• Sabtu, 11 April 2026

Berunding di Islamabad, AS dan Iran Mulai Negosiasi Wujudkan Perdamaian

Sabtu, 11 April 2026 - 13.55 WIB
56

Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar (kedua dari kanan) dan Kepala Angkatan Darat Syed Asim Munir (kedua dari kiri) berjalan bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas saat menuju lokasi perundingan. Foto: AFP/HANDOUT/PAKISTAN'S MINISTRY OF FOREIGN AFFAIRS

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Upaya mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase krusial. Kedua negara dipastikan akan memulai perundingan penting di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4/2026), guna membahas kelanjutan gencatan senjata sementara yang telah disepakati sebelumnya.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting, meski ia mengingatkan proses menuju perdamaian tidak akan mudah.

"Sebagai tanggapan atas undangan tulus saya, para pemimpin kedua negara akan datang ke Islamabad. Di sana, negosiasi akan digelar untuk mewujudkan perdamaian," kata Sharif dalam pidatonya pada Jumat (10/4) waktu setempat dilansir dari AFP.

Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, telah lebih dahulu tiba di Islamabad. Sementara itu, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dilaporkan masih dalam perjalanan menuju Pakistan.

Pengamanan ketat diberlakukan di ibu kota Pakistan. Seluruh akses menuju lokasi perundingan di Hotel Serena ditutup, sementara berbagai spanduk dan papan digital di sepanjang jalan menandai berlangsungnya “Perundingan Islamabad”.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dicapai pada 7 April lalu, setelah konflik yang berlangsung sejak akhir Februari. Perundingan di Islamabad diharapkan mampu mengarah pada kesepakatan yang lebih permanen.

"Gencatan senjata sementara telah diumumkan, tetapi sekarang ada tahap yang lebih sulit di depan: tahap mencapai gencatan senjata yang langgeng, menyelesaikan masalah-masalah rumit melalui negosiasi. Ini adalah tahap yang, dalam bahasa Inggris, disebut sebagai 'penentu keberhasilan atau kegagalan'," ucap Sharif dalam pidatonya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah Pakistan akan berupaya maksimal agar perundingan ini membuahkan hasil positif.

Di sisi lain, Iran menyatakan datang dengan itikad baik, meski tetap menyimpan keraguan terhadap Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ghalibaf setibanya di Islamabad.

"Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang tidak ditepati," ucap Ghalibaf, seperti dikutip televisi pemerintah Iran.

Sejumlah syarat juga diajukan Teheran menjelang dimulainya perundingan. Iran meminta agar gencatan senjata turut berlaku di Lebanon, wilayah di mana Israel masih melakukan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Selain itu, Iran juga menuntut pencabutan pembekuan aset-asetnya di luar negeri akibat sanksi Amerika Serikat.

Dari pihak Amerika Serikat, sikap waspada juga ditunjukkan oleh JD Vance sebelum keberangkatannya ke Pakistan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan perundingan sangat bergantung pada keseriusan Iran dalam bernegosiasi.

"Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka," ucapnya.

"Jika mereka berusaha mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi yang tidak begitu responsif," ujar Vance memperingatkan Iran.

Perundingan di Islamabad ini dinilai sebagai tahap paling menentukan dalam upaya meredakan ketegangan antara kedua negara yang selama ini diliputi ketidakpercayaan dan perbedaan kepentingan. (*)