• Rabu, 06 Mei 2026

Akom ITECH Metro Resmi Dibuka, Siap Cetak Lulusan Siap Kerja di Era Digital

Selasa, 05 Mei 2026 - 13.19 WIB
711

Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana beserta stakeholder terkait saat meresmikan akademi Komunitas (Akom) ITECH Metro. Foto: Arby/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Metro - Kota Metro kembali menambah daftar lembaga pendidikan. Namun kali ini, yang diresmikan bukan sekadar kampus biasa melainkan Akademi Komunitas (Akom) ITECH Metro yang hadir di Jl. KH. Ahmad Dahlan, Metro Pusat dengan membawa misi mendalam, yaitu merombak cara lama dalam memandang pendidikan.

Di tengah realitas banyaknya lulusan yang masih gagap menghadapi dunia kerja, kehadiran Akom ITECH Metro pada 5 Mei 2026 menjadi semacam jawaban berani, meski tentu saja masih harus dibuktikan di lapangan.

Direktur Akom ITECH Metro, Elda S Tambara tak menampik bahwa jalan menuju pendirian kampus ini penuh liku. Berawal dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), ITECH harus melalui serangkaian tahapan panjang sejak 2022, mulai dari pembinaan, pelatihan, hingga verifikasi berlapis dari pemerintah pusat.

“Semua proses itu tidak mudah. Tapi kami yakin, ini langkah yang harus diambil jika ingin menjawab kebutuhan zaman,” kata dia dalam sambutannya, Selasa (5/5/2026).

Keyakinan itu bukan tanpa dasar, menurutnya dunia kerja kini berubah drastis. Ijazah tak lagi cukup, kompetensi menjadi syarat mutlak. Sayangnya, banyak lembaga pendidikan masih berjalan dengan pola lama dengan menjejali teori tetapi minim praktik.

Di titik inilah Akom ITECH Metro mencoba mengambil posisi berbeda. Dengan masa studi hanya 1 hingga 2 tahun, akademi ini menawarkan pendidikan vokasi berbasis keterampilan praktis.

"Program studi perdana yang dibuka, Diploma 2 atau D2 Desain Digital, menyasar sektor yang saat ini sedang tumbuh pesat yaitu  industri digital. Lulusan diproyeksikan mampu langsung masuk ke dunia kerja sebagai digital marketer, content writer, SEO specialist hingga ads specialist, seperti profesi yang hari ini bukan lagi pilihan alternatif, melainkan kebutuhan utama industri," jelasnya.

Akom ITECH Metro juga mengklaim tidak berhenti di situ. Sistem pembelajaran dirancang berbasis praktik, dilengkapi sertifikasi kompetensi, hingga skema penyaluran kerja. Sebuah pendekatan yang, jika konsisten dijalankan, bisa menjadi pembeda dari kampus-kampus lain yang masih terjebak rutinitas akademik.

“Generasi sekarang tidak bisa lagi dipaksa menunggu terlalu lama. Mereka ingin cepat mandiri. Itu yang kami jawab,” tegas Elda.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, justru menyoroti persoalan yang lebih tajam. Ia secara terbuka mengakui bahwa paradigma pendidikan harus berubah.

“Dulu orang bertanya kamu lulusan apa. Tapi sekarang dunia bertanya, kamu bisa mengerjakan apa. Jadi kami mendorong agar Akom ITECH Metro tidak sekadar menjadi tempat kuliah, tetapi menjadi laboratorium masa depan, tempat mahasiswa dilatih menghadapi persoalan nyata," ungkapnya.

Pernyataan ini seolah menjadi kritik terhadap sistem pendidikan yang selama ini terlalu nyaman dengan formalitas gelar. Di tengah persaingan global, pendekatan seperti itu jelas tidak lagi relevan.

"Mulai dari membantu UMKM go digital, memperkuat promosi usaha kecil, hingga mendorong inovasi layanan publik. Artinya, kampus dituntut hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang kelas. Kalau hanya mencetak lulusan, itu biasa. Tapi kalau menciptakan dampak, itu yang dibutuhkan,” tegasnya.

Pemerintah Kota Metro sendiri menyatakan dukungan penuh. Wakil Walikota menyebut, kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang digital terus meningkat, sementara kesiapan SDM masih menjadi pekerjaan rumah.

"Akom ITECH Metro diharapkan menjadi salah satu solusi. Namun, euforia peresmian ini tetap menyisakan satu catatan penting yaitu konsistensi. Banyak lembaga pendidikan lahir dengan semangat besar, tetapi perlahan kehilangan arah saat berhadapan dengan realitas. Kurikulum tidak lagi relevan, koneksi dengan industri melemah, dan lulusan kembali menghadapi masalah lama, yaitu tidak siap kerja," tandasnya.

Jika Akom ITECH Metro ingin benar-benar menjadi pembeda, maka tantangan utamanya bukan pada peresmian, tetapi pada keberanian menjaga kualitas. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada megahnya gedung atau banyaknya mahasiswa, melainkan pada satu hal sederhana, apakah lulusannya benar-benar dibutuhkan. (*)