Kisah Haru dan Perjuangan dari Kelahiran Dua Bayi Harimau Sumatera di Lembah Hijau
Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, saat konferensi pers, Senin (4/5/2026). Foto: Sri/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kabar menggembirakan
sekaligus penuh makna datang dari dunia konservasi satwa liar di Lampung. Dua
bayi Harimau Sumatera lahir di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung pada 14
Februari 2026.
Kelahiran ini tidak hanya menjadi yang pertama di Lampung dalam skema ex situ (di luar habitat alami), tetapi juga membawa pesan kuat tentang harapan di tengah ancaman kepunahan.
Dua anak harimau tersebut merupakan hasil perkawinan pasangan Kyai Batua (jantan) dan Sinta (betina), yang keduanya memiliki latar belakang kelam sebagai korban jerat pemburu liar.
Kyai Batua sebelumnya ditemukan terjerat di wilayah Suoh, Lampung Barat, pada 2 Juli 2019. Akibat luka parah di kaki kanan depan, ia harus menjalani amputasi demi menyelamatkan nyawanya.
Nasib serupa dialami Sinta. Harimau betina itu menjadi korban jerat di Bengkulu pada Desember 2024, yang menyebabkan ia kehilangan kaki kanan belakangnya. Setelah melalui proses penyelamatan dan perawatan intensif, keduanya kemudian dipertemukan dalam program konservasi terkontrol.
Di tengah keterbatasan fisik tersebut, keberhasilan keduanya berkembang biak menjadi pencapaian yang luar biasa. Masa bunting sekitar 105 hari dilalui hingga akhirnya dua bayi harimau lahir dengan kondisi sehat masing-masing berjenis kelamin jantan dan betina. Kini, di usia sekitar 60 hari, keduanya telah melewati fase kritis awal kehidupan dan terus dipantau secara intensif oleh tim medis dan perawat satwa.
Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, menyampaikan bahwa kelahiran ini menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi yang dilakukan secara kolaboratif.
“Ini bukan sekadar kelahiran biasa. Ini adalah simbol bahwa satwa yang pernah menjadi korban kekejaman manusia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan generasinya,” ujarnya saat konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, keberhasilan ini juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk BKSDA Bengkulu-Lampung, Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, serta PKBSI melalui program Global Species Management Plan (GSMP) fase III dan IV tahun 2024–2025.
"Dalam program tersebut, Kyai Batua dan Sinta direkomendasikan untuk dikawinkan secara terkontrol berdasarkan data studbook (buku silsilah) guna menjaga keberagaman genetik spesies. Kyai Batua tercatat dengan ID 1886, sementara Sinta dengan ID 1998.," ungkapnya.
Lebih dari sekadar menambah populasi, kelahiran ini memiliki nilai edukatif yang tinggi. Kehadiran dua bayi harimau di lingkungan konservasi diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian satwa liar, khususnya yang terancam punah.
"Keberadaan mereka juga berpotensi meningkatkan daya tarik wisata edukasi di Lembah Hijau, sehingga masyarakat dapat belajar langsung tentang konservasi sekaligus memahami dampak perburuan liar terhadap satwa, " jelasnya.
Pihaknya memastikan akan terus memberikan perawatan terbaik, termasuk penyediaan kandang yang dirancang menyerupai habitat alami, serta pemantauan kesehatan secara berkala.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu-Lampung, Itno Itoyo, menyebut kehadiran dua bayi harimau ini menjadi suntikan semangat baru di tengah tekanan besar terhadap populasi harimau di alam liar.
“Kita menghadapi tekanan luar biasa terhadap populasi harimau Sumatera. Jadi, kelahiran ini menjadi kebanggaan sekaligus penguat semangat dalam upaya konservasi,” katanya.
Ke depan, Lembah Hijau berkomitmen untuk terus mendukung program pemerintah dalam pelestarian satwa liar dan menjaga keberlanjutan cadangan genetik Harimau Sumatera.
Dari kisah pilu jerat pemburu hingga lahirnya generasi baru, dua bayi harimau ini menjadi simbol bahwa harapan untuk menyelamatkan satwa langka Indonesia masih tetap ada selama upaya konservasi terus dijaga dan diperkuat. (*)
Berita Lainnya
-
UTBK-SNBT Unila Tahun 2026 Berjalan Lancar, PLN Prioritaskan Keandalan Listrik
Senin, 04 Mei 2026 -
Eva Dwiana Apresiasi Bantuan Anggaran Pusat: Momentum Selesaikan Masalah Banjir
Senin, 04 Mei 2026 -
DPRD Bandar Lampung Temukan Sejumlah Catatan Krusial di LKPJ 2025, PAD hingga Layanan Publik Disorot
Senin, 04 Mei 2026 -
Sulpakar Ditunjuk Jadi Plt Kadis Kehutanan Gantikan Senen Mustakim
Senin, 04 Mei 2026








