• Rabu, 11 Maret 2026

RSUD Abdul Moeloek Perkuat Layanan HIV Melalui Poli Kanca Sehati, Hadirkan Pelayanan Holistik Tanpa Diskriminasi

Rabu, 11 Maret 2026 - 15.00 WIB
19

Dokter Penanggung Jawab layanan HIV RSUDAM, dr. Yusuf Aulia Rahman. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk mengeliminasi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2030. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan edukasi, deteksi dini, serta pengobatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Secara global, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanggulangan HIV. Berdasarkan data terbaru, Indonesia menempati peringkat ke-14 dunia dalam jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk infeksi baru HIV. Diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV pada tahun 2025, namun baru sekitar 81 persen yang mengetahui status HIV mereka. Dari jumlah tersebut, sekitar 41 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan hanya 19 persen yang berhasil mencapai kondisi viral load tersupresi atau virus tidak terdeteksi sehingga risiko penularan menjadi sangat rendah.

Menanggapi tantangan tersebut, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) terus memperkuat komitmennya dalam penanganan HIV melalui pelayanan terpadu di Poli Kanca Sehati, yang menjadi pusat layanan HIV di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Lampung tersebut.

Pelayanan di Poli Kanca Sehati mengedepankan pendekatan holistik, profesional, serta tanpa diskriminasi bagi Orang Dengan HIV (ODHIV). Saat ini program layanan HIV melalui Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) di RSUDAM melayani rata-rata sekitar delapan pasien baru setiap bulan, dengan total kunjungan mencapai sekitar 400 pasien per bulan dengan berbagai tingkat kondisi kesehatan.

Sebagian besar pasien yang datang ke RSUDAM umumnya sudah berada pada kondisi dengan keluhan yang cukup berat. Hal ini terjadi karena selama ini pola penemuan kasus masih bersifat pasif, yaitu pasien datang secara mandiri atau melalui rujukan dari fasilitas kesehatan lain.

Sementara itu, peningkatan kasus HIV lebih banyak terdeteksi di tingkat puskesmas melalui program penemuan kasus secara aktif di masyarakat. Dalam penanganan HIV secara ideal, kasus dengan kondisi berat seharusnya hanya berkisar 10 hingga 20 persen dari total kasus, sehingga deteksi dini menjadi faktor yang sangat penting dalam menekan dampak penyakit.

Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes, menjelaskan bahwa rumah sakit terus melakukan pengembangan layanan agar penanganan HIV dapat dilakukan secara lebih komprehensif.

“RSUDAM berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan bermartabat bagi seluruh pasien, termasuk ODHIV. Melalui penguatan layanan di Poli Kanca Sehati serta berbagai inovasi pelayanan, kami ingin memastikan pasien mendapatkan akses layanan yang optimal tanpa stigma maupun diskriminasi,” ujarnya.

Sementara itu, Dokter Penanggung Jawab layanan HIV RSUDAM, dr. Yusuf Aulia Rahman, Sp.PD., KPTI, menjelaskan bahwa penanganan HIV di RSUDAM dilakukan secara terpadu melalui layanan VCT dan pengobatan antiretroviral.

Menurutnya, saat ini Klinik VCT RSUDAM melayani rata-rata sekitar delapan pasien baru setiap bulan dengan total kunjungan mencapai sekitar 400 pasien per bulan.

“Sebagian besar pasien datang sudah dalam kondisi dengan keluhan yang cukup berat karena pola penemuan kasus masih bersifat pasif. Padahal secara ideal kasus berat hanya sekitar 10 sampai 20 persen. Oleh karena itu deteksi dini menjadi sangat penting agar pasien dapat ditangani lebih cepat dan kualitas hidupnya tetap terjaga,” jelasnya.

Di RSUDAM, layanan HIV dipusatkan di Poli Kanca Sehati yang melayani pasien menggunakan BPJS Kesehatan maupun program nasional HIV dari Kementerian Kesehatan. Pasien dengan keluhan ringan seperti diare atau gangguan kesehatan umum lainnya dapat memperoleh layanan melalui skema BPJS, sementara obat antiretroviral (ARV) disediakan melalui program nasional HIV.

Seluruh unit pelayanan di klinik rawat jalan maupun rawat inap RSUDAM juga dapat menangani pasien HIV tanpa diskriminasi. Namun, pengambilan obat ARV tetap dipusatkan di Poli Kanca Sehati.

Selain memberikan layanan medis, Poli Kanca Sehati juga menjadi pengampu layanan HIV di Provinsi Lampung. RSUDAM secara rutin menyelenggarakan pelatihan dan program magang bagi tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas kesehatan melalui Direktorat Pengembangan SDM RSUDAM.

Sebagai bentuk dukungan sosial bagi pasien, RSUDAM juga bekerja sama dengan jaringan ODHA Berdaya yang mengelola rumah singgah bagi pasien HIV di Jalan Perintis Kemerdekaan.

RSUDAM dibawah kepemimpinan direktur dr.Imam Ghozali,Sp.An.,KMN.,M.Kes tengah mengembangkan berbagai inovasi layanan di bawah Poli Kanca Sehati, antara lain pengembangan layanan akhir pekan dan layanan di luar jam kerja, penguatan layanan vaksinasi terkait penyakit yang sering berkaitan dengan HIV seperti vaksin HPV dan cacar, serta pengembangan program pelatihan HIV terstandar yang saat ini telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) guna melatih tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan terstandarisasibbagi penderita HIV di seluruh 15 kabupaten kota Provinsi Lampung.

Melalui berbagai upaya tersebut, RSUD Dr. H. Abdul Moeloek menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan HIV yang komprehensif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memastikan setiap pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermartabat dan tanpa stigma. (**)