Kasus Flu Burung H5N1 Terdeteksi di Australia, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan Lintas Sektor
Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung Menggunakan Joint Outbreak Investigation (Join) Tool Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Swissbell, Bandar Lampung, Senin (22/6/2026). Foto: Ist.
Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Kasus
flu burung H5N1 ditemukan di Australia untuk pertama kalinya. Penyakit ini
terdeteksi pada skua cokelat, spesies burung migran subantartika yang ditemukan
mati di Cape Le Grand National Park, Australia Barat.
Pemerintah Provinsi Lampung terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi
ancaman penyakit zoonosis melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dalam
acara Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung
Menggunakan Joint Outbreak Investigation (Join) Tool Provinsi Lampung Tahun
2026 di Hotel Swissbell, Bandar Lampung, Senin (22/6/2026).
Dalam sambutannya, Wagub Jihan menegaskan bahwa pengalaman pandemi coronavirus
disease of 2019 (Covid-19) memberikan pelajaran penting bahwa kedaruratan
kesehatan masyarakat tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga
memengaruhi perekonomian, pendidikan, mobilitas masyarakat, ketahanan sosial,
hingga kapasitas fiskal pemerintah.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian wabah sangat ditentukan oleh
kecepatan deteksi kasus, ketepatan notifikasi, serta koordinasi yang kuat antarinstansi
dan lintas sektor.
“Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa kecepatan sangat menentukan, data
sangat menentukan, dan koordinasi sangat menentukan keberhasilan pengendalian
wabah. Keterlambatan deteksi kasus, informasi yang terfragmentasi, dan respons
yang tidak terkoordinasi dapat memperpanjang dampak krisis,” ujarnya.
Wagub Jihan menekankan bahwa ancaman flu burung perlu mendapat perhatian
serius karena bukan sekadar persoalan kesehatan hewan, melainkan bagian dari
ancaman kesehatan masyarakat yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama.
Untuk itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia,
kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan menjadi kebutuhan operasional yang
harus diterapkan secara nyata.
“Ketika sinyal risiko muncul pada unggas maupun lingkungan, investigasi
harus dilakukan secara terpadu dan cepat. Karena itu, koordinasi menjadi kunci
dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian,” katanya.
Wagub Jihan menjelaskan bahwa investigasi wabah harus mencakup penelusuran
epidemiologis, pengambilan dan pemeriksaan spesimen, identifikasi faktor
risiko, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga pengambilan keputusan
berbasis bukti.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses tersebut membutuhkan sinergi yang kuat
antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, dan pemangku
kepentingan lainnya.
Menurutnya, JOIN Tool menjadi instrumen penting dalam memperkuat
investigasi terkoordinasi karena mampu membangun pemahaman situasi yang sama di
antara berbagai sektor.
Data yang dikumpulkan tidak boleh berhenti sebagai laporan sektoral, tetapi
harus menjadi dasar respons bersama yang cepat, tepat, dan akuntabel.
Lebih lanjut, Wagub Jihan menilai Lampung memiliki posisi strategis dalam
upaya penguatan kewaspadaan zoonosis dimana selain memiliki aktivitas peternakan
yang tinggi, Lampung juga menjadi salah satu daerah pemasok ternak dan produk
peternakan dengan mobilitas manusia maupun barang yang cukup intensif.
“Provinsi Lampung memiliki aktivitas peternakan, perdagangan, dan
konektivitas antarwilayah yang tinggi. Karena itu, kapasitas deteksi dini dan
respons terhadap penyakit zoonosis harus terus diperkuat,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, Wagub Jihan menyampaikan apresiasi
kepada CDC Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan, serta seluruh pihak yang
mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia berharap kolaborasi yang terbangun dapat semakin memperkuat kapasitas
bersama dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman zoonosis demi
terwujudnya ketahanan kesehatan masyarakat yang lebih baik di Provinsi Lampung.
Melalui pelatihan tersebut, Wagub Jihan juga berharap para peserta tidak
hanya memperoleh peningkatan kompetensi teknis dalam investigasi kasus, tetapi
juga membangun budaya kolaborasi lintas sektor yang kuat.
Ia meminta para peserta nantinya menjadi penggerak di wilayah masing-masing
dengan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada rekan
kerja, peternak, serta pemangku kepentingan terkait.
“Kesiapsiagaan dibangun ketika krisis belum terjadi, bukan saat krisis
datang. Pelatihan, simulasi, surveilans, pertukaran data, dan kepercayaan antar
lembaga merupakan investasi penting bagi ketahanan kesehatan Provinsi Lampung,”
tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ditektur Centers for Disease Control and
Prevention of the United States Rebecca D. Merrill menyampaikan bahwa influenza
burung dan penyakit zoonosis lainnya masih menjadi ancaman signifikan bagi
kesehatan masyarakat di Indonesia maupun kawasan regional.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat
pemahaman peserta mengenai investigasi wabah yang terkoordinasi lintas sektor,
meningkatkan keterampilan penggunaan JOIN Tool, serta mempersiapkan peserta
menjadi pelatih di daerah masing-masing.
Rebecca juga berharap integrasi data dan analisis lintas sektor yang
diperkuat melalui pelatihan tersebut dapat meningkatkan kapasitas daerah dalam
mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan ancaman zoonosis secara lebih efektif. (*)
Berita Lainnya
-
Tiga Penantang Kompak Mundur, Ary Meizari Terpilih Aklamasi Pimpin Apindo Lampung 2026–2031
Senin, 22 Juni 2026 -
Lampung Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular
Senin, 22 Juni 2026 -
Asesmen Lapangan BAN-PT, Rektor UIN RIL Dorong Prodi Hukum Keluarga Jadi Pusat Kajian Unggul
Senin, 22 Juni 2026 -
Pemprov Lampung Waspadai Fluktuasi Harga Pangan, Koordinasi Lintas Sektoral Diperkuat
Senin, 22 Juni 2026








