• Senin, 27 April 2026

Dewan Pendidikan Lampung Respons Wacana Penghapusan Prodi Guru: Pendidikan Bukan Pabrik Tenaga Kerja

Senin, 27 April 2026 - 13.51 WIB
61

Ketua Dewan Pendidikan Lampung, Prof. Syafrimen. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk mengkaji ulang program studi keguruan agar lebih selaras dengan kebutuhan industri menuai tanggapan dari berbagai pihak.

Salah satunya datang dari Ketua Dewan Pendidikan Lampung, Prof. Syafrimen, yang menekankan pentingnya menjaga esensi dunia pendidikan sebagai pencetak generasi penerus bangsa, bukan semata-mata tenaga kerja industri.

Menurut Prof. Syafrimen, pendekatan yang menyamakan dunia pendidikan dengan pabrik tenaga kerja merupakan cara pandang yang keliru.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah mencetak regenerasi kepemimpinan yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa di masa depan.

"Dunia pendidikan jangan dipahami seperti mencetak pekerja-pekerja untuk industri. Kita ini mencetak generasi yang akan memimpin bangsa ke depan, bukan robot yang hanya bekerja di sektor industri," ujarnya, saat dimintai keterangan, Senin (27/4/2026).

Ia juga menyoroti pentingnya membedakan antara program studi yang berorientasi industri dengan program studi keguruan.

Menurutnya, program studi yang melahirkan guru tidak bisa disamakan dengan program yang memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja industri.

"Guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kualitas generasi masa depan. Mereka adalah ujung tombak dalam menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa. Karena itu, cara pandangnya tidak bisa disamakan," tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Syafrimen menyebut bahwa isu rendahnya penyerapan lulusan di dunia kerja harus dilihat secara komprehensif dan berbasis data.

Ia menilai, langkah yang tepat bukan menutup program studi tertentu, melainkan melakukan pemetaan kebutuhan secara matang dan profesional.

"Kita perlu memetakan kebutuhan guru ke depan secara konkret dan berbasis data. Jangan sampai kebijakan yang diambil justru berdampak negatif dalam jangka panjang terhadap pembangunan bangsa," katanya.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan terkait penutupan program studi keguruan. Menurutnya, kualitas lulusan harus menjadi fokus utama yang perlu dibenahi oleh perguruan tinggi.

"Tantangan bagi perguruan tinggi adalah memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik, sehingga mampu melahirkan guru-guru profesional yang siap menjawab tantangan masa depan," lanjutnya.

Prof. Syafrimen turut menyinggung praktik di negara-negara maju yang menempatkan profesi guru sebagai salah satu profesi paling strategis dan prioritas.

Hal ini, menurutnya, menjadi bukti bahwa keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.

"Di negara maju, profesi guru sangat dihargai dan diprioritaskan karena mereka menyadari pentingnya membangun generasi masa depan. Ini yang harus menjadi refleksi bagi kita," ungkapnya.

Sebagai solusi, ia mendorong adanya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam merancang kebijakan pendidikan yang berorientasi jangka panjang, terutama dalam menyiapkan tenaga pendidik yang berkualitas.

"Jalan keluarnya bukan menutup program studi keguruan, tetapi melakukan pemetaan yang tepat dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa guru-guru yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab tantangan zaman," pungkasnya. (*)