• Senin, 04 Mei 2026

Jasmine Alya Pelajar Asal Metro Wakili Lampung Ikut Seleksi Paskibraka Nasional

Senin, 04 Mei 2026 - 12.06 WIB
19

Jasmine Alya S, siswi SMAN 1 Metro terpilih sebagai perwakilan Provinsi Lampung dalam seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) tingkat nasional. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Metro – Kabar membanggakan datang dari Kota Metro. Jasmine Alya S, siswi SMAN 1 Metro sukses mengharumkan nama daerah setelah terpilih sebagai perwakilan Provinsi Lampung dalam seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) tingkat nasional.

Prestasi ini bukan diraih dengan jalan singkat. Jasmine harus melewati serangkaian tahapan seleksi ketat yang menguji fisik, mental, wawasan kebangsaan, hingga kepribadian. Dari puluhan peserta terbaik se-Lampung, namanya muncul sebagai yang paling siap melangkah ke panggung nasional.

Tak hanya itu, capaian Kota Metro semakin lengkap. Muhyi Dermawan Agung, siswa SMAN 3 Metro, juga mencatatkan prestasi dengan menjadi cadangan nasional sekaligus Capaska tingkat Provinsi Lampung.

Dua nama ini menjadi representasi bahwa Metro masih memiliki stok generasi muda unggul yang mampu bersaing di level lebih tinggi.

Saat dikonfirmasi, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Metro, Bangkit Haryo Utomo, tak menutupi rasa bangganya.

“Alhamdulillah Capaska kita Jasmine berhasil terpilih menjadi perwakilan Provinsi Lampung untuk mengikuti seleksi Capaska tingkat nasional. Kemudian Capaska kita atas nama Muhyi juga berhasil menjadi perwakilan Metro di Provinsi Lampung,” kata dia kepada awak media, Senin (4/5/2026).

Bangkit menyebut capaian Jasmine sebagai bukti kualitas generasi muda Metro. Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari dedikasi, disiplin, dan semangat nasionalisme yang tinggi.

“Ini adalah pencapaian luar biasa. Kami sangat bangga Capaska Metro yang lolos ke tingkat nasional. Ini hasil dari dedikasi, disiplin, dan semangat nasionalisme yang tinggi,” ucapnya.

Realitas di lapangan menunjukkan, pembinaan pelajar di bidang non-akademik termasuk Paskibraka seringkali masih bersifat seremonial dan belum terstruktur secara berkelanjutan. Banyak sekolah yang belum memiliki sistem pelatihan yang mapan, bergantung pada momentum seleksi, bukan proses jangka panjang.

Di titik ini, keberhasilan Jasmine dan Muhyi justru bisa dibaca sebagai anomali positif, prestasi yang patut dirayakan, tetapi sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk berbenah.

Perjalanan Jasmine pun belum selesai. Seleksi tingkat nasional menjadi tahap penentu apakah dirinya layak menjadi bagian dari pasukan elite pengibar bendera di Istana Negara.

Jika mampu melewati tahapan tersebut, ia berpeluang mengibarkan Sang Merah Putih pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sebuah kehormatan yang hanya diraih segelintir pelajar terbaik di Indonesia.

“Masih ada satu tahapan seleksi lagi yang harus dilewati. Untuk itu, kami akan mempersiapkan Jasmine semaksimal mungkin agar bisa memberikan hasil terbaik,” ungkap Bangkit.

Pernyataan ini seharusnya tidak berhenti sebagai komitmen sesaat. Dukungan terhadap Jasmine harus konkret, mulai dari fasilitas latihan, pendampingan profesional, hingga perhatian serius dari pemerintah daerah.

Sebab di level nasional, yang dihadapi bukan lagi sekadar peserta terbaik provinsi, melainkan representasi terbaik dari seluruh Indonesia. Lebih jauh, Bangkit berharap capaian ini menjadi pemantik semangat bagi pelajar lainnya.

“Menjadi anggota Paskibraka nasional bukan hanya tentang baris-berbaris, tapi juga tentang tanggung jawab dan semangat mengabdi untuk bangsa,” imbuhnya.

Paskibraka bukan sekadar ajang prestise, melainkan ruang pembentukan karakter, disiplin, kepemimpinan, dan integritas. Nilai-nilai inilah yang justru sering hilang dalam sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada angka dan capaian akademik semata.

Karena itu, keberhasilan Jasmine dan Muhyi seharusnya menjadi momentum evaluasi. Pemerintah Kota Metro perlu memastikan bahwa pembinaan generasi muda tidak berhenti pada event tahunan, tetapi menjadi sistem yang terukur, berkelanjutan, dan merata di seluruh sekolah.

Jika tidak, maka prestasi seperti ini akan terus hadir sebagai kejutan, bukan sebagai hasil dari sistem yang memang dirancang untuk melahirkan generasi unggul.

“Kami berharap akan semakin banyak pelajar Metro yang berani bermimpi besar dan berjuang untuk mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,” tandas Bangkit.

Harapan itu jelas, namun tanpa pembinaan yang serius dan konsisten, mimpi besar itu berisiko hanya menjadi milik segelintir orang dan bukan gerakan kolektif generasi muda Metro.

Kini, semua mata tertuju pada Jasmine. Bukan hanya untuk melihat apakah ia mampu menembus seleksi nasional, tetapi juga untuk menguji sejauh mana komitmen daerah dalam mengawal talenta terbaiknya hingga benar-benar berdiri di Istana Negara, membawa nama Metro dan Lampung ke panggung tertinggi nasional. (*)