Paradigma Ki Hajar Dewantara ke Disrupsi AI: Mencari Arah Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045, Oleh: Koderi
Dr. Koderi, Akademisi UIN Raden Intan Lampung. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 menghadirkan momentum refleksi terhadap arah pendidikan nasional. Bangsa Indonesia memperingati hari tersebut untuk mengenang pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.
Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai wahana pembentukan karakter, kesadaran, dan kemandirian.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah lanskap pendidikan secara signifikan. Teknologi menghadirkan kemudahan akses informasi, tetapi teknologi juga membawa tantangan terhadap kualitas berpikir peserta didik.
Pendidikan nasional menghadapi dilema antara mempertahankan nilai humanistik dan mengadopsi inovasi digital. Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan harus menentukan arah yang jelas dan berkelanjutan.
Paradigma Humanistik dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Ki Hajar Dewantara merumuskan prinsip ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai dasar peran pendidik.
Pendidik harus memberikan teladan, membangun semangat, dan mendorong kemandirian peserta didik.
Pendekatan tersebut sejalan dengan teori humanistik yang menekankan pengembangan potensi individu secara menyeluruh.
Pendidikan tidak hanya mengejar capaian kognitif, tetapi juga membangun aspek afektif, sosial dan spiritual. Oleh karena itu, paradigma Ki Hajar Dewantara tetap relevan sebagai fondasi pendidikan nasional.
Namun, realitas pendidikan modern menunjukkan adanya pergeseran orientasi. Sistem pendidikan cenderung menekankan capaian akademik dan administratif.
Proses pembelajaran sering mengabaikan pembentukan karakter dan kedalaman berpikir. Kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan antara nilai filosofis dan praktik pendidikan.
Disrupsi AI dan Perubahan Cara Berpikir
Perkembangan AI mempercepat transformasi dalam dunia pendidikan. Teknologi memungkinkan peserta didik memperoleh informasi secara instan. Peserta didik dapat menyelesaikan tugas dengan bantuan sistem digital tanpa melalui proses analisis yang mendalam.
Secara empiris, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital yang intensif dapat menurunkan kemampuan membaca mendalam.
Nicholas Carr menjelaskan bahwa paparan informasi digital yang cepat mendorong pola pikir dangkal dan mengurangi kemampuan refleksi. Peserta didik menjadi terbiasa dengan kecepatan, tetapi kurang terbiasa dengan kedalaman.
Menurut perspektif konstruktivisme, proses belajar harus melibatkan aktivitas berpikir aktif. Peserta didik harus membangun pengetahuan melalui pengalaman dan refleksi.
Namun, penggunaan AI tanpa kontrol dapat memotong proses tersebut. Peserta didik berpotensi menjadi pengguna informasi, bukan pencipta pengetahuan.
Generasi Digital dan Tantangan Nalar Kritis
Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan digital yang didominasi media sosial. Mereka mengakses informasi melalui proses scroll menggulir layar secara cepat. Pola tersebut membentuk kebiasaan membaca yang dangkal dan fragmentaris.
Albert Bandura menjelaskan bahwa individu belajar melalui interaksi dengan lingkungan. Lingkungan digital saat ini menghadirkan berbagai konten yang tidak selalu memiliki validitas ilmiah. Peserta didik cenderung meniru informasi yang populer tanpa melakukan verifikasi.
Selain itu, Paulo Freire menekankan pentingnya kesadaran kritis dalam pendidikan. Pendidikan harus mendorong peserta didik untuk berpikir reflektif dan analitis. Namun, dominasi teknologi berpotensi melemahkan kesadaran tersebut jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.
Implikasi terhadap Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045
Visi Indonesia Emas 2045 menuntut terciptanya sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Pendidikan memiliki peran strategis dalam mewujudkan visi tersebut. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga kualitas berpikir.
Pendidikan harus mampu menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif. Pendidikan juga harus mampu menanamkan nilai etika dalam penggunaan teknologi.
Jika pendidikan gagal menjawab tantangan ini, maka kemajuan teknologi justru dapat melemahkan kualitas sumber daya manusia.
Rekonstruksi Arah Pendidikan Nasional
Pendidikan nasional perlu melakukan rekonstruksi paradigma untuk menghadapi disrupsi AI. Pertama, pendidikan harus mengintegrasikan teknologi secara kritis. Penggunaan AI harus diarahkan untuk mendukung proses berpikir, bukan menggantikannya.
Kedua, pendidik harus mengembangkan peran sebagai fasilitator pembelajaran. Pendidik harus membimbing peserta didik dalam memahami dan mengevaluasi informasi. Pendidik juga harus mampu menanamkan nilai-nilai etika dalam penggunaan teknologi.
Ketiga, kurikulum harus menekankan literasi digital dan penguatan karakter. Pendidikan harus membekali peserta didik dengan kemampuan untuk memilah informasi dan berpikir secara mandiri.
Keempat, pendidikan harus kembali pada nilai humanistik. Pendidikan harus menempatkan manusia sebagai pusat, bukan teknologi. Nilai-nilai yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara harus diaktualisasikan dalam konteks modern.
Penutup
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 memberikan kesempatan bagi putra-putri bangsa Indonesia untuk merefleksikan arah pendidikan nasional. Pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai dasar kemanusiaan.
Perjalanan dari paradigma Ki Hajar Dewantara menuju era AI menunjukkan bahwa pendidikan berada pada titik krusial.
Pendidikan harus menemukan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai humanistik. Jika keseimbangan tersebut dapat dicapai, maka pendidikan akan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*)
Berita Lainnya
-
Polda Lampung Kawal Keberangkatan 2.082 Buruh ke Jakarta Aksi May Day
Jumat, 01 Mei 2026 -
600 Personel Gabungan Disiagakan Kawal Aksi May Day di Bandar Lampung
Jumat, 01 Mei 2026 -
Kukuhkan Wisudawan Periode I 2026, Rektor UIN RIL Pesankan Lulusan Jadi Insan Ber-ISI
Jumat, 01 Mei 2026 -
Walikota Eva Dwiana Raih Penghargaan Nasional, Bukti Kepemimpinan Perempuan Dorong Kebijakan Pro-Rakyat
Jumat, 01 Mei 2026








