Disdikbud Buka SPMB Pendidikan Jarak Jauh Mulai 6 Juli, Sasar Anak Putus Sekolah Usia 16-18 Tahun
Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico. Foto: Dok.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) resmi membuka Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Tahun Ajaran 2026.
Program tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menekan angka anak tidak sekolah (ATS) dan memberikan kesempatan kedua bagi remaja yang putus sekolah maupun drop out (DO) agar dapat kembali mengenyam pendidikan.
Pendaftaran SPMB PJJ dibuka mulai 6 hingga 31 Juli 2026. Program ini diperuntukkan bagi masyarakat berusia 16 hingga 18 tahun atau belum genap 19 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan jenjang SMA.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan masyarakat yang memenuhi persyaratan dapat langsung mendaftar melalui tautan yang akan dibagikan melalui media sosial Disdikbud Provinsi Lampung maupun akun resmi sekolah penyelenggara.
"Mulai tanggal 6 Juli sampai 31 Juli kita membuka SPMB Pendidikan Jarak Jauh tahun 2026. Bagi anak-anak kita yang putus sekolah atau drop out dengan usia 16 sampai 18 tahun, tetapi belum berusia 19 tahun, silakan mendaftar," kata Thomas saat dimintai keterangan, Jumat (3/7/2026).
Pada tahap awal, pelaksanaan PJJ dipusatkan di empat sekolah negeri yang telah ditunjuk sebagai penyelenggara, yakni SMA Negeri 2 Bandar Lampung, SMA Negeri 1 Gunung Sugih Lampung Tengah, SMA Negeri 1 Pagar Dewa Lampung Barat, dan SMA Negeri 1 Rawajitu Selatan Tulang Bawang.
Thomas menjelaskan, meskipun proses pembelajaran dilakukan melalui sistem Pendidikan Jarak Jauh, peserta tetap akan memperoleh ijazah resmi dari sekolah penyelenggara.
"Misalnya mengikuti PJJ di SMA Negeri 2 Bandar Lampung, maka ijazah yang diterima adalah ijazah resmi SMA Negeri 2 Bandar Lampung," ujarnya.
Ia menuturkan, pembatasan usia dilakukan karena program tersebut memang difokuskan untuk menjangkau kelompok Anak Tidak Sekolah (ATS) yang selama ini menjadi perhatian pemerintah daerah.
Menurut Thomas, Lampung masih menghadapi persoalan tingginya angka putus sekolah dan anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Karena itu, Disdikbud menghadirkan program PJJ sebagai solusi agar mereka tetap dapat menyelesaikan pendidikan menengah.
"Kita memiliki target untuk menurunkan angka anak tidak sekolah dan angka putus sekolah. Karena itu, program ini memang diprioritaskan bagi mereka yang usianya 16 sampai 18 tahun," jelasnya.
Berdasarkan data Disdikbud Provinsi Lampung, jumlah anak putus sekolah di daerah itu mencapai sekitar 20.534 orang. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan angka tersebut dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
"Kami berharap paling tidak pada tahun 2028 angka putus sekolah di Lampung bisa turun drastis melalui dua program, yaitu Pendidikan Jarak Jauh dan SMA Terbuka," katanya.
Untuk tahap awal, masing-masing sekolah penyelenggara PJJ menyiapkan kuota minimal 60 peserta didik.
Selain Program Pendidikan Jarak Jauh, Disdikbud Provinsi Lampung juga akan meluncurkan Program SMA Terbuka yang dijadwalkan mulai berjalan pada Juli 2026.
Berbeda dengan PJJ, SMA Terbuka diperuntukkan bagi masyarakat berusia 18 hingga 21 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan SMA. Program tersebut akan dibuka di 15 sekolah yang tersebar di sejumlah kabupaten di Provinsi Lampung.
"Kalau PJJ menyasar usia 16 sampai 18 tahun, nanti SMA Terbuka untuk usia 18 sampai 21 tahun. Jadi semuanya kita jangkau agar semakin banyak anak yang bisa kembali bersekolah," ujar Thomas.
Ia menambahkan, masyarakat dapat melakukan pendaftaran di sekolah mana pun. Selanjutnya peserta akan diarahkan ke sekolah penyelenggara yang telah ditetapkan pemerintah agar proses administrasi dan pembelajaran lebih mudah.
Dalam pelaksanaannya, Program Pendidikan Jarak Jauh akan menggunakan Learning Management System (LMS) dengan metode pembelajaran blended learning, yakni memadukan pembelajaran daring dan tatap muka.
"Sekitar 70 persen kegiatan belajar dilakukan secara daring, sedangkan 30 persen lainnya dilaksanakan melalui tatap muka sesuai jadwal yang ditentukan sekolah," katanya.
Thomas berharap kehadiran Program Pendidikan Jarak Jauh dan SMA Terbuka menjadi solusi nyata bagi ribuan anak di Provinsi Lampung yang selama ini kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan formal.
"Kami ingin memastikan setiap anak di Lampung tetap memiliki kesempatan memperoleh pendidikan hingga jenjang SMA. Melalui dua program ini, kami berharap tidak ada lagi anak yang kehilangan masa depannya hanya karena putus sekolah," tutupnya. (*)
Berita Lainnya
-
Gunung Anak Krakatau Status Siaga, Masyarakat Diminta Tidak Mendekat 3 Km
Jumat, 03 Juli 2026 -
DPRD Lampung Barat Desak PT Star Energy Terbuka Soal Legalitas Proyek Panas Bumi
Jumat, 03 Juli 2026 -
Penyembelihan Tapir di Mesuji Bunuh Keadilan Ekologis, Akademisi Minta Pelaku Ditindak Tegas
Jumat, 03 Juli 2026 -
B50 Belum Masuk Lampung, Penyaluran Masih Bertahap di Sumbagsel
Jumat, 03 Juli 2026








