Demonstrasi di DPRD Metro, Ratusan Mahasiswa Bakar Ban dan Desak Wali Kota Hadir
Kondisi terkini gedung DPRD Kota Metro yang penuh dengan kepulan asap dan dipadati ratusan mahasiswa demontrasi. Foto: Arby/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Metro - Gelombang protes mahasiswa
mengguncang halaman Gedung DPRD Kota Metro, Selasa (10/3/2026). Ratusan
mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kota Metro melakukan aksi
demonstrasi dengan membakar ban di depan gedung kantor legislatif sebagai
bentuk kekecewaan terhadap jalannya pemerintahan daerah.
Aksi tersebut diikuti mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam
(HMI) Cabang Metro dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Dharma Wacana
Metro. Mereka datang membawa spanduk, poster tuntutan, serta melakukan orasi
secara bergantian di depan gedung DPRD.
Sejak pagi, massa aksi memadati halaman gedung dewan sambil
menyuarakan kritik terhadap sejumlah program pemerintah daerah yang dinilai
belum berjalan optimal. Situasi sempat memanas ketika mahasiswa menyalakan api
dan membakar ban bekas di tengah jalan sebagai simbol perlawanan terhadap
kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.
Dalam aksinya, mahasiswa secara tegas mendesak DPRD untuk
menghadirkan Wali Kota Metro ke gedung parlemen daerah guna memberikan
penjelasan langsung terkait berbagai persoalan yang menjadi sorotan publik.
Namun hingga pukul 10.33 WIB, dari pantauan di lapangan, baru
tiga anggota DPRD Kota Metro dari Partai NasDem yang keluar menemui ratusan
demonstran, sementara sisanya belum terlihat. Kehadiran tiga legislator
tersebut belum mampu meredam desakan massa yang tetap menuntut kehadiran
pimpinan daerah.
Salah satu orator aksi, Arda, menyampaikan bahwa demonstrasi
tersebut merupakan bentuk kontrol publik terhadap jalannya pemerintahan di Kota
Metro. Ia menyebutkan mahasiswa membawa sejumlah tuntutan yang harus segera
dijawab oleh pemerintah daerah dan DPRD.
Menurutnya, mahasiswa mendesak DPRD Kota Metro untuk
menghadirkan Walikota Bambang Iman Santoso guna memberikan penjelasan terkait
realisasi program kerja pemerintah kota.
“Mahasiswa datang bukan sekadar melakukan aksi simbolik. Kami
membawa tuntutan yang jelas agar pemerintah daerah segera mengevaluasi dan
mengoptimalkan program-program yang telah dijanjikan kepada masyarakat,” kata
Arda dalam orasinya.
Mahasiswa menyoroti 13 program unggulan pemerintah daerah
yang dinilai perlu segera dievaluasi dan dimaksimalkan pelaksanaannya. Program
tersebut antara lain perbaikan infrastruktur jalan melalui program Semua Jalan
Mulus, peningkatan penerangan jalan umum, digitalisasi pelayanan publik, serta
bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM.
Selain itu, mahasiswa juga menuntut peningkatan insentif bagi
perangkat lingkungan seperti RT, RW, LPM, kader posyandu, hingga penguatan
layanan kesehatan melalui peningkatan fasilitas di rumah sakit dan puskesmas.
Isu pendidikan juga menjadi perhatian dalam aksi tersebut.
Mahasiswa meminta pemerintah memastikan akses pendidikan yang lebih berkualitas
dan terjangkau bagi masyarakat.
Di sisi lain, massa aksi juga menyoroti pentingnya
pembangunan ruang kreatif bagi generasi muda, penanganan persoalan banjir dan
drainase kota, serta optimalisasi fungsi ruang publik seperti taman kota dan
alun-alun.
Tak hanya itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah daerah
memperkuat program ketahanan pangan masyarakat, meningkatkan keamanan
lingkungan, serta menghadirkan kebijakan yang menjadikan Kota Metro lebih ramah
bagi anak-anak dan kelompok lanjut usia.
Selain mendesak evaluasi program pemerintah daerah, mahasiswa
juga menyoroti peran legislatif. Mereka meminta DPRD Kota Metro menjalankan
fungsi pengawasan secara maksimal terhadap jalannya pemerintahan.
Dalam tuntutan berikutnya, mahasiswa secara khusus mendesak
DPRD untuk membentuk panitia khusus (Pansus) guna melakukan investigasi
terhadap pengelolaan anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) serta pelayanan
kesehatan di daerah.
Menurut massa aksi, pengawasan terhadap sektor kesehatan
menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat luas.
Aksi demonstrasi berlangsung di bawah pengamanan aparat kepolisian dan petugas
Satpol PP yang berjaga di sekitar gedung DPRD. Hingga berita ini diturunkan,
massa aksi masih bertahan di lokasi sambil menunggu respons lebih lanjut dari
pihak DPRD maupun pemerintah daerah terkait tuntutan yang disampaikan. (*)
Berita Lainnya
-
Pendemo Gruduk Masuk Ruang Sidang Paripurna DPRD Metro, Cuma Empat Anggota Dewan Temui Mahasiswa
Selasa, 10 Maret 2026 -
Kusbani Dilantik Jadi Penjabat Sekda Metro
Senin, 09 Maret 2026 -
Kunker ke Metro, Sudin Serap Aspirasi Warga hingga Bagikan Ratusan Paket Sembako
Senin, 09 Maret 2026 -
Geger, Istri Wakil Wali Kota Dicoret dari Struktur PKK Metro
Senin, 09 Maret 2026









