• Jumat, 22 Mei 2026

Perdana Muncul ke Publik, Dua Bayi Harimau Sumatera di Lampung Diberi Nama Puspa dan Muli Sikop

Jumat, 22 Mei 2026 - 13.10 WIB
19

Salah satu anak harimau yang baru lahir di Taman Satwa Lembah Hijau. Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Dua anak Harimau Sumatera yang lahir di Taman Satwa Lembah Hijau untuk pertama kalinya diperlihatkan langsung kepada publik, Jumat (22/5/2026).

Dalam momen tersebut, kedua bayi harimau betina itu resmi diberi nama Puspa dan Muli Sikop. Nama Puspa diberikan langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, sementara nama Muli Sikop diberikan oleh Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko.

Dua bayi harimau tersebut lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan Harimau Sumatera Kyai Batua dan Sinta. Kelahiran keduanya menjadi sejarah baru karena merupakan keberhasilan pertama program konservasi ex-situ Harimau Sumatera di Provinsi Lampung.

Nama Puspa memiliki arti bunga yang melambangkan keindahan dan kecantikan. Sedangkan Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang berarti gadis cantik.

Gubernur Mirza mengaku bersyukur atas lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang dinilai menjadi harapan baru bagi pelestarian satwa langka Indonesia.

“Alhamdulillah, Lampung mendapatkan kabar bahagia dengan lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang sehat. Ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan bersama mampu memberikan harapan bagi kelestarian satwa langka Indonesia,” ujar Mirza.

Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, dan pihak Lembah Hijau dalam menjaga satwa dilindungi.

Mirza juga menyoroti kisah kedua induk harimau yang sebelumnya menjadi korban jerat liar di habitatnya masing-masing.

Kyai Batua, induk jantan, diselamatkan pada 2019 setelah terkena jerat di Lampung Barat. Akibat luka parah, kaki kanan depannya harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya.

Sementara induk betina, Sinta, mengalami kejadian serupa setelah terkena jerat di Bengkulu pada akhir 2024 hingga kaki kanan belakangnya juga harus diamputasi sebelum dirawat di Lembah Hijau.

“Kisah Kyai Batua dan Sinta menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ancaman jerat liar masih nyata dan membahayakan satwa dilindungi. Karena itu menjaga hutan dan satwa liar harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Mirza menyebut lahirnya dua anak harimau dari induk yang sama-sama bertahan hidup dengan tiga kaki menjadi simbol keberhasilan konservasi dan ketulusan para perawat satwa.

“Ini bukan hanya tentang kelahiran satwa, tetapi juga tentang harapan dan semangat untuk terus menjaga kekayaan alam Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Satyawan Pudyatmoko mengatakan ancaman terhadap Harimau Sumatera hingga kini masih sangat tinggi, terutama akibat pemasangan jerat di kawasan hutan.

“Jerat tidak mengenal jenis satwa. Walaupun tujuannya untuk menangkap babi hutan, jika yang terkena harimau maka dampaknya tetap sama dan sangat membahayakan,” ujarnya.

Ia menegaskan Lampung masih menjadi salah satu habitat penting Harimau Sumatera sehingga diperlukan dukungan semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi memasang jerat liar.

Dalam kesempatan itu, Mirza juga berinteraksi dan berfoto bersama Gajah Sumatera bernama Mega dan anaknya, Rawana.

Sementara Komisaris Taman Satwa Lembah Hijau Lampung, M Irwan Nasution memastikan kondisi kedua bayi harimau dalam keadaan sehat dan masih dalam pengasuhan induknya.

“Terus dalam pantauan tim dari Lembah Hijau dan selalu bersama induknya. Jadi masih terus dalam asuhan induknya,” kata Irwan.

Ia menjelaskan, pengunjung nantinya akan dapat melihat kedua bayi harimau tersebut secara bertahap sesuai usia dan kondisi satwa.

“Mungkin awalnya hanya dari jam 8 sampai jam 10 pagi, lalu bertahap diperpanjang. Kita juga menjaga agar harimau tidak kaget dan tetap mendapatkan sinar matahari pagi untuk vitamin D,” jelasnya.

Untuk menjaga kesehatan bayi harimau, pihak pengelola menerapkan area terbatas yang hanya bisa diakses keeper, paramedis, dan manajer satwa. Selain itu, kandang rutin disterilkan, bayi harimau juga menjalani vaksinasi, pemeriksaan kesehatan, hingga pemasangan microchip.

Irwan menambahkan, Lembah Hijau akan terus mendukung program konservasi Harimau Sumatera bersama pemerintah demi menjaga kelestarian satwa langka tersebut. (*)