• Selasa, 09 Juni 2026

Mikdar: Kehadiran Dua Pabrik Bioetanol di Lampung Kabar Baik Bagi Petani

Selasa, 09 Juni 2026 - 16.48 WIB
17

‎‎Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas. Foto: Sandika/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, ‎Bandar Lampung - Rencana pembangunan dua pabrik bioetanol di Provinsi Lampung disambut positif oleh DPRD Lampung. Investasi tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperkuat hilirisasi komoditas unggulan daerah sekaligus membuka harapan baru bagi petani singkong agar memperoleh harga jual yang lebih baik.

‎‎Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi Gerindra, Mikdar Ilyas, mengatakan Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan industri bioetanol nasional. Pasalnya, Lampung selama ini dikenal sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 70 persen terhadap produksi nasional.

‎‎Menurutnya, pembangunan dua pabrik bioetanol yang menjadi bagian dari program hilirisasi nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan meningkatkan kebutuhan bahan baku dari sektor pertanian, khususnya singkong.

‎‎"Kalau pabrik bertambah, kebutuhan singkong juga meningkat. Dampaknya harga menjadi lebih kompetitif dan petani bisa mendapatkan keuntungan yang lebih baik," kata Mikdar, Selasa (9/6/2026).

‎‎Ia menjelaskan, selama ini petani singkong kerap menghadapi persoalan fluktuasi harga akibat terbatasnya industri yang menyerap hasil panen. Dengan hadirnya dua pabrik bioetanol baru, persaingan dalam penyerapan bahan baku diperkirakan semakin terbuka sehingga dapat berdampak positif terhadap harga di tingkat petani.

‎‎Mikdar menambahkan, Lampung juga telah memiliki regulasi yang mengatur harga dasar singkong melalui Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur. Saat ini harga minimal singkong ditetapkan sebesar Rp1.350 per kilogram untuk usia panen delapan bulan.

‎‎"Kehadiran industri bioetanol akan memberikan nilai tambah terhadap komoditas singkong. Ini bukan hanya soal produksi pertanian, tetapi juga penguatan sektor industri berbasis pertanian," ujarnya.

‎‎Selain singkong, bioetanol juga dapat diproduksi dari tebu dan jagung. Kedua komoditas tersebut juga menjadi sektor pertanian yang cukup berkembang di Lampung, sehingga peluang pengembangan industri energi terbarukan dinilai semakin terbuka.

‎‎Terkait rencana pembangunan pabrik di Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan, Mikdar menyatakan DPRD mendukung lokasi yang telah ditetapkan pemerintah. Meski demikian, ia berharap salah satu pabrik dapat dibangun lebih dekat dengan sentra produksi singkong seperti Lampung Tengah, Lampung Utara, atau Tulang Bawang.

‎‎Menurutnya, kedekatan lokasi industri dengan pusat produksi akan menekan biaya distribusi bahan baku, meningkatkan efisiensi usaha, serta memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani.

‎‎"Kalau pabrik dekat dengan sentra singkong, biaya angkut bisa ditekan. Petani juga lebih diuntungkan karena rantai distribusi menjadi lebih pendek," katanya.

‎‎Mikdar menegaskan pihaknya siap mengawal realisasi investasi tersebut agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya petani.

‎‎"Ini bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi pertanian Lampung. Kami berharap investasi ini segera terealisasi dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan ribuan petani singkong," pungkasnya. (**)