• Kamis, 23 April 2026

Pengamat: Absennya Mahasiswa di Tengah Aksi Petani Metro Jadi Alarm Melemahnya Kontrol Sosial

Kamis, 23 April 2026 - 13.32 WIB
88

Pengamat Politik dari Universitas Dharma Wacana Metro, Dr. Sudarman Mersa. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Metro - Di tengah memuncaknya gelombang protes ratusan petani Metro Selatan yang turun ke jalan menggugat pemerintah, satu hal justru mencolok ialah absennya mahasiswa.

Pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Dharma Wacana (UDW) Metro, Dr. Sudarman Mersa, secara tegas menyoroti ketidakhadiran kelompok intelektual tersebut dalam aksi demonstrasi Aliansi Petani Menggugat yang berlangsung, Rabu (22/4/2026) kemarin.

Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar soal kehadiran fisik, melainkan sinyal melemahnya peran kritis mahasiswa dalam mengawal isu-isu kerakyatan.

“Ini ironis. Ketika petani benar-benar membutuhkan dukungan moral dan intelektual, mahasiswa justru tidak terlihat. Padahal, sejarah mencatat mahasiswa selalu menjadi garda depan dalam setiap gerakan perubahan,” kata Sudarman saat memberikan tanggapan kepada awak media, Kamis (23/4/2026).

Pria yang juga merupakan Dekan FISIP UDW Metro itu menilai, absennya mahasiswa kemarin sangat kontras jika dibandingkan dengan satu tahun terakhir sejak kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Metro berjalan. Dalam periode itu, aksi-aksi mahasiswa terbilang cukup intens mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah.

Namun kini, ketika isu yang dihadapi menyangkut langsung hajat hidup masyarakat kecil, yaitu para petani yang mengalami gagal panen, suara mahasiswa justru meredup, bahkan nyaris tak terdengar.

“Ini yang menjadi tanda tanya besar. Apakah sensitivitas sosial mahasiswa mulai menurun, atau ada faktor lain yang membuat mereka memilih diam,” katanya.

Fenomena ini, berpotensi menciptakan jarak antara mahasiswa dan masyarakat. Padahal, legitimasi gerakan mahasiswa selama ini lahir dari keberpihakan mereka terhadap rakyat. Absennya mahasiswa dalam aksi petani juga memantik pertanyaan serius tentang eksistensi organisasi kemahasiswaan di Kota Metro.

Nama-nama besar seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) bahkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang selama ini dikenal vokal, kini justru dipertanyakan perannya.

“Organisasi mahasiswa ini biasanya paling cepat merespons isu publik. Tapi hari ini mereka seperti menghilang. Ini bukan sekadar absen, ini kehilangan momentum,” tegas Sudarman.

Ia mengingatkan bahwa diamnya mahasiswa dalam situasi krisis sosial dapat dimaknai sebagai bentuk pembiaran terhadap ketidakadilan.

Di sisi lain, aksi yang dilakukan petani Metro Selatan sendirian merupakan bentuk perjuangan atas nasib yang kian terhimpit. Gagal panen akibat banjir yang berulang telah memukul ekonomi mereka hingga titik nadir. Tanpa dukungan luas, termasuk dari mahasiswa, perjuangan petani berpotensi kehilangan daya tekan yang lebih besar terhadap pemerintah.

“Gerakan rakyat akan jauh lebih kuat jika ada kolaborasi antara petani dan mahasiswa. Yang satu punya pengalaman nyata, yang satu punya kekuatan narasi dan intelektual,” jelasnya.

Sudarman tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan catatan keras sekaligus saran bagi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan di Metro. Pertama, mahasiswa diminta untuk kembali pada jati dirinya sebagai agen perubahan (agent of change) dan kontrol sosial (social control). Peran ini bukan sekadar jargon, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata.

Kedua, organisasi mahasiswa harus memperkuat sensitivitas terhadap isu-isu lokal. Jangan hanya aktif saat isu besar atau nasional mencuat, tetapi abai terhadap persoalan di sekitar. Ketiga, mahasiswa perlu membangun kembali kedekatan dengan masyarakat. Turun langsung ke lapangan, mendengar, dan merasakan apa yang dialami rakyat.

“Mahasiswa jangan hanya sibuk dengan dinamika internal organisasi atau agenda seremonial kampus. Rakyat hari ini butuh keberpihakan nyata,” tegasnya.

Keempat, ia mendorong organisasi seperti HMI, PMII, IMM, KMHDI, KAMMI, BEM dan lainnya untuk segera mengambil sikap terbuka terhadap persoalan petani Metro.

“Kalau tidak turun ke jalan, setidaknya keluarkan pernyataan sikap, lakukan kajian, advokasi, atau dampingi petani. Jangan diam,” tambahnya.

Absennya mahasiswa dalam aksi petani Metro bukan sekadar peristiwa biasa. Ini adalah ujian moral bagi gerakan mahasiswa itu sendiri. Apakah mereka masih berdiri bersama rakyat, atau mulai menjauh dari realitas sosial.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa akan semakin tergerus. Dan ketika itu terjadi, mahasiswa bukan lagi dilihat sebagai agen perubahan, melainkan hanya penonton di tengah krisis.

Sementara itu, petani Metro Selatan telah memilih jalannya dengan berjuang sendirian. Pertanyaannya kini sederhana, namun menohok, di mana mahasiswa ketika rakyat benar-benar membutuhkan. (*)