• Rabu, 08 April 2026

Kenaikan Harga Plastik Tekan Pelaku Usaha Tahu di Bandar Lampung, Biaya Produksi Naik Hingga Dua Kali Lipat

Rabu, 08 April 2026 - 19.28 WIB
9

Pabrik tahu milik H. Tikno yang berlokasi di Jalan Pulau Morotai Gg. Saleh Jayabaya, Kecamatan Way Halim, Rabu (8/4/2026). Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kenaikan harga plastik dalam beberapa minggu terakhir mulai berdampak pada pelaku usaha tahu dan juga tempe yang ada di Kota Bandar Lampung.

Salah satunya dirasakan oleh pabrik tahu milik H. Tikno yang berlokasi di Jalan Pulau Morotai Gg. Saleh Jayabaya, Kecamatan Way Halim.

Manager pabrik tahu H. Tikno, Silvi, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik cukup signifikan dan berpotensi memengaruhi harga jual produk jika kondisi terus berlanjut.

"Untuk plastik biasanya kita langsung beli ke PT, ada juga yang sebagian kita beli di grosir. Biasanya satu karung harganya Rp720 ribu, sekarang bisa sampai Rp1 juta. Jadi ada kenaikan sekitar Rp300 ribu dalam satu karung," ujarnya saat dimintai keterangan, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, selama harga plastik masih relatif stabil, pihaknya masih berupaya mempertahankan harga tahu dan tempe agar tidak mengalami kenaikan.

Namun jika kenaikan terus terjadi, kemungkinan penyesuaian harga tidak dapat dihindari.

"Kalau masih stabil seperti ini mungkin harga tempe dan tahu masih sama. Tapi kalau naik terus, kemungkinan ada kenaikan harga," katanya.

Dalam operasional sehari-hari, pabrik tahu tersebut menghabiskan sekitar 2 hingga 3 ton kedelai per hari.

Produk yang dihasilkan kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah, mulai dari Bandar Lampung hingga daerah seperti Gisting, Kotagajah, hingga Hanura.

Silvi juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sudah berlangsung cukup lama dan berdampak langsung pada anggaran operasional perusahaan.

"Kenaikan plastik sudah ada beberapa minggu ini. Jadi yang biasanya kita anggarkan dalam seminggu beli plastik sekitar Rp2 juta, sekarang bisa sampai Rp4 juta," jelasnya.

Sebagai alternatif, pihaknya berencana mengevaluasi penggunaan bahan kemasan lain seperti daun. Namun, langkah tersebut masih dalam tahap uji coba.

"Untuk beralih menggunakan daun itu mau kita evaluasi dulu, kita coba sebelum diterjunkan. Karena selama ini kita menggunakan plastik," ujarnya.

Selain itu, pihak pabrik juga sempat mencoba menggunakan kedelai lokal. Namun, hasilnya dinilai belum memenuhi standar kualitas produksi tahu.

"Untuk kedelai lokal dulu sempat coba, tapi tidak mendukung. Tidak jadi aci, tidak mengembang, jadi tidak ada hasilnya. Memang kualitasnya belum mendukung. Mungkin kalau suatu saat bisa, ya kita pakai produk kita," pungkasnya.

Kenaikan harga plastik ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha tahu dan tempe, terutama dalam menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi biaya produksi. (*)