• Selasa, 10 Maret 2026

Perbaikan Tambal Sulam Jalinbar Tanggamus Dikeluhkan, Warga Sebut Tidak Tahan Lama

Selasa, 10 Maret 2026 - 14.53 WIB
39

Tampak pekerja melakukan tambal sulam Jalinbar Tanggamus di titik tempat wisata Voda Pekon Batu Kramat, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus. Foto: Sayuti/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Tanggamus – Menjelang arus mudik Idulfitri 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung mempercepat perawatan Jalan Lintas Barat (Jalinbar) yang melintasi Kabupaten Tanggamus. Perbaikan dilakukan dengan metode tambal sulam atau pothole patching untuk menutup sejumlah lubang di badan jalan.

Di sejumlah titik, pekerja terlihat menutup lubang dengan aspal baru agar jalur tersebut tetap dapat dilalui kendaraan dengan aman. Namun sebagian warga menilai perbaikan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan jalan rusak di jalur strategis tersebut.

Fajar (25), warga Kecamatan Kotaagung, mengatakan perbaikan jalan sudah dimulai sejak pertengahan Februari 2026 dan dilakukan secara bertahap di sejumlah kecamatan yang dilintasi Jalinbar.

"Perbaikan sudah dimulai dari wilayah Pugung, lalu Talangpadang, Gunungalip, Gisting, Kotaagung Timur, Kotaagung, Kotaagung Barat, Wonosobo, Bandar Negeri Semuong sampai Semaka," kata Fajar, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, sebagian besar lubang yang diperbaiki berada di pinggir kedua lajur jalan. Namun tambalan aspal yang baru sering kali terlihat menonjol dari permukaan jalan lama sehingga membuat permukaan jalan menjadi tidak rata saat dilintasi kendaraan.

Ia juga meragukan ketahanan tambalan tersebut, terutama karena saat ini masih memasuki musim hujan.

"Biasanya tambal sulam seperti ini tidak bertahan lama. Apalagi sekarang masih musim hujan," ujarnya.

Selain itu, ia menilai perbaikan yang dilakukan masih terbatas karena hanya menutup lubang berukuran besar. Sementara lubang-lubang kecil masih banyak yang dibiarkan.

"Lubang kecil ini lama-lama bisa membesar kalau terus dilindas kendaraan," katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, masih terdapat sejumlah titik di Jalinbar Tanggamus yang belum tersentuh perbaikan. Di antaranya di wilayah Pekon Batu Kramat, Kecamatan Kotaagung, tikungan Puskesmas Pembantu Tanjung Jati di Pekon Tanjung Jati, Kecamatan Kotaagung Timur, hingga sekitar Jembatan Talang Goreng yang tidak jauh dari Pondok Pesantren Almursyid.

Selain itu, masih terdapat bekas galian memanjang di badan jalan yang belum dilakukan penambalan. Kondisi ini dikeluhkan para pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor yang paling rentan terdampak.

Bekas galian tersebut terlihat cukup panjang, terutama di sepanjang ruas Batu Kramat hingga kawasan objek wisata Way Lalaan di Pekon Kampung Baru.

"Lubang-lubang bekas galian itu membentuk garis memanjang di badan jalan dan sebagian di antaranya cukup dalam," kata Dini, seorang pengendara sepeda motor.

Meningkatnya arus kendaraan menjelang musim mudik membuat kondisi tersebut semakin dikhawatirkan. Pengendara kerap harus memperlambat laju kendaraan atau bermanuver untuk menghindari lubang yang berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.

Di beberapa lokasi lain, petugas juga terlihat melakukan pemeliharaan lingkungan jalan dengan memangkas rumput di sisi kiri dan kanan badan jalan guna menjaga jarak pandang pengendara.

Kekhawatiran serupa disampaikan Dio, warga Kecamatan Kotaagung Timur. Ia menilai kondisi Jalinbar di Tanggamus belum sepenuhnya aman dilalui pemudik, khususnya pengendara sepeda motor.

"Pemudik motor harus ekstra hati-hati. Tambalannya tidak merata dan ada lubang kecil yang tidak tertutup," kata Dio.

Menurutnya, permukaan jalan yang tidak rata akibat tambalan aspal serta lubang-lubang yang belum tertutup dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

"Saya yang sudah sering lewat saja masih kena lubang. Apalagi pemudik yang tidak hafal kondisi jalan," ujarnya.

Tambal sulam memang menjadi metode yang lazim digunakan untuk memperbaiki jalan berlubang secara cepat, terutama menjelang lonjakan arus kendaraan. Namun metode ini bersifat sementara dan umumnya hanya dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Pada musim hujan, tambalan aspal kerap cepat rusak karena air yang menggenang dapat meresap ke dalam lapisan aspal baru dan melemahkan daya ikat material.

Selain itu, pengerjaan yang dilakukan secara cepat sering kali tidak melalui proses pembersihan dan pengeringan lubang secara maksimal sehingga tambalan tidak menyatu sempurna dengan lapisan jalan lama.

"Faktor lain yang mempercepat kerusakan adalah beban kendaraan berat serta sistem drainase yang kurang baik sehingga air mudah menggenang di permukaan jalan," kata tokoh masyarakat Tanggamus, Mas Anom.

Karena itu, perbaikan dengan metode tambal sulam biasanya hanya menjadi langkah darurat. Perbaikan permanen umumnya dilakukan setelah musim hujan berakhir melalui pelapisan ulang atau peningkatan struktur jalan.

Warga pun berharap ke depan dilakukan perbaikan jalan secara menyeluruh agar jalur utama tersebut benar-benar aman dan nyaman dilalui masyarakat, terutama saat arus mudik Lebaran. (*)