• Sabtu, 18 April 2026

Di Balik Kilau Emas yang Tak Pernah Redup, Oleh: Shiwi Angelica Cindiyasari

Sabtu, 18 April 2026 - 13.26 WIB
26

Shiwi Angelica Cindiyasari, S.Ak., M.B.A, Dosen S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Teknokrat Indonesia. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Emas sebagai komoditas kuno kembali menunjukkan relevansinya di tengah ketidakpastian global yang semakin mengkhawatirkan.

Pada pertengahan April 2026, harga emas batangan Antam berada di kisaran Rp2.893.000 per gram, naik signifikan sekitar Rp30.000 dibandingkan pada hari sebelumnya. Angka ini merupakan cerminan dari kegelisahan para pelaku pasar global. 

Lonjakan ini bukan hanya disebabkan oleh spekulasi pasar biasa. Harga emas dunia diperdagangkan $4.800 per ons pada pertengahan April 2026 setelah investor mempertimbangkan prospek negosiasi antara AS dan Iran, serta kemungkinan kesepakatan damai yang mampu meredakan tekanan inflasi global dan kenaikan suku bunga bank sentral.

Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, telah membuat pasar energi bergejolak dan mendorong investor berlari menuju aset yang dianggap aman, yaitu emas. Hal ini menjadi pola berulang dalam sejarah dunia.

Setiap kali terdapat ketidakpastian kondisi geopolitik, pasar emas akan bereaksi dengan kenaikan harga yang signifikan. Dalam situasi tersebut, emas dianggap sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai kekayaan di tengah gejolak pasar dunia.

Di Indonesia, Kenaikan harga emas diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Menurut Data Bloomberg, pada pertengahan April 2026, nilai tukar rupiah terus menyetuh level terendahnya mencapai Rp17.146.

Dolar yang terus menguat berarti emas lokal otomatis menjadi mahal dalam hal denominasi rupiah. Hal ini dibuktikan dengan harga emas antam yang pernah menyentuh angka tertinggi yaitu sekitar Rp3.1 juta rupiah pada awal bulan Maret 2026 sebelum akhirnya mengalami koreksi kembali pada level saat ini.

Faktanya, pelemahan rupiah ini justru mendorong masyarakat Indonesia yang memiliki dana lebih, berbondong-bondong untuk membeli emas.

Ketika masyarakat berbondong-bondong membeli emas, itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan masyarakat terhadap instrumen keuangan seperti obligasi, saham, bahkan mata uang sedang mengalami penurunan.

Federal Reserve pun akan mengambil sikap hati-hati dalam memutuskan kebijakan moneter, menunggu dan mencermati risiko inflasi sebelum mengambil langkah lebih jauh. Ketidakpastian kebijakan moneter global ini yang menjadi salah satu faktor tambahan atas kenaikan harga emas.

Bagi investor yang sudah bermain lama di komoditas emas, situasi kenaikan harga emas ini menjadi momentum yang bagus untuk mengeruk keuntungan.

Misal, Investor yang membeli emas Antam pada Juli 2025 dengan harga sekitar Rp. 1.908.000 per gram, kini dapat menikmati keuntungan lebih dari 40 an persen. Persenan ini jauh melampaui imbal hasil deposito maupun obligasi dalam periode yang sama.

Namun, bagi investor yang baru akan masuk ke investasi emas sekarang, harus lebih hati-hati dalam mempertimbangkan untuk membeli emas sebagai alat investasi.

Pasar emas yang sedang tinggi bukan berarti tidak bisa turun, koreksi tajam bisa datang kapan saja, terutama jika kondisi geopolitik membaik dengan cepat.

Lonjakan harga emas yang tinggi sering kali memicu fenomena fear of missing out (FOMO), dimana investor berbondong-bondong membeli emas dengan harga tinggi tanpa mempertimbangkan risiko penurunan.

Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan literasi keuangan agar masyarakat memahami dengan baik setiap instrumen investasi termasuk emas.

Lonjakan harga emas yang terus terjadi bukan merupakan kabar gembira, melainkan alarm bagi investor mengenai ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik, fluktuasi nilai tukar, inflasi serta kebijakan suku bunga yang cendrung tinggi di negara maju yang telah mendorong investor untuk mencari instrumen investasi yang lebih aman dan stabil.

Bagi Pemerintah dan Otoritas Moneter, lonjakan ini menjadi panggilan untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik, menjaga stabilitas rupiah, dan terus menciptakan instrumen investasi yang aman dan kredibel bagi masyarakat.

Bagi Investor, Investasi emas sebaikknya tidak dijadikan satu-satunya pilihan, melainkan di kombinasikan dengan instrumen lainnya dalam satu portofolio yang terdiversifikasi.

Dengan pemahaman yang baik dan strategi yang tepat, emas dapat menjadi investasi yang efektif untuk menjaga nilai kekayaan dan menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia.

Pendaftaran Mahasiswa Baru di spmb.teknokrat.ac.id (*)