• Senin, 11 Mei 2026

Dharma Setyawan: UMKM Jangan Hanya Jual Produk, Tapi Bangun Nilai dan Emosi

Senin, 11 Mei 2026 - 14.14 WIB
45

Founder Payungi, Dharma Setyawan (tengah, bertopi koboy) saat menjadi pemateri dalam kegiatan Creative Talk bertajuk Kolaborasi Desain untuk Daya Saing Global. Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Di tengah ketatnya persaingan ekonomi dan derasnya arus digitalisasi, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Metro diingatkan agar tidak lagi hanya berpikir soal produk dan penjualan semata. Lebih dari itu, UMKM dituntut mampu membangun identitas, nilai, hingga pengalaman emosional yang mampu melekat di benak masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Founder Payungi, Dharma Setyawan saat menjadi pemateri dalam kegiatan Creative Talk bertajuk Kolaborasi Desain untuk Daya Saing Global yang dirangkai dengan pengukuhan pengurus Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah Mikro Nusantara (APIMSA) Kota Metro di Ballroom Aidia Grande Metro, Senin (11/5/2026).

Dalam pemaparannya, Dharma menegaskan bahwa desain bukan sekadar soal tampilan visual atau keindahan semata. Menurutnya, desain merupakan bahasa yang mampu berbicara tanpa kata dan menjadi alat penting dalam membangun daya saing ekonomi masyarakat.

“Jadi design itu adalah bicara tanpa kata. Ia menyampaikan pesan, identitas dan emosi melalui bentuk, warna dan tipografi. Secara fundamental, intisari design bukan sekadar tentang estetika atau bagaimana sesuatu terlihat, melainkan tentang proses pemecahan masalah dan penciptaan nilai,” kata Dharma.

Pernyataan itu menjadi kritik halus terhadap cara sebagian pelaku usaha maupun pemerintah yang masih memandang desain hanya sebatas pemanis produk. Padahal, dalam persaingan ekonomi modern, kekuatan identitas justru menjadi pembeda utama antara produk yang bertahan dan yang tenggelam di pasar.

Dharma menjelaskan, inti dari desain modern adalah keberpihakan terhadap manusia. Seorang desainer, kata dia, tidak bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memahami kebutuhan orang lain, membaca kesulitan pengguna, hingga memastikan sebuah produk dapat diakses dan diterima oleh banyak kalangan.

“Inti dari design modern adalah keberpihakan pada manusia. Designer tidak merancang untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Memahami masalah, mengidentifikasi kesulitan yang dialami pengguna. Inklusivitas memastikan hasil design dapat diakses,” ujarnya.

Ia menambahkan, fungsi memang menjadi unsur utama dalam sebuah desain, namun estetika tetap memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan dan kenyamanan masyarakat terhadap sebuah produk maupun informasi.

“Meskipun fungsi adalah yang utama, keindahan memberikan pengalaman emosional. Estetika dalam design berfungsi untuk menarik perhatian, membangun kepercayaan dan kredibilitas serta menciptakan kenyamanan saat berinteraksi dengan produk atau informasi,” lanjutnya.

Dalam forum tersebut, Dharma juga menyinggung pentingnya membangun identitas lokal sebagai kekuatan ekonomi baru daerah. Menurutnya, sesuatu yang lahir dari lokalitas harus mampu ditampilkan secara kuat dan percaya diri agar memiliki daya saing lebih luas.

“Sesuatu yang lokal harus dibikin vokal. Kesuksesan placemaking tidak bergantung pada kemewahan struktur baru, melainkan pada kejelian merespons konteks,” tegasnya.

Pernyataan tersebut seolah menjadi sindiran terhadap pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada proyek fisik dan kemewahan infrastruktur, namun kerap melupakan identitas lokal masyarakatnya sendiri.

Di hadapan para pelaku UMKM, Dharma juga mengingatkan bahwa naik kelasnya sebuah usaha tidak semata ditentukan oleh besar kecilnya modal atau luasnya tempat usaha. Menurutnya, faktor manusia tetap menjadi unsur paling penting dalam pertumbuhan UMKM.

“Faktanya tidak semua UMKM punya ruang yang luas. Kalau UMKM mau naik kelas, yang paling penting adalah membangun manusianya, bukan hanya produknya. UMKM mau naik kelas, itu perlu kolaborasi kita semua,” ucapnya.

Ia mencontohkan bagaimana konsistensi yang dibangun Payungi selama ini bertumpu pada penciptaan nilai dan kekuatan desain. Menurutnya, sesuatu yang menarik perhatian publik akan lebih mudah ditiru dan berkembang.

“Konsistensi Payungi itu dari penciptaan nilai dan design. Jadi yang menarik perhatian, itu yang akan ditiru. Sehingga kalau UMKM mau naik kelas, perlu ada manusia yang mau mengurusnya,” pungkasnya.

Sementara itu, narasumber lainnya, Iwan Susilo selaku Leader Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Syariah Indonesia menjelaskan berbagai kemudahan akses pembiayaan usaha bagi pelaku UMKM melalui program KUR.

Menurutnya, banyak pelaku usaha sebenarnya memiliki potensi berkembang, namun terkendala keberanian dan kemampuan dalam mengakses pembiayaan perbankan secara sehat dan produktif.

“KUR ini hadir untuk membantu pelaku UMKM agar bisa berkembang. Tetapi yang paling penting bukan hanya pinjamannya, melainkan bagaimana usaha itu dikelola dengan baik sehingga bisa tumbuh dan berkelanjutan,” ujar Iwan.

Ia juga mengingatkan para pelaku usaha agar tidak hanya fokus mencari tambahan modal, namun harus mulai membangun tata kelola usaha yang sehat, disiplin administrasi, serta mampu membaca peluang pasar.

“Kalau usahanya bagus, tertata dan punya pasar yang jelas, akses pembiayaan itu sebenarnya lebih mudah. Jadi UMKM hari ini harus mulai berani naik kelas dan profesional,” tandasnya.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara gagasan kreatif, penguatan ekonomi lokal dan dorongan kolaborasi lintas sektor dalam membangun UMKM yang lebih mandiri dan berdaya saing di Kota Metro. (*)