan kosmik’ telah mengungkapkan bahwa jumlah lubang hitam lebih banyak di Bima Sakti dari yang dipikirkan sebelumnya.

“Kami telah menunjukkan bahwa ada sebanyak 100 juta lubang hitam di galaksi kita,” ujar James Bullock, ketua profesor fisika dan astronomi di University of California, Irvine.

Para peneliti UCImeluncurkan ‘sensus angkasa’ bersamaan dengan pendeteksi gelombang gravitasi pertama pada 2015.

Dilansir dari okezone.com, Jum’at (11/08/2017), sejarah gelombang pertama ditemukan oeh Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) yang diciptakan oleh tumpukkan 2 lubang hitam. Tetapi para ilmuwan berasumsi bahwa sisa bintang lubang hitam akan sama dengan massa matahari bumi.

Para peneliti menemukan lubang hitam berdasarkan pada apa yang mereka ketahui tentang pembentukkan bintang diberbagai jenis galaksi.

“Galaksi besar adalah rumah bagi bintang yang lebih tua, dan juga menjadi tuan rumah lubang hitam yang lebih tua,” ungkap Dokter Oliver Elbert pemimpin penelitian ini.

Ukuran galaksi akan menentukan berapa banyak lubang hitam dari massa tertentu yang bisa terdapat di ruang itu. Galaksi yang lebih besar diketahui, mengandung bintang-bintang yang kaya logam, sementara galaksi yang lebih kecil cenderung memiliki bintang-bintang besar dengan warna yang tidak terlalu bersinar.

Bintang yang mengandung unsur-unsur yang lebih berat melepaskan banyak massa sepanjang perjalanan, dan ketika bintang tersebut mati dalam supernova menciptakan lubang hitam dengan massa lebih rendah. Tetapi, bintang dengan kadar logam rendah tidak banyak menumpahkan massa sehingga menghasilkan lubang hitam yang lebih besar.

“Kami bisa menemukan berapa banyak lubang hitam besar yang seharusnya ada, dan jumlahnya menjadi jutaan lebih banyak dibandingkan yang dipikirkan sebelumnya,” ujar Bullock.

Tim peneliti menyelidiki terjadinya pasang lubang hitam dan penggabungannya. Mereka memutuskan bahwa hanya sejumlah kecil peristiwa ini yang harus dilakukan untuk memacu gelombang seperti LIGO.

Manoj Kaplinghat, seorang profesor fisika dan astronomi UCI mengatakan bahwa tim peneliti menunjukkan bahwa hanya 0,1-1 persen lubang hitam yang terbentuk seperti yang terekam oleh LIGO. (Okz)

Iklan UBL