Menu MBG Tak Diminati, KPPG Ungkap Kendala Bahan Baku dan Penyusunan Menu
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Provinsi Lampung, Achmad Hery Setiawan saat diwawancarai. Foto: Sandika/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) di Provinsi Lampung kembali menuai sorotan setelah ditemukannya
makanan yang tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat, terutama pelajar. Fenomena
ini memicu kekhawatiran karena selain berpotensi menimbulkan pemborosan, juga
mengindikasikan belum optimalnya pelaksanaan program dalam memenuhi kebutuhan
gizi.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Provinsi Lampung, Achmad Hery Setiawan, mengungkapkan bahwa persoalan tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan bahan baku serta kendala dalam penyusunan menu di tingkat dapur layanan.
Menurutnya, tenaga dapur, khususnya chef bersertifikat, masih memiliki keterbatasan dalam merancang variasi menu di setiap titik layanan. Kondisi ini menyebabkan menu yang disajikan cenderung berulang, sehingga kurang menarik minat penerima manfaat.
”Masih ada keterbatasan dalam penyusunan skema menu oleh tenaga dapur. Ini berpengaruh pada variasi makanan yang diterima,” ujarnya, Selasa (21/04/2026).
Di sisi lain, ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan serius. Meski Lampung memiliki potensi pangan lokal yang melimpah seperti ikan dan udang, distribusi antarwilayah yang belum optimal membuat bahan tersebut tidak selalu tersedia di seluruh daerah. Selain itu, tingginya harga bahan pangan turut membatasi ruang gerak dapur dalam menghadirkan menu yang beragam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai pasok pangan lokal belum terintegrasi secara maksimal. Pemerintah daerah melalui KPPG saat ini tengah mendorong kolaborasi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Kelompok Pengolah dan Pemasar (KPDMP), serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini diharapkan dapat memperkuat distribusi sekaligus menekan biaya bahan baku.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki, menilai faktor perilaku penerima manfaat juga turut memengaruhi kondisi tersebut. Ia menyebut anak-anak yang cenderung memilih makanan atau picky eater menjadi salah satu penyebab makanan tidak dikonsumsi.
”Variasi menu penting agar anak-anak tidak bosan. Ini menjadi tantangan bagi dapur untuk lebih kreatif,” katanya.
Sebelumnya sempat viral kasus yang terjadi di Kecamatan Rawajitu Selatan, Kabupaten Tulang Bawang. Dalam video yang beredar, terlihat makanan MBG tidak dimakan meski telah dibagikan. Diduga, menu yang berulang dan kualitas makanan yang kurang layak menjadi penyebab utama.
Situasi ini menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program MBG, khususnya dalam aspek penyusunan menu dan distribusi bahan baku. Inovasi menu menjadi kunci agar makanan tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga diminati penerima manfaat.
Ke depan, peningkatan kapasitas tenaga dapur, pemanfaatan
potensi pangan lokal, serta perbaikan sistem distribusi diharapkan mampu
mengatasi persoalan ini. Tanpa pembenahan yang serius, risiko makanan terbuang
akan terus terjadi dan tujuan program MBG berpotensi tidak tercapai secara
optimal. (*)
Berita Lainnya
-
Pegadaian Raih 2 Penghargaan Indonesia WOW Brand 2026, Perkuat Ekosistem Digital Emas dan Kepercayaan Nasabah
Selasa, 21 April 2026 -
Ribuan Pengrajin Genteng dan Batu Bata Berhenti Beroperasi, DPRD Desak IUP Segera Diterbitkan
Selasa, 21 April 2026 -
Peringati Hari Kartini, Kepala MAN 1 Bandar Lampung Tekankan Pembentukan Karakter Siswi
Selasa, 21 April 2026 -
UTBK Dimulai, Unila Sediakan 5.000 Kursi, Itera 831 Komputer
Selasa, 21 April 2026








