Desa Tidak Bertransaksi Dolar, Akademisi UBL Nilai UMKM Tetap Rentan Dampak Global
Akademisi Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Bandar Lampung (UBL), Niki Agus Santoso, S.A.B.,M.Si. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari memang mencerminkan realitas transaksi domestik masyarakat Indonesia. Meski demikian, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap memiliki keterkaitan kuat dengan dinamika ekonomi global yang memengaruhi stabilitas dan keberlanjutan usaha di daerah.
Pandangan tersebut disampaikan akademisi Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Bandar Lampung (UBL), Niki Agus Santoso, S.A.B.,M.Si dalam kajiannya mengenai pengaruh ekonomi global terhadap sektor UMKM nasional, khususnya di daerah berbasis agribisnis dan ekonomi kreatif seperti Lampung.
Menurut Niki, masyarakat desa memang tidak melakukan transaksi menggunakan dolar secara langsung. Namun dalam struktur ekonomi modern yang saling terintegrasi, perubahan nilai tukar mata uang global tetap memiliki implikasi terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
“Pernyataan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar memang benar dalam konteks transaksi sehari-hari. Akan tetapi, dalam sistem ekonomi yang semakin terbuka dan terkoneksi, fluktuasi nilai tukar dolar tetap memberikan pengaruh terhadap biaya produksi, distribusi, harga bahan baku, hingga daya beli masyarakat,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa UMKM Indonesia saat ini tidak lagi berada dalam sistem ekonomi tertutup. Sebagian besar sektor usaha telah terhubung dengan rantai pasok nasional maupun global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kondisi tersebut menyebabkan perubahan ekonomi internasional turut berdampak terhadap aktivitas usaha di tingkat lokal.
Pada sektor kuliner misalnya, kenaikan nilai dolar dapat memengaruhi harga bahan baku, kemasan, hingga peralatan produksi yang masih bergantung pada pasar global. Dampak serupa juga dirasakan sektor fesyen, konveksi, kerajinan, jasa, pertanian, hingga peternakan.
Menurutnya, pelaku UMKM di Lampung juga menghadapi tantangan serupa seiring meningkatnya keterhubungan pasar lokal dengan sistem perdagangan dan distribusi yang lebih luas.
“Pelaku UMKM kopi di Lampung misalnya, tidak hanya menghadapi tantangan dalam proses produksi, tetapi juga pada aspek pengemasan, distribusi, pemasaran, dan pengembangan pasar. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi lokal tetap memiliki keterkaitan erat dengan dinamika ekonomi global,” katanya.
Niki menilai salah satu dampak yang paling dirasakan pelaku UMKM saat ini adalah semakin menyempitnya margin keuntungan akibat meningkatnya berbagai komponen biaya operasional. Di sisi lain, pelaku usaha tidak selalu memiliki ruang untuk menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat.
Akibat tekanan tersebut, banyak pelaku UMKM mulai melakukan langkah adaptif melalui efisiensi usaha, inovasi produk, diversifikasi bisnis, serta penguatan strategi pemasaran berbasis digital untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Di tengah tantangan ekonomi global, ia menilai kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.
“Yang lebih penting bukan sekadar apakah masyarakat menggunakan dolar atau tidak, melainkan bagaimana Indonesia mampu membangun ekosistem usaha yang kuat, produktif, inovatif, dan berdaya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global,” jelasnya.
Lebih lanjut, Niki menegaskan bahwa penguatan penggunaan bahan baku lokal, percepatan digitalisasi usaha, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan media menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan UMKM nasional.
“Ketahanan UMKM akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dan daya tahan ekonomi nasional, baik pada masa pertumbuhan ekonomi maupun ketika menghadapi tekanan dan ketidakpastian global,” pungkasnya. (**)
Berita Lainnya
-
Kementan Percepat Tanam Oplah dan CSR untuk Jaga Produksi Pangan
Sabtu, 23 Mei 2026 -
Kementan Siapkan Anak Muda Jadi Motor Pertanian Modern Indonesia
Sabtu, 23 Mei 2026 -
Sistem Kelistrikan Lampung Pulih 100 Persen Pascagangguan Interkoneksi Sumatra
Sabtu, 23 Mei 2026 -
BGN Catat 55 Persen SPPG Sudah Kantongi Sertifikat Higienis
Sabtu, 23 Mei 2026








