• Rabu, 08 April 2026

Harga Plastik Naik, Disperindag Lampung Imbau Industri Tahu Tempe Gunakan Daun Pisang

Rabu, 08 April 2026 - 18.43 WIB
15

Kepala Disperindag Provinsi Lampung M. Zimmi Skil saat meninjau pabrik tahu di Jagabaya, Bandar Lampung, Rabu (8/4/2026). Foto: Ria/kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) turun langsung ke lapangan menindaklanjuti isu kenaikan harga plastik yang berdampak pada industri tempe dan tahu di Provinsi Lampung.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung melakukan peninjauan langsung ke salah satu pabrik tahu milik H. Tikno di Jalan Pulau Morotai Gang Saleh, Jayabaya, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung, Rabu (8/4/2026).

Kepala Disperindag Provinsi Lampung, M. Zimmi Skil mengatakan, kenaikan harga plastik saat ini cukup signifikan dan mencapai 40 hingga 70 persen.

Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi biaya produksi tempe dan tahu, mengingat sebagian besar industri masih menggunakan plastik sebagai bahan kemasan.

"Pada hari ini kami dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung turun langsung ke industri tempe dan tahu untuk menindaklanjuti isu kenaikan harga plastik yang berdampak ke Provinsi Lampung," ujar Zimmi saat meninjau lokasi.

Ia menjelaskan, kenaikan harga plastik disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku plastik yang berasal dari nafta, yaitu turunan minyak bumi yang diolah menjadi biji plastik.

Naiknya harga minyak dunia akibat situasi geopolitik global turut memengaruhi harga nafta, terutama distribusi minyak yang melewati Selat Hormuz.

"Nafta itu berasal dari minyak bumi yang kemudian diolah menjadi biji plastik. Karena geopolitik global yang tidak menentu dan jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, maka berdampak pada kenaikan harga plastik," jelasnya.

Meski demikian, Zimmi memastikan bahwa bahan baku utama tempe dan tahu, yakni kedelai impor, masih dalam kondisi aman dan stabil. Ia menyebutkan kedelai impor yang berasal dari Amerika Serikat masih tersedia cukup di Provinsi Lampung.

Bahkan, berdasarkan pantauan terbaru, harga kedelai masih berada di angka Rp10.000 per kilogram, lebih rendah dari harga acuan pemerintah sebesar Rp12.000 per kilogram.

Hal ini dinilai memberikan ruang bagi pelaku industri untuk tetap menjaga harga tempe dan tahu agar tidak mengalami kenaikan.

"Kedelai tidak naik. Saya pantau sore ini harga kedelai sekitar sepuluh ribu per kilogram, masih di bawah harga acuan pemerintah dua belas ribu. Artinya pelaku industri masih memiliki margin," kata Zimmi.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa stok kedelai di Lampung masih cukup besar. Salah satunya di PT Budi Andalan Group yang saat ini memiliki stok sekitar 500 ton kedelai impor.

"Stok kedelai di PT Budi Andalan Group sekitar 500 ton. Jadi kita pastikan bahan baku tempe dan tahu aman, tidak ada masalah distribusi," tambahnya.

Sebagai solusi atas kenaikan harga plastik, Disperindag Lampung mengimbau pelaku industri tempe untuk beralih menggunakan daun pisang sebagai kemasan. Selain lebih murah, penggunaan daun pisang juga dinilai lebih sehat dan diminati konsumen.

"Kami menghimbau khususnya untuk tempe agar menggunakan daun pisang. Selain lebih murah, ini juga bagian dari kearifan lokal dan lebih diminati konsumen," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa penggunaan plastik yang tidak sesuai standar dapat berpotensi menimbulkan risiko kesehatan, terutama jika plastik mengandung residu dari bahan nafta.

"Kalau penggunaan plastik tidak sesuai standar, bisa berdampak pada kesehatan. Sementara daun pisang lebih aman dan alami," tegasnya.

Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait penyediaan bahan baku nafta.

Saat ini, pemerintah pusat disebut tengah melakukan negosiasi dengan beberapa negara di kawasan Afrika dan Amerika guna menjaga stabilitas pasokan bahan baku plastik.

"Pemerintah pusat sedang negosiasi ya dengan Afrika dan Amerika untuk mendapatkan minyak buminya. Gitu. Sehingga mudah-mudahan permasalahan plastik ini pemerintah memiliki solusi bahan baku tersebut nafta tersebut," pungkasnya. (*)