• Senin, 29 Juni 2026

Peringkat Daya Saing Indonesia Merosot ke Posisi 48, Pemerintah Siapkan Satgas

Senin, 29 Juni 2026 - 17.41 WIB
15

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Jakarta – Pemerintah bergerak merespons penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026 yang kini berada di posisi ke-48. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking guna mengatasi berbagai hambatan yang selama ini dinilai mengurangi daya saing dan menghambat investasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah telah memahami sejumlah faktor yang menyebabkan posisi Indonesia turun dalam pemeringkatan internasional tersebut. Menurutnya, Indonesia sebenarnya pernah mencatatkan capaian yang lebih baik dengan menempati peringkat ke-27 pada 2024. 

"Sebetulnya kita pernah menurunkan itu ke angka sampai ke 27, dan kenapa naik pun pemerintah kira-kira paham gitu. Jadi ini makanya Bapak Presiden minta dibentuk Satgas untuk di bottleneck," ujar Airlangga usai menghadiri Festival Kemudahan dan Perlindungan UMKM di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026) dikutip dari Detik.com.

Meski peringkat daya saing mengalami penurunan, Airlangga menegaskan kondisi tersebut belum memengaruhi minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Ia menyebut realisasi investasi pada triwulan pertama tahun ini bahkan melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah. Berbagai kawasan industri strategis, seperti di Jawa Timur, Kendal, Batang, hingga Bintan, juga masih terus mengalami ekspansi dan tingkat keterisian yang tinggi.

Menurut Airlangga, pemerintah optimistis iklim investasi akan semakin kompetitif seiring penyelesaian berbagai kerja sama internasional dan penyederhanaan regulasi. "Tetapi dengan Indonesia masuk dalam IEU-CEPA tahun depan, kemudian juga implementasi dari agreement on reciprocal tariff, dan juga dalam proses OECD. Ini saya yakin regulasinya akan terus kita perbaiki," beber Airlangga.

Ia juga mengungkapkan tingginya minat investor di sektor ekonomi digital, terutama pembangunan pusat data (data center). "Kita lihat contoh di kawasan ekonomi khusus Jawa Timur, nah itu kita juga sedang mengurus untuk ekspansi. Kemudian di Kendal, Batang itu juga sudah hampir 100% penuh lokasinya. Kemudian juga di dalam Batang di Bintan juga hampir penuh. Dan juga saya melihat minat dari sektor data center misalnya, itu ada demand tambahan sebesar 1,32 GW atau 1,2 GW yang sedang siap untuk masuk ke Indonesia," jelasnya.

Berdasarkan laporan IMD World Competitiveness Ranking 2026, posisi Indonesia turun delapan peringkat dari urutan ke-40 pada 2025 menjadi peringkat ke-48. Laporan tersebut menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pertumbuhan ekonomi, penyesuaian belanja pemerintah, keterbatasan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia, hingga akses pembiayaan yang dinilai belum optimal. 

Pemerintah berharap pembentukan Satgas Debottlenecking dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperbaiki iklim usaha sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tingkat global. (*)