BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang. Foto: CNN
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S.
Deyang memastikan pihaknya akan mengevaluasi skema insentif operasional sebesar
Rp6 juta per hari yang selama ini diberikan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan
Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Evaluasi dilakukan di tengah penataan ulang program MBG setelah muncul
temuan pembengkakan jumlah titik dapur serta dugaan pemborosan anggaran yang
disorot pemerintah.
"Ya, insentif Rp6 juta (per hari tiap SPPG) akan kami evaluasi,"
kata Nanik dikutip CNNIndonesia.com, Jumat (12/6/2026).
Nanik menegaskan evaluasi tersebut tak akan berdampak pada anggaran bahan
baku makanan Rp10 ribu per porsi bagi penerima manfaat program MBG. Menurut
dia, komponen insentif operasional dapur berbeda dengan alokasi biaya bahan
baku makanan.
"Rp10 ribu (per porsi) itu kan bahan baku, tidak ada kaitannya dengan
(insentif) Rp6 juta per hari. Kita evaluasi insentif Rp6 juta supaya
efisien," ujarnya.
Ia juga enggan menanggapi lebih jauh ketika dimintai komentar terkait
temuan Kejaksaan Agung (Kejagung) yang menyebut dana insentif operasional SPPG
diduga sempat dimanfaatkan oleh sejumlah eks pejabat BGN yang kini berstatus
tersangka korupsi.
"Wah, enggak tahu saya soal (insentif Rp6 juta) dipakai eks pejabat,
tanya Kejagung dong, masa tanya sama saya," kata Nanik.
Rencana evaluasi insentif SPPG Rp6 juta per hari tersebut muncul setelah
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengungkap adanya
potensi pemborosan anggaran dalam pelaksanaan program MBG akibat membengkaknya
jumlah titik dapur.
Menurut Zulhas, jumlah titik dapur MBG yang semula direncanakan sekitar 21
ribu bertambah menjadi 27.877 titik. Artinya terdapat tambahan sekitar 6.877
titik dari rencana awal.
Dengan skema insentif Rp6 juta per hari untuk setiap dapur, penambahan
ribuan titik tersebut berpotensi menimbulkan pengeluaran lebih dari Rp1 triliun
per bulan.
"Nah, ada membengkak 6.877 titik. Kalau Rp6 juta satu hari, maka satu
bulan ada pengeluaran lebih dari Rp1 triliun pemborosan," ujar Zulhas.
Selain itu, pemerintah juga menemukan jumlah titik dapur di wilayah
tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) meningkat jauh di atas kebutuhan awal.
Dari perkiraan sekitar 2.000 titik, jumlahnya disebut membengkak menjadi 8.617
titik.
Di sisi lain, skema insentif Rp6 juta per hari juga menjadi perhatian dalam
penyidikan dugaan korupsi tata kelola MBG yang tengah ditangani Kejaksaan
Agung.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejagung Syarief
sebelumnya menyebut para tersangka diduga memanfaatkan skema dana insentif
operasional SPPG untuk memperoleh keuntungan pribadi.
"Kurang lebih yang (insentif SPPG) Rp6 juta itu. Yang per hari
kan," kata Syarief di Kejagung Jakarta, Kamis (4/6).
Insentif Rp6 juta per hari sendiri diatur dalam Keputusan Kepala BGN Nomor
244 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan
Pemerintah Program MBG Tahun Anggaran 2025.
Dalam aturan tersebut, insentif diberikan dengan skema availability-based
atau berbasis ketersediaan layanan. Artinya, dana diberikan untuk menjamin
kesiapsiagaan dan operasional dapur MBG, bukan berdasarkan jumlah porsi makanan
yang disalurkan.
Sebelumnya, eks Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut skema tersebut dirancang sebagai kompensasi bagi mitra yang menanggung investasi pembangunan dapur dan berbagai risiko operasional tanpa menggunakan dana APBN. (*)
Berita Lainnya
-
Polisi Gagalkan Penyusup Bawa Bom Molotov ke Aksi Mahasiswa di Jakarta
Jumat, 12 Juni 2026 -
BEM UI Demo di Bundaran HI, Diikuti 3.000 Orang Bawa Lima Tuntutan
Jumat, 12 Juni 2026 -
Kejagung Tetapkan Asep Yusuf Tersangka, Diduga Jadi Aktor Pengatur Mitra Program MBG
Kamis, 11 Juni 2026 -
PTPN I Buka Jalan Akses Lahan Tebu Rakyat di Ogan Ilir
Kamis, 11 Juni 2026








