Mikdar: Kehadiran Dua Pabrik Bioetanol di Lampung Kabar Baik Bagi Petani
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas. Foto: Sandika/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Rencana
pembangunan dua pabrik bioetanol di Provinsi Lampung disambut positif oleh DPRD
Lampung. Investasi tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperkuat
hilirisasi komoditas unggulan daerah sekaligus membuka harapan baru bagi petani
singkong agar memperoleh harga jual yang lebih baik.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung dari
Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas, mengatakan Lampung memiliki potensi besar untuk
menjadi pusat pengembangan industri bioetanol nasional. Pasalnya, Lampung
selama ini dikenal sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan
kontribusi sekitar 70 persen terhadap produksi nasional.
Menurutnya, pembangunan dua pabrik bioetanol yang
menjadi bagian dari program hilirisasi nasional pemerintahan Presiden Prabowo
Subianto akan meningkatkan kebutuhan bahan baku dari sektor pertanian,
khususnya singkong.
"Kalau pabrik bertambah, kebutuhan singkong
juga meningkat. Dampaknya harga menjadi lebih kompetitif dan petani bisa
mendapatkan keuntungan yang lebih baik," kata Mikdar, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, selama ini petani singkong kerap
menghadapi persoalan fluktuasi harga akibat terbatasnya industri yang menyerap
hasil panen. Dengan hadirnya dua pabrik bioetanol baru, persaingan dalam
penyerapan bahan baku diperkirakan semakin terbuka sehingga dapat berdampak
positif terhadap harga di tingkat petani.
Mikdar menambahkan, Lampung juga telah memiliki
regulasi yang mengatur harga dasar singkong melalui Peraturan Daerah dan
Peraturan Gubernur. Saat ini harga minimal singkong ditetapkan sebesar Rp1.350
per kilogram untuk usia panen delapan bulan.
"Kehadiran industri bioetanol akan memberikan
nilai tambah terhadap komoditas singkong. Ini bukan hanya soal produksi
pertanian, tetapi juga penguatan sektor industri berbasis pertanian,"
ujarnya.
Selain singkong, bioetanol juga dapat diproduksi
dari tebu dan jagung. Kedua komoditas tersebut juga menjadi sektor pertanian
yang cukup berkembang di Lampung, sehingga peluang pengembangan industri energi
terbarukan dinilai semakin terbuka.
Terkait rencana pembangunan pabrik di Kabupaten
Pesawaran dan Lampung Selatan, Mikdar menyatakan DPRD mendukung lokasi yang
telah ditetapkan pemerintah. Meski demikian, ia berharap salah satu pabrik
dapat dibangun lebih dekat dengan sentra produksi singkong seperti Lampung
Tengah, Lampung Utara, atau Tulang Bawang.
Menurutnya, kedekatan lokasi industri dengan pusat
produksi akan menekan biaya distribusi bahan baku, meningkatkan efisiensi
usaha, serta memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani.
"Kalau pabrik dekat dengan sentra singkong,
biaya angkut bisa ditekan. Petani juga lebih diuntungkan karena rantai
distribusi menjadi lebih pendek," katanya.
Mikdar menegaskan pihaknya siap mengawal realisasi
investasi tersebut agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,
khususnya petani.
"Ini bisa menjadi momentum kebangkitan
ekonomi pertanian Lampung. Kami berharap investasi ini segera terealisasi dan
berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan ribuan petani singkong,"
pungkasnya. (**)
Berita Lainnya
-
Akui Perbuatan dan Ajukan Justice Collaborator, Heri Wardoyo Dituntut Lebih Ringan dari Terdakwa Lainnya
Selasa, 09 Juni 2026 -
Tiga Terdakwa Korupsi Dana PI PT LEB Dituntut 4 hingga 10 Tahun Penjara
Selasa, 09 Juni 2026 -
Mahasiswa Akuntansi Universitas Teknokrat Indonesia Gelar PKM Praktik Kesekretarisan di SMKN 1 Tegineneng
Selasa, 09 Juni 2026 -
Wamen Investasi dan Hiliriasi Sebut Lampung Salah Satu Daerah Prioritas Pengembangan Bioetanol Nasional
Selasa, 09 Juni 2026








