Bebas Gluten dan Rendah Glikemik, Mocaf Digadang-gadang Jadi Andalan Ketahanan Pangan Lampung
Para peserta saat ikuti praktik pembuatan Mocaf, di Gedung Kuliah Umum I, ITERA, Rabu (4/3/2026). Foto: Sri/Kupastuntas.co
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Institut Teknologi Sumatera
(ITERA) menggelar pelatihan pembuatan Modified Cassava Flour (Mocaf) bagi
mahasiswa dan jurnalis di Gedung Kuliah Umum I, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan lokal sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas singkong di Lampung. Dalam kegiatan tersebut, Rektor tidak hanya memberikan paparan materi, tetapi juga menjelaskan secara detail proses pengolahan singkong menjadi Mocaf.
Rektor ITERA, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, mengatakan singkong memiliki nilai ekonomi strategis untuk meningkatkan perekonomian daerah jika dikelola dengan tepat melalui inovasi teknologi.
“Kita ingin sering turun ke masyarakat terkait permasalahan pangan, khususnya komoditas singkong. Singkong memiliki nilai ekonomi sangat strategis untuk meningkatkan perekonomian Lampung apabila ditangani dengan tepat,” ujar Nyoman.
Menurutnya, salah satu teknologi yang dikembangkan adalah modifikasi singkong menjadi Mocaf (modified cassava flour). Produk ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan tepung terigu.
“Mocaf bebas gluten, memiliki indeks glikemik lebih rendah, serta berfungsi sebagai prebiotik. Ini bukan sekadar karbohidrat untuk kenyang, tetapi termasuk pangan fungsional yang mendukung kesehatan,” jelasnya.
Ia menerangkan, sifat prebiotik pada Mocaf penting untuk menjaga keseimbangan mikroba baik dalam tubuh. Dengan karakter tersebut, Mocaf dinilai cocok bagi penderita autisme yang membutuhkan diet bebas gluten maupun bagi penderita diabetes karena indeks glikemiknya lebih rendah dibandingkan beras.
Selain itu, Mocaf dapat diolah menjadi berbagai produk seperti kue, bolu, sereal, mie, hingga aneka pangan olahan lainnya. Kebutuhan tepung nasional yang selama ini masih didominasi terigu impor dinilai menjadi peluang besar bagi pengembangan Mocaf.
“Kebutuhan terigu kita sekitar 7 juta ton per tahun. Kalau kita ambil 10 persen saja dan bisa menggantinya dengan produk lokal, tentu ini akan sangat signifikan bagi perekonomian,” katanya.
Nyoman optimistis, dengan adanya kebijakan harga dasar singkong oleh Gubernur Lampung, hilirisasi melalui Mocaf dapat menjadi solusi agar singkong rakyat tetap terserap dengan harga yang layak.
"Masih tersedia ratusan ribu hektare lahan di Lampung yang dapat dioptimalkan untuk budidaya singkong, termasuk dengan sistem tumpang sari bersama komoditas lain seperti kelapa, " ungkapnya.
Saat ini, ITERA telah mendampingi sedikitnya dua tim alumni
yang merintis usaha Mocaf di Lampung Timur dan Pesawaran. Bahkan, terdapat UMKM
di Lampung Tengah yang mampu memproduksi hingga 9 ton per hari.
Sementara itu, Dosen Teknologi Pangan ITERA, Ilham Marvie, menjelaskan proses pembuatan Mocaf dilakukan melalui fermentasi secara aerobik dengan penambahan bakteri baik.
“Singkong diparut, kemudian disaring dan ditambahkan air dengan perbandingan 1:1,5. Setelah itu difermentasi selama 24 jam menggunakan aerasi agar bakteri hidup secara aerobik. Proses ini mengubah pati kompleks menjadi lebih sederhana,” jelas Ilham.
Setelah fermentasi, campuran akan terpisah menjadi tiga fase, yakni endapan pati di bagian bawah, lapisan protein di tengah, dan air di bagian atas. Ketiganya dapat dimanfaatkan.
“Endapan pati dikeringkan menjadi tepung untuk industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Lapisan protein bisa dikembangkan menjadi pangan fungsional atau pakan. Bahkan airnya pun bisa dimanfaatkan, sehingga tidak mencemari lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia tidak memiliki komoditas penghasil gluten sehingga ketergantungan pada terigu impor masih tinggi. Melalui pengembangan Mocaf, diharapkan produk lokal mampu mendekati karakteristik tepung terigu, seperti elastis dan kenyal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri.
"Jadi kita berharap pelatihan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga mendorong lahirnya wirausaha baru di sektor industri kecil dan menengah berbasis singkong, guna memperkuat ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi Lampung, " ungkapnya. (*)
Berita Lainnya
-
Pengamat Nilai Pinjaman Pemkab Tuba Wajar: Kuncinya pada Manfaat Nyata bagi Warga
Rabu, 04 Maret 2026 -
Disnaker Lampung Buka Posko Pengaduan THR, Siap Tindak Perusahaan Tak Patuh
Rabu, 04 Maret 2026 -
BRI Region 5 Bandar Lampung Terima Audiensi PWI Lampung, Perkuat Sinergi dengan Insan Pers
Rabu, 04 Maret 2026 -
Holiday Inn Lampung Bukit Randu Hadirkan 'Eid Getaway Package', Liburan Idul Fitri Nyaman Mulai IDR 1.250.000 per Malam
Rabu, 04 Maret 2026









