• Selasa, 28 April 2026

Belum Reda Kasus Ulat dan Daging Alot, MBG Lambar Kembali Disorot, Petugas Masak Tanpa APD Sambil Joget

Selasa, 28 April 2026 - 13.46 WIB
321

MBG Lambar Kembali Disorot, Petugas Masak Tanpa APD Sambil Joget. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Permasalahan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lampung Barat kembali menjadi sorotan, setelah sebelumnya ditemukan ulat dan daging alot pada menu MBG yang dibagikan ke penerima manfaat, kini viral emak-emak SPPG masak sambil mendengarkan musik remix.

Berdasarkan video berdurasi 47 detik yang diterima, terlihat sejumlah emak-emak yang bertugas memasak menu MBG berjoget dengan diiringi musik remix, yang menjadi sorotan, sejumlah emak-emak tersebut terlihat tidak mengenakan APD yang menjadi standar operasional.

Dalam video ada yang tidak mengenakan sarung tangan, penutup kepala dan masker penutup wajah, hal tersebut menimbulkan keluhan masyarakat yang mempertanyakan terkait kualitad higenis menu makanan yan g dimasak tanpa dilengkapi standar operasional tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun kupastuntas.co dugaan sementara lokasi kejadian di SPPG Bumasya Cooking, Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit Lampung Barat. Standar dasar sanitasi yang seharusnya wajib justru diperlakukan seperti hal remeh oleh para petugas.

Indra, salah seorang warga Kecamatan Balik Bukit, menyayangkan viralnya video tersebut, ia mengatakan dengan adanya kasus tersebut semakin menunjukkan kurang nya pengawasan terhadap jalannya program MBG di Bumi Beguai Jejama Sai Betik.

"Jika video itu benar di SPPG Balik Bukit, Lampung Barat sangat di sayangkan, karena belum reda permasalahan di Pasar Liwa gara-gara ulat ditemukan di menu MBG, sekarang justru muncul lagi masalah di SPPG lain, ini menunjukkan perlu nya pengawasan yang lebih," kata dia.

Ia mengaku, MBG pada dasarnya merupakan program yang bagus jika dijalankan secara profesional, namun fakta dilapangan banyak SDM yang tidak profesional dalam menjalankan program tersebut. "Ini artinya perlu ada evaluasi menyeluruh baik untuk pemilik dapur, kepala SPPG ataupun relawan yang ada di dapur tersebut," tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Masyarakat Independent GERMASI, Wahdi Syarif, juga menyampaikan ktitik keras terkait masalah tersebut. Ia menyebut kejadian ini sebagai cerminan kegagalan sistemik, bukan sekadar keteledoran teknis.

"Ini bukan soal joget. Ini soal SOP dan sterilisasi yang di abaikan. Makanan itu dikonsumsi manusia, bahkan anak-anak. Kalau dari dapurnya saja sudah tidak higienis, ini jelas berisiko langsung pada kesehatan publik,” tegasnya.

Sorotan juga mengarah pada dugaan penggunaan anggaran operasional yang disebut berada di kisaran Rp. 3.000. Angka yang, menurut Wahdi, seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan paling dasar seperti masker dan penutup kepala.

"Kalau anggaran itu ada, ke mana larinya? APD paling sederhana saja tidak dipakai dengan benar. Ini bukan soal kekurangan dana ini soal kelalaian dan prioritas yang salah,” ujarnya tajam.

Tak berhenti di situ, ia juga mempertanyakan kompetensi relawan yang terlibat. Apakah mereka memiliki sertifikat penjamah makanan? Atau justru dibiarkan bekerja tanpa standar kelayakan?

"Ini harus dibuka terang. Kalau mereka tidak punya sertifikasi, berarti ada pembiaran serius dalam perekrutan dan pengawasan. Ini bukan main-main,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Bumasya Cooking, Pasar Liwa, Kecamatan Balik Bukit, Fajri saat di konfirmasi terkait masalah tersebut apakah benar terjadi di dapur SPPG yang dipimpin tidak memberikan respon saat di hubungi. (*)