• Jumat, 12 Juni 2026

Ngejenang, Tradisi Gotong Royong Masyarakat Jawa di Tanggamus yang Bertahan di Era Modern

Jumat, 12 Juni 2026 - 15.14 WIB
35

Ngejenang, tradisi gotong royong masyarakat Jawa di Tanggamus yang bertahan di era modern. Foto: Sayuti/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Kepulan asap tipis membumbung dari tungku kayu bakar di halaman rumah warga, RT 002 RW 003, Pekon Talang Rejo, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, Jumat (12/6/2026).

Di atas tungku, sebuah kuali besar berisi adonan jenang terus diaduk perlahan menggunakan pengaduk kayu panjang. Sejumlah warga bergantian mengerjakan tugas yang membutuhkan tenaga dan kesabaran itu. Keringat yang membasahi wajah mereka tak mengurangi semangat. Tawa, candaan, dan obrolan hangat mengiringi proses memasak yang telah berlangsung selama berjam-jam.

Pemandangan tersebut merupakan bagian dari tradisi ngejenang, sebuah warisan budaya masyarakat Jawa yang hingga kini masih bertahan di Pekon Talang Rejo.

Bagi sebagian orang, ngejenang mungkin hanya dianggap sebagai kegiatan memasak jenang menjelang hajatan. Namun bagi warga setempat, tradisi itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ngejenang menjadi ruang silaturahmi, wadah gotong royong, sekaligus sarana menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Tradisi tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian acara hajatan salah satu warga setempat. Sejak pagi, warga berdatangan tanpa undangan resmi. Ada yang membantu menyiapkan bahan, mengurus kayu bakar, menata peralatan, hingga bergantian mengaduk jenang.

Tidak ada upah ataupun imbalan. Semua dilakukan atas dasar kebersamaan dan kesadaran bahwa hajatan satu keluarga adalah bagian dari kebahagiaan bersama warga kampung.

"Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini sudah ada sejak zaman orang tua dulu. Kalau ada hajatan, warga berkumpul membantu membuat jenang. Selain untuk kebutuhan acara, ini juga menjadi ajang mempererat persaudaraan," ujar Kasmin, salah seorang tokoh masyarakat setempat.

Menurutnya, jenang memiliki filosofi yang erat kaitannya dengan doa, keselamatan, dan harapan baik bagi keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan.

"Jenang itu simbol kebersamaan. Proses pembuatannya juga dilakukan bersama-sama. Dari situ kita diajarkan pentingnya guyub rukun dan saling membantu," katanya.

Pembuatan jenang bukan pekerjaan yang mudah. Adonan yang terdiri dari santan, tepung, dan gula harus terus diaduk selama berjam-jam agar menghasilkan tekstur yang sempurna dan tidak gosong. Karena itulah pekerjaan tersebut dilakukan secara bergantian oleh warga.

Namun di balik proses yang melelahkan itu, tumbuh nilai-nilai sosial yang menjadi kekuatan utama tradisi tersebut. Sambil mengaduk jenang, warga saling bertukar cerita tentang keluarga, pekerjaan, perkembangan kampung, hingga berbagai isu yang sedang hangat diperbincangkan.

Anak-anak bermain di sekitar halaman, sementara para orang tua menikmati suasana kebersamaan yang kini semakin jarang ditemukan di tengah kehidupan modern.

Sanimin, warga lainnya, menuturkan bahwa tradisi ngejenang dahulu hampir selalu hadir dalam setiap hajatan masyarakat Jawa. Namun seiring perkembangan zaman dan semakin mudahnya akses terhadap jasa katering, tradisi tersebut perlahan mulai berkurang.

"Kalau semua diserahkan ke jasa katering memang lebih praktis. Tapi yang hilang adalah kebersamaannya. Tradisi seperti ini yang membuat hubungan antarwarga tetap dekat," ujarnya.

Menurutnya, nilai utama dari tradisi ngejenang bukan terletak pada hasil masakannya, melainkan proses kebersamaan yang terbangun selama kegiatan berlangsung.

"Yang dicari bukan hanya jenangnya. Yang lebih penting adalah rasa kekeluargaan dan gotong royongnya. Itu yang tidak bisa digantikan oleh apa pun," kata Sanimin.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ngejenang menjadi bukti bahwa kemajuan zaman tidak selalu harus menghapus identitas budaya. Sebaliknya, tradisi sederhana ini justru menjadi cara masyarakat menjaga akar dan jati dirinya.

Bagi warga Talang Rejo, setiap adukan jenang bukan sekadar mengolah bahan makanan menjadi hidangan tradisional. Di dalamnya tersimpan nilai kebersamaan, kepedulian, persaudaraan, dan semangat gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika jenang akhirnya matang dan siap disajikan, yang tersaji bukan hanya makanan bercita rasa manis. Ada cerita tentang warga yang saling membantu tanpa pamrih, tentang budaya yang tetap dijaga, dan tentang harapan agar warisan leluhur itu terus hidup di tengah perubahan zaman.

Di Talang Rejo, ngejenang bukan sekadar tradisi menjelang hajatan. Ia adalah cara masyarakat merawat kebersamaan dan menjaga api gotong royong agar tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*)

Editor : Erik Handoko