• Jumat, 13 Maret 2026

Jelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Baru Marak di Bandar Lampung, Warga Rela Bayar Admin 20 Persen

Jumat, 13 Maret 2026 - 10.45 WIB
24

Seorang warga saat bertransaksi membeli uang baru di sekitaran Ramayana Bandar Lampung. Foto: Sri/Kupastuntas.co

Sri

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan baru untuk tradisi berbagi atau memberikan “THR” kepada anak-anak dan keluarga semakin meningkat.

Kondisi ini terlihat dari maraknya jasa penukaran uang baru yang bermunculan di sejumlah titik di Kota Bandar Lampung, salah satunya di kawasan depan Ramayana Tanjung Karang.

Pantauan di lokasi pada Jumat (12/3/2026), beberapa orang terlihat membuka lapak jasa penukaran uang dengan berbagai pecahan mulai dari Rp2.000, Rp5.000 hingga Rp10.000. Masyarakat pun silih berganti datang untuk menukar uang meski harus membayar biaya tambahan atau admin yang cukup besar.

Salah satu penjaga jasa penukaran uang, Beri, mengatakan bahwa jumlah masyarakat yang datang untuk menukar uang tidak menentu setiap harinya. Namun biasanya, semakin mendekati Hari Raya Idul Fitri, jumlah penukar akan semakin meningkat.

“Tidak menentu ramainya penukaran uang. Tapi biasanya kalau sudah semakin dekat Lebaran, masyarakat yang datang menukar uang makin ramai,” kata Beri saat ditemui di lokasi.

Ia menjelaskan, jasa penukaran uang yang dijaganya mengenakan biaya admin sekitar 20 persen dari total nominal uang yang ditukarkan. Hal tersebut menurutnya sudah menjadi tarif umum di jasa penukaran uang musiman menjelang Lebaran.

“Per Rp100 ribu adminnya Rp20 ribu. Jadi kalau orang menukar Rp100 ribu, bayarnya Rp120 ribu,” jelasnya.

Meski demikian, Beri mengaku dirinya bukan pemilik usaha penukaran uang tersebut dan hanya bertugas menjaga serta melayani masyarakat yang datang menukar uang.

“Ini punya orang, saya hanya menjalani saja,” ujarnya singkat.

Hal serupa juga diungkapkan oleh penjaga jasa penukaran uang lainnya yang berada tidak jauh dari Posko Mudik Lebaran di kawasan yang sama. Ia juga menyebut hanya bertugas menjaga lapak penukaran, sementara pemilik usaha tidak berada di lokasi.

“Bukan punya saya, saya hanya jaga saja. Ada bosnya lagi,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat tetap memanfaatkan jasa penukaran uang tersebut karena kesulitan mendapatkan uang pecahan baru di bank.

Salah satu warga, Leoza, mengaku sengaja menukar uang pecahan Rp2.000 untuk dibagikan kepada anak-anak saat Hari Raya Idul Fitri nanti.

“Iya, saya menukar pecahan Rp2.000 baru. Satu gepoknya Rp200 ribu, ini saya tukar dua gepok,” ungkapnya.

Ia mengatakan memilih menukar uang di jasa penukaran pinggir jalan karena tidak mendapatkan kesempatan menukar uang baru di bank.

“Di bank tidak kebagian lagi. Jadi mau tidak mau tukarnya di sini walaupun ada adminnya,” ujarnya.

Leoza berharap ke depan Bank Indonesia dapat menambah ketersediaan uang pecahan baru menjelang Hari Raya Idul Fitri agar masyarakat lebih mudah mendapatkan uang tanpa harus membayar biaya tambahan yang cukup besar.

“Kita berharap BI bisa memperbanyak stok uang baru supaya masyarakat lebih mudah menukarnya,” pungkasnya. (*)