• Senin, 09 Maret 2026

Bandar Lampung Butuh 13 Embung dan Kolam Retensi untuk Atasi Banjir

Senin, 09 Maret 2026 - 13.32 WIB
34

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung, Budi Darmawan. Foto: Ria/Kupastuntas.co

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menilai pembangunan embung dan kolam retensi menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi risiko banjir di Kota Bandar Lampung.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung, Budi Darmawan, mengatakan kebutuhan embung dan kolam retensi di Bandar Lampung cukup banyak, terutama untuk menahan aliran air dari wilayah hulu agar tidak langsung mengalir deras ke daerah hilir.

Menurutnya, pembangunan Embung Kemiling menjadi salah satu contoh upaya nyata yang sudah dilakukan untuk mengendalikan aliran air saat hujan deras.

"Embung di Kemiling itu salah satu upaya menahan air agar tidak langsung turun secara cepat ke daerah hilir," kata Budi saat dimintai keterangan, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan, embung tersebut berfungsi menahan debit air saat hujan deras, kemudian melepaskannya secara perlahan ketika kapasitas sudah penuh sehingga tidak menimbulkan luapan air besar secara tiba-tiba di wilayah bawah.

"Alhamdulillah Embung Kemiling berfungsi. Air ditahan terlebih dahulu, lalu saat sudah penuh dilepas secara pelan-pelan sehingga tidak menyebabkan luapan besar di daerah hilir," jelasnya.

Budi menyebutkan, berdasarkan pembahasan dalam rapat penanganan banjir, setidaknya dibutuhkan sekitar 13 embung atau kolam retensi di Bandar Lampung untuk membantu mengurangi potensi banjir.

Namun jumlah tersebut masih menunggu rekomendasi resmi dari masterplan penanganan banjir yang sedang disusun.

"Paling tidak ada 13 embung atau kolam retensi yang mestinya dibangun. Tapi ini masih menunggu rekomendasi dari masterplan banjir," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan satu embung saja tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan banjir di Bandar Lampung. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya tambahan yang dilakukan secara terpadu.

Saat ini, lanjut Budi, belum ada rencana pembangunan embung baru dalam waktu dekat. Pemerintah masih menunggu hasil kajian dari masterplan banjir sebelum menentukan langkah pembangunan berikutnya.

"Kalau nanti dari rekomendasi masterplan banjir ada yang bisa segera dikerjakan, tentu akan kita kerjakan," katanya.

Budi juga menjelaskan bahwa pembangunan embung nantinya akan ditempatkan di beberapa wilayah strategis mulai dari hulu hingga hilir.

Untuk wilayah hulu, lokasi yang memungkinkan berada di kawasan Kemiling dan sekitarnya, termasuk daerah Batu Putu. Sementara di wilayah tengah kota, embung atau kolam retensi berpotensi dibangun di kawasan Tanjung Senang dan Sukarame.

"Adapun untuk wilayah hilir, pembangunan kolam retensi memungkinkan dilakukan di kawasan Panjang dan sekitarnya apabila masih tersedia lahan yang bisa dimanfaatkan," jelasnya.

Selain pembangunan embung, Pemerintah Provinsi Lampung juga menyiapkan langkah lain untuk meningkatkan daya serap air di wilayah perkotaan.

"Tahun ini, Dinas PSDA Lampung menganggarkan pembangunan 1.000 titik sumur bor biopori di Kota Bandar Lampung," tuturnya.

Budi mengatakan program tersebut akan lebih efektif jika dilakukan secara masif dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan dunia usaha.

"Kalau ini dimasifkan, melibatkan masyarakat dan dunia usaha, misalnya sampai 10.000 bahkan 50.000 titik biopori, tentu dampaknya akan sangat terasa untuk mengurangi genangan dan banjir," pungkasnya. (*)