Samyang
Samyang (Kimchi) satu dari empat mi instan Korea yang positif mengandung babi.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan 4 produk mi instan asal Korea yang dinyatakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) positif mengandung babi, hukumnya haram dikonsumsi. Lalu bagaimana jika muslim terlanjur pernah memakan mi tersebut?

“Kalau sudah terlanjur, yang harus dilakukan tentu dengan cara bertobat. Pertama, menyesali perbuatan (al-nadam),” ucap Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Asrorun Ni’am, Minggu (18/6/2017).

Kedua, mencabut kesalahan atau dosa dengan meminta ampun dengan cara beristigfar (iqla ‘anidzdzunub). Ketiga, komitmen tidak akan mengulangi perbuatan yang sama (al azmu ‘ala yatakarrar).

“Kalau tidak tahu, tidak dikenakan pembebanan hukum (hanya melakukan 3 hal di atas). Tapi untuk berikutnya ketika hendak memilih produk, harus menempuh langkah tabayyun atau verifikasi, apakah halal atau haram,” ujarnya.

Ni’am menjelaskan, hukum atas perbuatan tergantung kepada niatnya. Misal jika tak punya niat mencuri, tapi memakan makanan yang diketahui bukan haknya, maka hukumnya haram.

“Yang syubhat (belum diketahui halal haramnya) saja dilarang, apalagi yang jelas haram,” tegas Ni’am seperti dilansir kumparan.com, Minggu (18/6/2017).

Sebelumnya, BPOM RI secara resmi menyatakan empat produk mi instan asal Korea, positif mengandung babi. Keempat merek tersebut, adalah Samyang (U-Dong), Samyang (Kimchi), Nongshim, dan Ottogi yang diimpor PT Koin Bumi. (*/KT)

Iklan UBL