• Minggu, 26 April 2026

MSP 10 Tahun: Dari Gerakan Lokal Jadi Simbol Perlawanan Petani Metro

Minggu, 26 April 2026 - 14.40 WIB
16

Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDI Perjuangan Kota, Tommy Gunawan saat memperingati HUT ke-10 MSP bersama petani di Metro Selatan. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Metro - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Gerakan Mari Sejahterakan Petani (MSP) tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Di Kota Metro, momentum ini menjelma sebagai simbol perlindungan terhadap kaum marhaen, kelompok akar rumput yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pertanian, namun kerap berada di posisi paling rentan dalam pusaran kebijakan.

Kegiatan yang ditandai dengan potong tumpeng di wilayah Metro Selatan, Minggu (26/4/2026), dihadiri oleh kader PDI Perjuangan, salah satunya Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPC PDI Perjuangan Kota Metro, Tommy Gunawan, yang dikenal dengan sebutan si anak beras. Kehadiran kader partai dalam momentum ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengandung pesan ideologis tentang keberpihakan terhadap petani.

MSP sendiri merupakan hasil dari proses panjang penelitian varietas padi unggul yang digagas oleh Surono Danu, kader PDI Perjuangan asal Lampung.

Lebih dari sekadar inovasi pertanian, MSP merepresentasikan semangat kemandirian pangan berbasis lokal, sebuah gagasan yang lahir dari bawah, bukan dari kebijakan yang bersifat top-down.

Dalam keterangannya, Tommy menegaskan bahwa peringatan HUT MSP merupakan upaya untuk merawat semangat perjuangan bersama petani. Ia menyebut, MSP bukan hanya program atau gerakan biasa, melainkan simbol konsistensi dalam memperjuangkan kesejahteraan petani.

“Sengaja kami turut merayakan HUT MSP ini guna meningkatkan semangat perjuangan, agar tetap konsisten dan terus berkembang melalui MSP,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi atas kondisi pertanian di Kota Metro yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari persoalan gagal panen, bencana banjir, hingga minimnya intervensi kebijakan yang berpihak langsung kepada petani.

Dalam konteks ini, MSP hadir sebagai gerakan alternatif yang mencoba menjawab keterbatasan tersebut.

Lebih lanjut, Tommy menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik konsolidasi untuk memperkuat solidaritas antara kader partai dan petani sebagai basis marhaen.

“Ini bukan semata-mata kegiatan seremonial, tetapi titik peningkatan semangat kita bersama petani melalui MSP,” lanjutnya.

Secara politik, peringatan HUT MSP juga dapat dibaca sebagai upaya PDI Perjuangan dalam menjaga garis ideologisnya.

Di tengah dinamika politik yang semakin pragmatis, keberpihakan terhadap marhaen menjadi identitas yang terus dirawat, salah satunya melalui gerakan MSP.

Namun demikian, tantangan ke depan tidaklah ringan. Tanpa dukungan kebijakan yang konkret dari pemerintah daerah, gerakan seperti MSP berisiko berjalan sendiri di tengah keterbatasan sumber daya. Padahal, potensi MSP sebagai varietas unggul lokal dapat menjadi solusi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Tommy berharap, dengan bertambahnya usia MSP, gerakan ini semakin solid dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan petani di Indonesia, khususnya di Lampung.

“Semoga MSP semakin sukses dan terus berperan aktif dalam memberi manfaat bagi seluruh petani Indonesia. Petani sejahtera, Indonesia maju,” tandasnya.

Di tengah berbagai persoalan yang melanda sektor pertanian di Metro, MSP hadir sebagai simbol harapan sekaligus perlawanan. Ia menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk melindungi marhaen tidak boleh berhenti pada retorika, melainkan harus diwujudkan dalam gerakan nyata yang berkelanjutan. (*)