• Selasa, 21 April 2026

Eva Dwiana: Semangat Raden Ajeng Kartini Harus Hidup dalam Pembangunan Perempuan Masa Kini

Selasa, 21 April 2026 - 08.56 WIB
27

Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Kartini di Lapangan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Selasa (21/4/2026). Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, menegaskan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini masih relevan hingga saat ini dan harus terus dihidupkan dalam kehidupan perempuan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Eva saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Kartini di Lapangan Pemerintah Kota Bandar Lampung, Selasa (21/4/2026).

Dalam amanatnya, Eva menekankan bahwa semangat Kartini bukan hanya milik satu generasi, melainkan harus diwujudkan oleh seluruh perempuan Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pembangunan bangsa.

“Semangat Kartini tidak hanya relevan pada masanya, tetapi terus hidup dan memberi inspirasi bagi perempuan Indonesia dari masa ke masa hingga hari ini,” ujar Eva.

Ia juga mengingatkan bahwa melalui pemikiran-pemikirannya, Kartini telah menegaskan pentingnya pendidikan sebagai jalan pembebasan bagi perempuan. Menurutnya, tanpa akses pendidikan, masa depan perempuan—dan bangsa secara keseluruhan—akan terhambat.

Lebih lanjut, Eva menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan saat ini masih cukup kompleks. Ketimpangan akses, norma sosial, hingga partisipasi dalam berbagai sektor pembangunan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Berdasarkan data nasional, Indeks Pembangunan Gender (IPG) tahun 2024 tercatat sebesar 91,85, yang menunjukkan capaian perempuan relatif mendekati laki-laki, meski peningkatannya berjalan lambat dalam satu dekade terakhir. Sementara itu, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) berada di angka 0,421, yang menandakan masih adanya kesenjangan dalam aspek kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi.

Selain itu, partisipasi perempuan dalam jabatan manajerial baru mencapai sekitar 35,02 persen, dan keterwakilan di parlemen berada di kisaran 22,48 persen. Di sektor ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan juga masih lebih rendah dibandingkan laki-laki.

“Ini menunjukkan bahwa ruang pemberdayaan perempuan perlu terus diperluas, termasuk dalam akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan pengambilan keputusan,” jelasnya.

Di sisi lain, Eva juga menyoroti tantangan di bidang kesehatan dan sosial, seperti masih adanya perempuan yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan serta kasus pernikahan usia dini.

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus berkomitmen memperkuat pemberdayaan perempuan melalui berbagai kebijakan pembangunan, termasuk dalam kerangka Asta Cita yang menempatkan penguatan sumber daya manusia dan kesetaraan gender sebagai prioritas.

Menurutnya, upaya tersebut tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi dari seluruh elemen, mulai dari dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.

“Ke depan, kita harus memastikan perempuan memiliki akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara dalam seluruh sektor pembangunan. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga subjek pembangunan yang berdaya,” tegasnya.

Eva menambahkan, peringatan Hari Kartini harus dimaknai sebagai momentum untuk menghadirkan keadilan dalam pembangunan, sekaligus memastikan perempuan memiliki pilihan, suara, dan kendali atas hidupnya.

“Semangat Kartini hari ini bukan hanya tentang membuka akses, tetapi memastikan perempuan memiliki ruang untuk menentukan masa depan mereka sendiri,” pungkasnya. (*)