Usep Syaipudin: Pendanaan MBG Adalah Trade-Off antara Gizi dan Investasi Pendidikan
Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) yang juga Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Alokasi anggaran Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) yang bersumber dari anggaran pendidikan dalam APBN Tahun Anggaran
2026 menjadi sorotan.
Dari total anggaran pendidikan sebesar Rp769 triliun, sebesar Rp223,5
triliun atau sekitar 29 persen dialokasikan untuk MBG. Nilai tersebut bahkan
lebih besar dibandingkan anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
yang sebesar Rp56,6 triliun serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan
Teknologi sebesar Rp61,8 triliun.
Selain dari pos pendidikan, MBG juga didanai Rp24,7 triliun dari anggaran
kesehatan karena menyasar ibu hamil dan anak usia dini, serta Rp19,7 triliun
dari pos ekonomi karena dinilai dapat menggerakkan ekonomi lokal. Total
anggaran mencapai Rp268 triliun, dengan tambahan cadangan Rp67 triliun atau
sekitar 20 persen dari total anggaran.
Akademisi Ekonomi Universitas Lampung (Unila) yang juga Ketua Ikatan
Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung, Usep Syaipudin, menilai
polemik ini perlu dilihat dari aspek konstitusional dan mekanisme penganggaran.
“Pertama harus dicek, apakah anggaran pendidikan di APBN tetap memenuhi
jumlah minimal 20 persen dari APBN sesuai amanah UUD 1945. Jika iya, maka tidak
melanggar amanah UUD 45,” ujar Usep saat dimintai tanggapan, Kamis (26/2/26).
Ia menegaskan, pembiayaan MBG tidak sesederhana diambil langsung dari satu
pos tertentu. “Program MBG memang dibiayai melalui APBN, tetapi tidak
sesederhana ‘diambil langsung’ dari anggaran pendidikan, kesehatan, atau
ekonomi secara spesifik. MBG dibiayai melalui mekanisme realokasi dan prioritas
anggaran,” jelasnya.
Menurut Usep, kebijakan ini merupakan bentuk trade-off antara intervensi
gizi jangka pendek dan investasi kualitas pendidikan jangka panjang.
“Jawabannya tidak bisa hitam-putih. Efisiensi anggaran pendidikan yang
dilakukan untuk MBG bergantung pada desain anggaran, implementasi, dan dampak
riil terhadap kualitas pembelajaran,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa pendidikan merupakan investasi utama dalam
meningkatkan produktivitas, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi.
“Dampaknya bisa signifikan. Karena pendidikan adalah investasi utama untuk
meningkatkan produktivitas, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi. Jika kualitasnya
buruk, tentu dalam jangka panjang akan menurunkan kualitas SDM kita,” tegasnya.
Terkait pergeseran 29 persen anggaran pendidikan, ia menyebut potensi
dampak terhadap daya saing tetap ada, namun bergantung pada arah kebijakan.
“Bisa berpotensi menurunkan daya saing Indonesia, tetapi sangat bergantung
pada ke mana anggaran tersebut dialihkan dan apakah tetap mendukung peningkatan
kualitas SDM atau tidak,” ujarnya.
Saat ditanya apakah MBG merupakan investasi pendidikan atau kebijakan
sosial, Usep menilai program tersebut berada di persimpangan.
“Sebetulnya agak sulit karena ada di persimpangan. Namun jika harus
diklasifikasikan, MBG lebih dominan sebagai kebijakan sosial,” tandasnya.
Ia pun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pembiayaan. “Prinsip
utamanya adalah diversifikasi sumber pendanaan dan perlindungan anggaran
pendidikan inti di dalam APBN,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
-
Semarak Ramadan, BATIQA Hotel Lampung Bersihkan Masjid Babul Khair di Kedamaian
Kamis, 26 Februari 2026 -
Mentan Amran Pimpin Rakor Nasional Pertanian,Tegaskan Swasembada Berkelanjutan dan Siap Ekspor Beras
Kamis, 26 Februari 2026 -
Kostiana Sayangkan MBG Serap Dana Pendidikan: Infrastruktur Sekolah dan Kesejahteraan Guru Harus Jadi Prioritas
Kamis, 26 Februari 2026 -
Dinas Pendidikan Lampung Gelar Pesantren Kilat, Bekali Siswa Penguatan Akidah hingga Kesehatan Mental
Kamis, 26 Februari 2026









