• Minggu, 19 April 2026

Wamenkes–Wamendagri Apresiasi Eva Dwiana dan Gubernur, Bandar Lampung Disiapkan Jadi Percontohan Penanggulangan TBC

Rabu, 15 April 2026 - 16.28 WIB
36

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus saat mengunjungi Bandar Lampung, Selasa (14/4/2026). Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah pusat memberikan perhatian serius terhadap upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Kota Bandar Lampung. Dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Selasa (14/4/2026), Bandar Lampung dinilai siap menjadi daerah percontohan dalam penanganan TBC di Indonesia.

Kunjungan yang dipusatkan di Aula Semergo, Pemerintah Kota Bandar Lampung, serta dilanjutkan ke Puskesmas Way Halim 2 ini turut dihadiri Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, serta Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela.

Wali Kota Eva Dwiana menegaskan bahwa Bandar Lampung akan terus diperkuat sebagai kota percontohan dalam penanggulangan penyebaran TBC. Upaya tersebut dilakukan melalui pemeriksaan rutin, khususnya terhadap pasien dan keluarga sebagai kontak erat.

“Kita akan terus rutin melakukan pengecekan terhadap pasien, khususnya keluarga, untuk meminimalisir penyebaran penyakit TB,” ujar Eva.

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah kota dalam memperkuat deteksi dini dan pencegahan, sekaligus memastikan layanan kesehatan berjalan optimal hingga tingkat puskesmas.

Sementara itu, Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus menekankan pentingnya deteksi dini serta pelacakan kontak erat dalam memutus rantai penularan TBC. Ia mengingatkan bahwa pemeriksaan tidak hanya dilakukan pada pasien, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.

“Untuk penderita TB, keluarga dan lingkungan sekitarnya juga harus dilakukan pemeriksaan paru. Karena seseorang bisa saja terinfeksi hari ini, tetapi gejalanya baru muncul dan terdeteksi tahun depan,” ungkapnya.

Benjamin menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan secara total melalui pengobatan medis yang tepat, serta layanan pengobatan gratis yang tersedia di puskesmas. Ia juga meminta fasilitas kesehatan tingkat pertama agar lebih aktif melakukan pelacakan kontak erat pasien.

Menurutnya, lemahnya upaya pencegahan menjadi salah satu penyebab masih tingginya potensi kasus baru. Ia mencontohkan, dalam satu wilayah bisa saja terdapat 100 pasien yang telah diobati, namun pada tahun berikutnya kembali muncul jumlah kasus yang sama.

“Pencegahan di setiap wilayah harus diperkuat agar kasus baru tidak terus muncul setiap tahun,” tegasnya.

Dalam paparannya, Wamenkes juga mengungkapkan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius secara nasional dengan angka kematian mencapai sekitar 125 ribu orang per tahun. Indonesia bahkan menempati peringkat kedua dengan kasus TBC tertinggi di dunia.

Untuk itu, pemerintah pusat mendorong berbagai langkah strategis, mulai dari skrining kesehatan massal, penguatan fasilitas kesehatan, hingga pelibatan kader di tingkat desa dan kelurahan.

Di sisi lain, Wamendagri Akhmad Wiyagus menargetkan penanganan TBC dapat diselesaikan dalam tiga tahun ke depan. Ia menilai Bandar Lampung memiliki potensi besar dengan dukungan data yang baik serta sekitar 10 ribu kader kesehatan.

“Saya optimistis, dengan potensi yang ada, TBC di kota ini bisa segera tuntas,” ujarnya.

Gubernur Tekankan Kolaborasi dan Deteksi Dini

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa percepatan eliminasi TBC harus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor serta penguatan deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Menurutnya, TBC tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga produktivitas dan ekonomi masyarakat. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa dari setiap 10 orang yang melakukan cek kesehatan, sekitar tiga orang memiliki indikasi penyakit seperti hipertensi atau diabetes.

“Ini menunjukkan bahwa deteksi dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak penguatan layanan di tingkat puskesmas dalam menekan rujukan ke rumah sakit, yang sebelumnya bisa mencapai 600 hingga 700 pasien per hari di RSUD Abdul Moeloek.

Selain itu, Gubernur mengapresiasi peran kader kesehatan serta capaian kinerja daerah, di mana Standar Pelayanan Minimal (SPM) meningkat dari 103 persen pada 2024 menjadi 131 persen pada 2025, serta capaian pengobatan TBC mencapai 98 persen.

“Kita harus tancap gas pada 2026 untuk mempercepat penemuan kasus TBC agar target eliminasi bisa tercapai,” tegasnya.

Kunjungan ini menjadi bukti kuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat eliminasi TBC. Dengan kolaborasi yang solid, Bandar Lampung diharapkan mampu menjadi role model nasional dalam penanganan penyakit menular tersebut. (*)