• Rabu, 06 Mei 2026

Ekspor Tapioka Lampung Capai 7.600 Ton, Karantina Tekankan Kualitas Jadi Kunci Tembus Pasar Global

Selasa, 05 Mei 2026 - 14.34 WIB
54

Pelepasan secara resmi ekspor tapioka perdana di Pelabuhan Panjang, Selasa (5/5/2026). Foto: Ria/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Komoditas singkong terus menunjukkan peran strategis bagi perekonomian Provinsi Lampung, khususnya dalam mendukung industri hilirisasi tepung tapioka yang kini semakin berkembang dan berdaya saing global.

Hal tersebut disampaikan Plt Deputi Bidang Karantina Tumbuhan, Drama Panca Putra, saat melepas ekspor perdana tepung tapioka yang dilakukan oleh CV Central Intan melalui Pelabuhan Panjang, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, singkong merupakan komoditas pertanian unggulan yang memiliki nilai strategis, sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat hilirisasi industri dalam negeri.

Ia menilai, Lampung saat ini telah memasuki tahap hilirisasi, ditandai dengan luasnya pemanfaatan tepung tapioka di berbagai sektor industri.

"Tepung tapioka digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku tekstil hingga industri kertas. Ini menunjukkan bahwa hilirisasi sudah berjalan," ujar Drama.

Ia menambahkan, momentum ekspor perdana ini menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta pelaku usaha dalam membangun industri hilir singkong yang mampu menembus pasar internasional.

Secara nasional, pasar utama ekspor tepung tapioka Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, diikuti Filipina dan Taiwan.

"Hingga tahun 2025, volume ekspor tercatat mencapai sekitar 22.500 ton dengan nilai lebih dari Rp130 miliar," tuturnya.

Sementara itu, khusus Provinsi Lampung hingga April 2026, realisasi ekspor telah mencapai sekitar 7.600 ton. Dengan tambahan ekspor perdana ini, jumlahnya diperkirakan mendekati 10.000 ton.

"Dengan semangat dan dukungan dari Gubernur, kami optimistis Lampung bisa menembus angka 22.000 ton lebih pada tahun 2026," kata Drama.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan pasar global ke depan tidak hanya soal kontinuitas pasokan, tetapi juga kualitas produk.

Menurutnya, kualitas harus dijaga secara menyeluruh mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga distribusi dan penanganan pascapanen.

"Kualitas menjadi kunci utama. Produk yang diekspor harus aman dan bermutu. Jika tidak, akan berisiko ditolak di pasar internasional," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan pasar global terhadap produk ekspor Indonesia, termasuk dari Lampung.

Menurutnya, kepercayaan tersebut hanya dapat dicapai jika standar keamanan dan mutu produk benar-benar terpenuhi.

Dalam hal ini, Badan Karantina Indonesia memastikan siap mendukung pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan teknis yang ditetapkan negara tujuan ekspor, baik untuk komoditas tumbuhan, hewan, maupun perikanan.

"Kami siap mendampingi dan memastikan produk yang diekspor memenuhi standar dan diterima di pasar global," pungkasnya.

Dengan potensi besar yang dimiliki, Lampung diyakini akan terus menjadi salah satu daerah penggerak utama ekspor tepung tapioka nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional. (*)