• Rabu, 08 April 2026

‎Efisiensi Energi sebagai Jalan Nyata Menuju Kemandirian Energi di Lampung, Oleh: Elka Pranita

Rabu, 08 April 2026 - 21.24 WIB
15

‎Elka Pranita, M.T., Dosen S1 Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia. Foto: Ist.

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - ‎Kebutuhan energi listrik di Indonesia, termasuk di Lampung, terus mengalami peningkatan seiring pertumbuhan penduduk, aktivitas industri, dan perkembangan teknologi.

Namun di sisi lain, kita masih dihadapkan pada ketergantungan terhadap energi fosil yang tidak hanya terbatas jumlahnya, tetapi juga sangat rentan terhadap dinamika global.

‎Dalam beberapa tahun terakhir, gejolak politik internasional seperti konflik kawasan dan ketidakstabilan pasokan energi dunia telah berdampak langsung pada harga bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi ini mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil berbagai kebijakan strategis, termasuk penghematan energi dan pengendalian konsumsi BBM.

Kebijakan ini bukan semata-mata langkah jangka pendek, tetapi menjadi sinyal kuat bahwa ketahanan energi nasional perlu segera diperkuat.

‎Dalam konteks tersebut, efisiensi energi menjadi langkah strategis yang tidak bisa lagi ditunda. Efisiensi energi bukan sekadar penghematan, tetapi merupakan upaya cerdas dalam menggunakan energi secara optimal tanpa mengurangi produktivitas.

Ini adalah fondasi penting dalam menghadapi krisis energi global sekaligus memperkuat kemandirian energi di tingkat daerah.

‎Lampung memiliki posisi yang sangat potensial dalam mendukung agenda ini. Daerah yang kaya akan sumber energi Baru (EBT), mulai dari energi surya yang melimpah sepanjang tahun, potensi angin di wilayah pesisir, hingga biomassa dari sektor pertanian seperti limbah kelapa sawit, jagung, dan singkong.

Potensi ini seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga global.

‎Namun demikian, pengembangan EBT tidak akan maksimal tanpa diiringi dengan kesadaran efisiensi energi di tingkat masyarakat.

Realitanya, masih banyak energi yang terbuang sia-sia akibat penggunaan peralatan listrik yang tidak efisien, kebiasaan konsumtif, serta minimnya edukasi terkait penghematan energi.

Padahal, dalam situasi global saat ini, setiap penghematan energi memiliki dampak ekonomi dan strategis yang signifikan.

‎Langkah sederhana seperti penggunaan lampu LED, pengaturan pemakaian pendingin ruangan, serta pemanfaatan pencahayaan alami dapat memberikan kontribusi nyata jika dilakukan secara luas.

Di sektor industri dan pemerintahan, audit energi serta penerapan teknologi hemat energi juga menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi pilihan.

‎Di sisi lain, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai motor inovasi. Hal ini telah mulai terlihat dari berbagai karya mahasiswa yang bersifat aplikatif.

Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia, misalnya, telah mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu skala kecil, sepeda listrik, serta pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya untuk mendukung kendaraan listrik berupa mobil listrik karya mahasiswa Teknik Elektro.

‎Tidak hanya itu, implementasi nyata juga telah dilakukan melalui pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai sumber penerangan lampu bagan bagi nelayan di Desa Rangai Tri Tunggal.

Inovasi ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir, sekaligus menjadi solusi atas mahal dan tidak stabilnya penggunaan BBM untuk operasional nelayan.

Kehadiran teknologi tepat guna ini membuktikan bahwa efisiensi energi dan energi terbarukan dapat berjalan beriringan dalam menjawab tantangan global.

‎Inovasi-inovasi tersebut menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis energi tidak harus selalu berskala besar. Justru, langkah kecil yang aplikatif dan tepat sasaran dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

‎Pemerintah daerah juga perlu memperkuat peran melalui kebijakan yang adaptif terhadap kondisi global, seperti pemberian insentif bagi penggunaan energi terbarukan, regulasi bangunan hemat energi, serta program edukasi masyarakat yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan energi daerah.

‎Efisiensi energi dan pengembangan energi baru terbarukan kini bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga isu ekonomi dan geopolitik.

Ketergantungan pada energi fosil membuat kita rentan terhadap tekanan global, sementara efisiensi energi memberikan jalan menuju kemandirian.

‎Lampung memiliki semua modal untuk menjadi pelopor kemandirian energi di tingkat daerah. Yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen bersama untuk bergerak, mulai dari kebijakan, inovasi, hingga perubahan perilaku masyarakat.

Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. dimulai dari langkah kecil, dari rumah, dari kampus, dan dari keberanian mengambil keputusan untuk masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

‎Daftar kuliah di spmb.teknokrat.ac.id. (*)