• Rabu, 03 Juni 2026

Lolos Unila, Putri Buruh Harian di Bandar Lampung Kini Dihantui Biaya Kuliah

Rabu, 03 Juni 2026 - 14.16 WIB
33

Bintang Sita Aulia (18), saat didampingi kedua orang tua nya, Rabu (3/6/2026). Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kabar diterima di perguruan tinggi negeri menjadi momen yang membahagiakan bagi banyak keluarga. Namun bagi Bintang Sita Aulia (18), kebahagiaan itu masih dibayangi kecemasan.

Bintang tinggal di Jalan Romojoyo, Gg Duren, no 154 Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Tanjungkarang Timur, kota Bandar Lampung.

Putri sulung pasangan Mustakim (47) dan Septiana (44) tersebut berhasil lolos masuk Universitas Lampung (Unila) melalui jalur tes.

Ia diterima di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, jurusan yang memang telah lama diimpikannya.

Di balik prestasi tersebut, tersimpan perjuangan panjang keluarga sederhana yang selama ini bertahan dari penghasilan ayahnya sebagai buruh harian lepas.

"Kami sangat bersyukur anak kami bisa diterima di Unila. Dia memang anak yang rajin dan berprestasi. Tapi sampai sekarang kami masih bingung soal biaya kuliahnya," ujar Septiana saat ditemui di kediamannya, Rabu (3/6/2026).

Selama ini, kata Septiana, keluarga mereka belum pernah menerima bantuan pendidikan maupun bantuan sosial seperti Program Indonesia Pintar (PIP) atau Program Keluarga Harapan (PKH).

Padahal, berbagai persyaratan dan data yang dibutuhkan untuk mendapatkan bantuan telah beberapa kali mereka ajukan.

"Kami sudah mencoba mengurus berbagai persyaratan untuk bantuan pemerintah, tapi sampai sekarang belum pernah dapat. Bahkan bantuan PKH juga tidak pernah dapat," katanya.

Mustakim, sang suami, bekerja sebagai buruh harian lepas. Penghasilannya tidak menentu dan bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.

"Suami saya cuma buruh harian. Kalau ada pekerjaan ya bekerja, kalau tidak ada ya tidak ada penghasilan. Bahkan kadang bisa berbulan-bulan kalau sedang sepi pekerjaan," tutur Septiana.

Sementara dirinya hanya seorang ibu rumah tangga yang sesekali membantu memasak di rumah kerabat untuk menambah penghasilan keluarga.

Pasangan tersebut memiliki dua anak. Bintang merupakan anak pertama, sedangkan adiknya saat ini masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas, Septiana berharap ada perhatian dari pemerintah agar putrinya dapat melanjutkan pendidikan tinggi.

"Saya hanya berharap ada bantuan untuk anak saya supaya bisa kuliah. Dia sudah berjuang keras dan berhasil masuk lewat jalur tes. Semoga ada jalan untuk kami," ucapnya.

Bagi Bintang, diterima di Unila bukan sekadar pencapaian akademik. Ia memiliki mimpi besar untuk mengangkat derajat keluarganya melalui pendidikan.

"Saya ingin jadi guru dan membanggakan orang tua. Saya ingin membantu Ayah dan Bunda yang selama ini sudah bekerja keras untuk saya," katanya.

Ketertarikannya pada Bahasa Lampung tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang suku Jawa dan Palembang, Bintang mengaku sangat menyukai pelajaran Bahasa Lampung dan bercita-cita menjadi pendidik di bidang tersebut.

Namun di tengah rasa syukur karena berhasil lolos ke perguruan tinggi negeri, ada kekhawatiran yang terus menghantui.

Ia mengaku belum mengetahui besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayarkan. Informasi tersebut baru akan diumumkan dalam waktu dekat.

"Saya senang sekali waktu dinyatakan lulus. Rasanya terharu. Tapi setelah itu langsung kepikiran biaya kuliah. Takut kalau orang tua tidak sanggup membayar UKT," ungkapnya.

Bintang berharap dapat memperoleh bantuan pendidikan agar cita-citanya menjadi guru tidak terhenti di tengah jalan.

Di rumah sederhana tempat ia tumbuh, mimpi besar itu kini bergantung pada satu harapan: kesempatan untuk tetap bisa mengenyam pendidikan tinggi dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)