• Senin, 11 Mei 2026

Investasi Bandar Lampung Tembus Rp744,6 Miliar, Pergudangan, Komunikasi dan Hotel Jadi Primadona Investor

Senin, 11 Mei 2026 - 14.03 WIB
26

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandar Lampung, Febriana. Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Realisasi investasi di Kota Bandar Lampung pada triwulan I tahun 2026 mencapai Rp744,6 miliar. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap Bandar Lampung sebagai kota jasa dan perdagangan sekaligus ibukota Lampung.

Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih mendominasi sebesar Rp530,4 miliar, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp214,2 miliar.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandar Lampung, Febriana, mengatakan capaian itu menjadi sinyal positif terhadap iklim usaha di Bandar Lampung yang dinilai masih menjanjikan bagi investor.

“Pertumbuhan investasi ini menjadi indikator positif bahwa Bandar Lampung masih menjadi daerah tujuan investasi yang menarik, baik bagi investor dalam negeri maupun asing,” ujar Febriana, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, investasi di Bandar Lampung masih didominasi sektor tersier atau jasa dengan kontribusi mencapai 70,39 persen. Sementara sektor sekunder sebesar 28,24 persen dan sektor primer hanya 1,37 persen.

Menurutnya, dominasi sektor jasa menunjukkan aktivitas ekonomi perkotaan terus berkembang, terutama di bidang perdagangan, transportasi, komunikasi hingga perhotelan.

“Karakteristik Bandar Lampung sebagai kota jasa dan perdagangan membuat sektor tersier masih menjadi penyumbang investasi terbesar,” katanya.

Berdasarkan data DPMPTSP, subsektor transportasi, pergudangan dan komunikasi menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp159,1 miliar. Posisi berikutnya ditempati hotel dan restoran sebesar Rp154,8 miliar, jasa lainnya Rp140,6 miliar, industri kayu Rp111,1 miliar, serta industri makanan Rp92,1 miliar.

Febriana menilai tingginya investasi pada sektor transportasi dan perhotelan menjadi indikator meningkatnya mobilitas masyarakat dan geliat ekonomi di Bandar Lampung.

“Ini menandakan geliat usaha di Bandar Lampung terus tumbuh, apalagi kota ini menjadi pintu gerbang Sumatra,” jelasnya.

Sementara untuk investasi asing, Singapura menjadi negara dengan kontribusi terbesar dengan nilai mencapai Rp195,3 miliar. Disusul India Rp11,1 miliar, Malaysia Rp4,7 miliar, Jepang Rp781 juta, dan Spanyol Rp581 juta.

Menurut Febriana, dominasi investasi asal Singapura tidak terlepas dari kuatnya hubungan bisnis dan berkembangnya sektor jasa di Bandar Lampung.

Ia berharap realisasi investasi terus meningkat hingga akhir tahun 2026 guna mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.

“Kami terus berupaya memberikan pelayanan perizinan yang cepat dan mudah agar investor semakin nyaman berinvestasi di Bandar Lampung,” tandasnya. (*)