• Senin, 20 April 2026

606 Bencana Terjadi di Lampung Sepanjang 2026, 10 Orang Meninggal dan 11 Hilang

Senin, 20 April 2026 - 13.36 WIB
34

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat. Foto: Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Sebanyak 606 kejadian bencana alam dan non-alam terjadi di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2026. Dari ratusan kejadian tersebut, tercatat 10 orang meninggal dunia dan 11 orang dinyatakan hilang.

Berdasarkan data dari website resmi milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung yang dikutip Senin (20/4/2026), bencana yang terjadi didominasi oleh banjir dan angin kencang.

Secara keseluruhan, tercatat 139 kejadian banjir, 2 kejadian banjir rob, 151 kejadian angin kencang, 32 kejadian tanah longsor, 2 kejadian banjir bandang, 2 kejadian banjir disertai longsor, serta 5 kejadian kekeringan.

Kabupaten Pesisir Barat mencatat 30 kejadian angin kencang. Dari jumlah tersebut, terdapat 6 kejadian yang menimbulkan korban, dengan satu orang meninggal dunia dan lima orang hilang.

Di Kabupaten Lampung Barat tercatat 9 kejadian banjir, 1 angin kencang, 2 banjir bandang, dan 2 tanah longsor tanpa korban meninggal dunia.

Kabupaten Tanggamus mengalami tiga kejadian banjir dan dua tanah longsor tanpa korban jiwa.

Kabupaten Pesawaran mencatat 14 kejadian bencana dengan rincian 6 banjir, 7 angin kencang, dan 1 tanah longsor. Seluruh kejadian tidak menimbulkan korban jiwa.

Kabupaten Pringsewu mencatat 21 kejadian banjir dan 11 angin kencang, dengan satu korban hilang. Kabupaten Lampung Utara mengalami 9 kejadian banjir, 4 angin kencang, dan 3 tanah longsor tanpa korban jiwa.

Kabupaten Way Kanan mencatat 5 kejadian banjir dan 3 tanah longsor dengan satu korban luka. Kabupaten Lampung Selatan mencatat 55 kejadian banjir, 9 angin kencang, 35 banjir rob, dan 1 tanah longsor.

Dari kejadian tersebut, dua orang meninggal dunia, empat orang hilang, dan dua orang mengalami luka. Kota Bandar Lampung menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 385 banjir, 81 angin kencang, 52 kekeringan, 5 tanah longsor, dan 20 kejadian banjir disertai longsor.

Bencana tersebut menyebabkan enam orang meninggal dunia, satu orang hilang, dan empat orang luka. Kota Metro mencatat 4 kejadian banjir dan 1 angin kencang tanpa korban meninggal.

Kabupaten Lampung Tengah mengalami 11 kejadian banjir, 1 angin kencang, dan 7 tanah longsor tanpa korban jiwa. Kabupaten Tulang Bawang Barat mencatat 6 kejadian banjir dan 2 angin kencang tanpa korban.

Kabupaten Mesuji mengalami 27 kejadian banjir dan 12 banjir rob tanpa korban jiwa. Kabupaten Tulang Bawang mencatat 7 kejadian angin kencang dan 1 tanah longsor dengan tiga korban luka.

Kabupaten Lampung Timur mengalami 20 kejadian banjir dan 6 angin kencang dengan satu korban meninggal dunia.

Saat dimintai keterangan Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan jika pada bulan Mei Provinsi Lampung akan memasuki fase hidrometeorologi kering.

"Bulan Mei kita akan memasuki fase hidrometeorologi kering, fase el nino akan dimulai sampai September atau bahkan lebih. Waspada ancaman kekeringan yang baru akan memasuki fase nya," kata dia.

Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi kering, seperti kekurangan air bersih hingga gangguan pada sektor pertanian.

Oleh karena itu, Wahyu meminta petani mulai menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.

"Petani dapat memanfaatkan asuransi pertanian melalui Gapoktan sebagai langkah antisipasi untuk menekan risiko gagal panen," katanya.

Selain itu, Wahyu juga menyoroti meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau panjang.

Ia menyebut sejumlah wilayah di Lampung yang rawan karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan.

"Karhutla sering terjadi di Lampung Timur, terutama di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas. Selain itu, titik rawan juga terdapat di Mesuji, Way Kanan, dan Tulang Bawang," ujarnya. (*)