• Jumat, 17 April 2026

Produktivitas Kopi Terancam, Pemkab Lambar Gandeng BI Lewat Skema CSR

Kamis, 16 April 2026 - 21.23 WIB
25

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, saat mengunjungi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kamis (16/04). Foto: Ist

Kupastuntas.co, Lampung Barat - Upaya menyelamatkan produktivitas kopi robusta Lampung Barat dari ancaman tanaman tua dan lemahnya pengolahan pascapanen mulai digencarkan pemerintah daerah. Salah satunya melalui penjajakan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) ke Bank Indonesia sebagai langkah memperkuat daya saing komoditas unggulan tersebut.

Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, melakukan kunjungan kerja ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kamis (16/04), guna membahas peluang kolaborasi dalam meningkatkan produksi, nilai tambah, serta daya saing kopi robusta dan kakao.

Upaya ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi bagian dari strategi memperkuat sektor riil berbasis komoditas unggulan. Pemerintah daerah menilai, kolaborasi dengan Bank Indonesia penting untuk mendorong peningkatan produksi sekaligus memperluas akses pasar bagi petani dan pelaku usaha lokal.

Dalam pertemuan itu, Parosil Mabsus memaparkan bahwa Lampung Barat merupakan sentra terbesar kopi robusta di Provinsi Lampung. Selain itu, komoditas kakao juga mulai menunjukkan kebangkitan, khususnya di wilayah Suoh, Bandar Negeri Suoh, dan Batu Brak.

Namun demikian, potensi besar tersebut masih dihadapkan pada sejumlah persoalan mendasar. Salah satunya adalah produktivitas tanaman yang belum optimal akibat banyaknya tanaman kopi yang telah berusia tua dan membutuhkan peremajaan.

Di sisi hilir, persoalan juga muncul pada proses pengolahan. Sebagian besar kopi masih dijual dalam bentuk green bean dengan mutu yang belum seragam, terutama karena keterbatasan teknologi pascapanen yang dimiliki petani.

Padahal, peluang pasar untuk kopi robusta Lampung Barat terbilang sangat terbuka. Permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor, terus mengalami peningkatan, terutama dari negara-negara di kawasan Eropa dan Asia.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah mendorong penguatan program hilirisasi sebagai solusi. Langkah ini mencakup pembangunan rumah produksi, pabrik pengolahan, penguatan UMKM, hingga strategi promosi dan branding kopi Lampung Barat sebagai produk berkualitas.

“Pemerintah daerah telah mendukung dengan program Sekolah Kopi, pemberian bantuan sarana pascapanen, hingga pengembangan wisata berbasis kopi yang semakin memperkuat Lampung Barat sebagai salah satu ikon kopi robusta Indonesia,” ujar Parosil.

Sebagai bentuk konkret kolaborasi, Bupati Lampung Barat juga mengusulkan sejumlah program yang dapat didukung melalui CSR Bank Indonesia. Salah satunya adalah penyelenggaraan Festival Jemur Kopi sebagai ajang promosi berbasis komoditas lokal.

Festival tersebut dirancang tidak hanya menampilkan proses penjemuran kopi secara massal, tetapi juga dilengkapi dengan pameran UMKM, edukasi kopi, serta atraksi seni budaya lokal yang melibatkan masyarakat.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan branding kopi Lampung Barat agar dapat menarik kunjungan wisatawan serta mendorong interaksi antara petani, pelaku usaha, dan pasar,” kata Parosil.

Ia menambahkan, festival ini juga memiliki nilai edukatif, khususnya dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya kualitas pascapanen dalam menentukan mutu kopi yang dihasilkan.

Selain itu, pemerintah daerah juga berencana melakukan penataan ulang UMKM yang telah tumbuh melalui program Sekolah Kopi. Penataan tersebut dilakukan dengan menyediakan fasilitas container booth agar pelaku usaha memiliki ruang yang lebih representatif.

Sebanyak empat unit container booth diusulkan dalam program tersebut, dengan estimasi anggaran sekitar Rp150 juta per unit. Fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat fungsi Sekolah Kopi sebagai pusat eduwisata berbasis komoditas.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Aprilianto, menyatakan pihaknya menyambut baik inisiatif yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat.

Menurutnya, pengembangan UMKM dan komoditas unggulan daerah memang menjadi bagian dari fokus program sosial Bank Indonesia. Pihaknya akan melakukan kajian lebih lanjut terhadap usulan tersebut dan menyesuaikannya dengan program yang tersedia. (*)