• Kamis, 23 April 2026

‎Baru 4 Bulan Usai Diresmikan, Sejumlah Area Embung Kemiling Butuh Perbaikan

Kamis, 23 April 2026 - 19.10 WIB
22

‎Tampak Embung Kemiling, Foto: Sandika/kupastuntas.co

‎Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Baru empat bulan setelah diresmikan pada Desember 2025 lalu, kondisi Embung Kemiling mulai memunculkan tanda-tanda yang memprihatinkan.

Infrastruktur yang digadang-gadang menjadi solusi pengendalian air sekaligus ruang publik ini kini justru memperlihatkan sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian segera.

‎Berdasarkan pantauan Kupastuntas.co pada Kamis (23/4/2026), genangan air di embung tidak merata. Hanya sekitar setengah area yang terisi air, sementara bagian lainnya tampak kering dan ditumbuhi rerumputan liar.

Kondisi ini kontras dengan fungsi utama embung sebagai penampung air dan pengendali debit saat musim hujan.

‎Tidak hanya itu, sejumlah bagian konstruksi juga terlihat mengalami kerusakan. Dinding embung serta area di atas fasilitas olahraga yang masih berlapiskan tanah tampak mulai ambruk.

Erosi yang diduga akibat guyuran hujan memperparah kondisi tersebut, menimbulkan kekhawatiran akan potensi longsor.

‎Di sekitar kawasan, beberapa pohon yang sebelumnya ditanam untuk memperindah sekaligus mendukung ekosistem justru terlihat tumbang, bahkan ada yang mengering dan mati.

Pemandangan ini mengurangi nilai estetika embung yang dibangun dengan anggaran tidak sedikit.

‎Padahal, proyek Embung Kemiling yang berlokasi di Kelurahan Beringin Raya, Kecamatan Kemiling ini menelan anggaran Rp6,98 miliar dari APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025.

Pembangunan yang diselesaikan dalam waktu 120 hari tersebut mencakup area genangan, checkdam, jembatan hulu, dinding penahan tanah (DPT), hingga saluran pengelak yang terintegrasi.

‎Embung ini dirancang memiliki kapasitas tampung hingga 30 juta liter air, sekaligus dilengkapi fasilitas penunjang seperti jogging track sepanjang 565 meter dan pagar pengaman. Selain fungsi teknis, keberadaan embung juga diharapkan menjadi ruang interaksi sosial bagi masyarakat.

‎Harapan tersebut sejatinya mulai terwujud. Sunardi, salah satu warga Bhayangkara, mengaku keberadaan embung memberikan dampak positif. Kawasan ini menjadi tempat favorit warga untuk berolahraga, terutama pada sore hari dan akhir pekan.

‎“Ramai, warga banyak yang datang untuk olahraga. Mereka juga merasa aman dan nyaman,” ujarnya, saat diwawancarai, Kamis (23/04/2026).

‎Namun, saat disinggung mengenai kondisi embung yang belum optimal, ia memilih tidak banyak berkomentar. Menurutnya, hal tersebut merupakan kewenangan pihak terkait.

‎“Terkait itu mungkin bisa ditanyakan ke Dinas PU,” katanya.

‎Ia juga menjelaskan bahwa proyek tersebut belum sepenuhnya diserahterimakan kepada pemerintah daerah, sehingga tanggung jawab pemeliharaan masih berada di pihak pengembang. Akibatnya, belum ada petugas khusus yang berjaga maupun melakukan perawatan rutin.

‎Kendati begitu, ia berharap akan ada peningkatan fasilitas embung tersebut. Hal ini agar memberikan manfaat dan kenyamanan yang lebih kepada masyarakat.

‎Terlepas dari itu, kondisi ini menjadi catatan penting. Tanpa perawatan yang memadai, potensi kerusakan bisa semakin meluas.

Dinding tanah yang rawan longsor, misalnya, tidak hanya berisiko merusak fasilitas olahraga, tetapi juga membahayakan keselamatan pengunjung.

‎Kondisi tersebut membutuhkan langkah cepat dari pihak terkait untuk melakukan perbaikan sekaligus peningkatan kualitas fasilitas.

Perawatan tanaman, penataan ulang area yang rusak, serta penguatan struktur menjadi kebutuhan mendesak agar embung dapat berfungsi optimal dan tetap aman digunakan.

‎Embung Kemiling bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi juga simbol upaya menyeimbangkan pembangunan dan lingkungan di kawasan permukiman padat.

Karena itu, menjaga kualitas dan keberlanjutannya menjadi tanggung jawab bersama, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. (*)