Harga Plastik Naik, DPRD Lampung Minta Pemerintah Ambil Langkah Antisipatif Lindungi UMKM
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fauzi Heri. Foto: Sandika/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Kenaikan harga
bahan baku plastik hingga 30–50 persen mulai memberikan tekanan serius terhadap
pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan dan
industri kemasan.
Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada
meningkatnya biaya produksi, yang berpotensi mendorong kenaikan harga di
tingkat konsumen. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi daya beli masyarakat
jika tidak segera diantisipasi.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Fauzi
Heri, mengatakan kenaikan harga plastik tidak terlepas dari tingginya
ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor, terutama nafta (naphtha)
sebagai komponen utama industri petrokimia.
”Bahan baku plastik kita masih bergantung pada
impor. Ketika terjadi gejolak global atau kenaikan harga energi, dampaknya
langsung dirasakan hingga ke pelaku usaha di daerah,” ujar Fauzi, Rabu
(8/4/2026).
Menurutnya, pelaku UMKM menjadi kelompok paling
rentan terdampak, terutama mereka yang bergerak di sektor makanan, perdagangan
kecil, dan industri kemasan yang sangat bergantung pada plastik.
”Jika beban biaya dialihkan ke konsumen, daya beli
bisa turun. Namun, jika ditahan, pelaku usaha yang akan semakin tertekan,”
jelasnya.
Fauzi menegaskan, pemerintah daerah perlu segera
mengambil langkah antisipatif untuk meredam dampak tersebut. Upaya yang dapat
dilakukan antara lain pemberian insentif, kemudahan akses bahan baku, serta
pendampingan bagi pelaku usaha terdampak.
Selain itu, ia mendorong dinas terkait untuk
segera memetakan sektor-sektor yang paling terdampak agar kebijakan yang
diambil lebih tepat sasaran.
”Bisa melalui bantuan distribusi, fasilitasi
produksi, atau dukungan lainnya agar UMKM tetap bertahan di tengah tekanan
biaya,” katanya.
DPRD Lampung juga membuka peluang mendorong
pembentukan regulasi daerah (Perda) yang berfokus pada perlindungan dan
penguatan UMKM. Meski demikian, ia mengakui kebijakan daerah memiliki
keterbatasan dalam menghadapi persoalan yang dipengaruhi faktor global.
”Ini bukan semata persoalan lokal. Ada faktor
internasional dan kebijakan nasional yang sangat berpengaruh. Perda lebih pada
perlindungan UMKM,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, Fauzi menilai penguatan industri petrokimia nasional menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku plastik. Diversifikasi sumber impor juga dinilai penting guna menjaga stabilitas pasokan.
Sementara itu, opsi peralihan ke bioplastik
dinilai belum dapat menjadi solusi instan. Selain harga yang relatif lebih
mahal, kapasitas produksi dalam negeri juga masih terbatas.
”Bioplastik tetap perlu didorong, tetapi secara
bertahap dengan menyiapkan ekosistem industri dari hulu hingga hilir,”
jelasnya.
Ia mengingatkan, kenaikan harga plastik berpotensi
menimbulkan efek berantai terhadap harga kebutuhan pokok jika tidak segera
ditangani.
”Ketika biaya kemasan meningkat, biaya distribusi
ikut naik. Ini akan berdampak pada harga barang di masyarakat,” tegasnya.
Dalam waktu dekat, DPRD Lampung akan berkoordinasi
dengan dinas perindustrian, koperasi, dan UMKM untuk merumuskan langkah konkret
dalam merespons kondisi tersebut.
Fauzi menekankan, di tengah tekanan global,
perlindungan terhadap UMKM menjadi kunci utama agar sektor riil tetap bertahan
tanpa membebani masyarakat sebagai konsumen akhir. (*)
Berita Lainnya
-
Gerakan Hari Kamis Beradat Diperkuat Lewat Kursus Bahasa Lampung Online
Rabu, 08 April 2026 -
Cipayung Plus Bandar Lampung Kawal Aksi Petani Tebu Mitra PT PSMI Besok
Rabu, 08 April 2026 -
Komisi IV DPRD Bandar Lampung Dorong Perwali Penghapusan Uang Komite SMP Segera Diterbitkan
Rabu, 08 April 2026 -
Manusia Silver Pelaku Pembacokan Sopir Travel Ditangkap di Banten
Rabu, 08 April 2026








