Kemarau Panjang Mengintai, Fauzi Heri Desak Dinas Pertanian Siapkan Langkah Antisipatif
Anggota Komisi II DPRD Lampung, Fauzi Heri. Foto: Sandika/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Komisi II DPRD Provinsi Lampung
mengingatkan seluruh pihak untuk segera menyiapkan langkah antisipasi
menghadapi ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino ekstrem yang
diprediksi terjadi pada pertengahan 2026.
Fenomena yang kerap disebut sebagai “El Nino Godzilla” ini diperkirakan
dapat memicu kekeringan parah dan berdampak serius terhadap sektor pertanian di
Provinsi Lampung.
Menyikapi hal tersebut, Anggota Komisi II DPRD Lampung, Fauzi Heri,
mengatakan pihaknya telah mengagendakan pemanggilan Dinas Ketahanan Pangan,
Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung guna membahas
langkah mitigasi.
“Kami sudah menjadwalkan akan memanggil Dinas Pertanian Provinsi Lampung
pada Senin, 20 April 2026, untuk membahas langkah mitigasi El Nino ekstrem
ini,” ujar Fauzi Heri, Senin (13/4/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan prediksi BPBD dan BMKG, Lampung termasuk
salah satu wilayah zona merah yang berpotensi mengalami kekeringan hebat.
“Ini bencana yang sudah terprediksi. Disebut ‘Godzilla’ karena potensi
kekeringannya luar biasa,” katanya.
Sebagai daerah agraris, Fauzi mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan
seluruh pihak, khususnya petani, dalam mengelola sumber daya air secara bijak.
“Seluruh pihak, terutama petani, harus mulai melakukan penghematan air.
Jika resapan air mengering, maka sumur bor hingga debit air di waduk-waduk
besar juga akan terdampak,” jelasnya.
Dalam upaya menjaga produktivitas pertanian, Komisi II DPRD Lampung
mendorong penerapan pendekatan berbasis keilmuan, termasuk penggunaan varietas
tanaman yang tahan terhadap kondisi minim air.
Menurut Fauzi, Dinas Pertanian perlu menyiapkan bibit unggul, seperti
jagung atau padi varietas tertentu yang mampu tumbuh di lahan kering maupun
dengan tingkat keasaman tanah tertentu.
“Penggunaan bibit yang tepat sangat penting. Ada varietas padi yang tahan
terhadap air minim, ada juga yang membutuhkan banyak air. Ini harus
disesuaikan,” imbuhnya.
Terkait infrastruktur pendukung, Fauzi mengakui bahwa fasilitas seperti
sumur bor sebenarnya sudah cukup tersedia. Namun, kendala utama masih berada
pada tingginya biaya operasional, khususnya kebutuhan listrik atau bahan bakar
genset.
“Sarana pertanian sebenarnya sudah ada. Namun, persoalannya ada pada biaya listrik. Saat ini sudah ada nota kesepahaman dengan PLN agar jaringan listrik bisa menjangkau wilayah pertanian, sehingga dapat menekan biaya operasional petani,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia juga meminta Dinas Pertanian melakukan pemetaan struktur
tanah di wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
Pemetaan tersebut dinilai penting untuk memberikan panduan kepada petani,
baik dalam menentukan percepatan masa tanam maupun melakukan alih komoditas ke
tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
“Pada 20 April nanti, kami akan membahas secara menyeluruh, mulai dari
prediksi cuaca hingga strategi menjaga produktivitas pertanian agar tidak
mengalami penurunan signifikan,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
HMJ PAI UIN Raden Intan Lampung Gelar Open Recruitment 2026: Awal Regenerasi Kepemimpinan yang Berintegritas
Senin, 13 April 2026 -
Biaya Penerbangan Naik, Pemprov Lampung Pastikan Jemaah Haji Tetap Berangkat 26 April
Senin, 13 April 2026 -
Dipergoki Kurir Paket, Empat Pencuri Gagal Gasak Motor di Sukarame Bandar Lampung
Senin, 13 April 2026 -
Pencuri Gasak 46 Batang Rel Kereta di Way Kanan, KAI: Berpotensi Menyebabkan Kecelakaan
Senin, 13 April 2026








