• Rabu, 22 April 2026

Sebulan Menghilang, MinyaKita Langka di Pasar Gintung Bandar Lampung

Rabu, 22 April 2026 - 14.48 WIB
27

Ilham salah satu pedagang sembako di Pasar Gintung, Rabu (22/4/2026). Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Ketersediaan minyak goreng subsidi “MinyaKita” di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandar Lampung mulai langka. Dalam sebulan terakhir, komoditas tersebut dilaporkan tidak lagi tersedia di tingkat pengecer, memicu keluhan dari pedagang.

Di Pasar Gintung, salah satu pedagang sembako, Dodi, mengaku sudah sekitar satu bulan tidak menerima pasokan “MinyaKita” dari pemasok.

“Sudah kurang lebih sebulan tidak ada barangnya. Kami juga tidak tahu penyebab pastinya karena ambil dari supplier,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Ia menyebut, sebelum menghilang dari pasaran, harga “MinyaKita” berada di kisaran Rp18 ribu per liter. Namun, karena stok kosong, ia tidak dapat memastikan perkembangan harga terbaru.

Hal serupa disampaikan pedagang lain, Ilham, yang juga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dari grosir.

“Sudah lama kosong di grosir. Kami juga tidak tahu kenapa, karena bukan ambil langsung dari Bulog,” katanya.

Menurut Ilham, sebelum langka, harga “Minyak Kita” di tingkat pengecer sempat menyentuh Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter, mengikuti harga beli dari distributor yang sudah lebih tinggi.

Meski “Minyakita” sulit diperoleh, ketersediaan minyak goreng curah jenis lain masih relatif aman di pasaran. Namun, harga komoditas tersebut juga mengalami kenaikan.

“Minyak curah masih ada, tapi harganya sekarang sekitar Rp22 ribu per liter. Harga dari distributor juga sudah naik, ditambah biaya kemasan,” jelasnya.

Menanggapi kelangkaan tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung, Erwin, menjelaskan bahwa distribusi “MinyaKita” sempat tertahan setelah Idulfitri karena diprioritaskan untuk program bantuan pangan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

“Pasca Lebaran, distribusi memang sempat dialihkan untuk bantuan ke KPM, sehingga pasokan ke pasar berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini Perum Bulog mulai kembali menyalurkan “Minyak Kita” ke pasar-pasar, meskipun jumlahnya masih terbatas.

“Penyaluran sudah mulai dilakukan di beberapa pasar seperti Pasar Kangkung dan Pasar Tugu, tapi stoknya belum banyak,” jelasnya.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk sementara waktu memanfaatkan alternatif minyak goreng lain yang tersedia, sambil menunggu distribusi “MinyaKita” kembali normal di pasaran. (*)