Fiskal 2026 Terancam Lesu, Setahun Bambang–Rafieq Disorot Minim Penguatan PAD
Pengamat Birokrasi Pemerintahan Kota Metro, Eko Siswanto. Foto: Ist
Kupastuntas.co, Metro - Memasuki tahun kedua kepemimpinan Wali Kota dan
Wakil Wali Kota Metro, sorotan tajam datang dari kalangan pengamat birokrasi.
Bukan soal proyek fisik atau seremoni peresmian, melainkan menyangkut fondasi
paling mendasar dalam tata kelola pemerintahan yaitu kesehatan fiskal daerah.
Pengamat Birokrasi Kota Metro, Eko Siswanto, menilai kondisi fiskal 2026
berpotensi mengalami tekanan serius apabila tidak segera dilakukan koreksi
kebijakan. Ia bahkan menyebut, dalam satu tahun pertama kepemimpinan pasangan
Bambang Iman Santosa dan Dr. M. Rafieq Adi Pradana belum terlihat penguatan
struktur keuangan yang signifikan.
“Setiap lima tahun masyarakat memilih pemimpin. Yang tampak di permukaan
biasanya pembangunan fisik seperti jalan diperbaiki, taman dipercantik, gedung
diresmikan. Tapi yang menentukan keberlanjutan justru kesehatan fiskal. Di situ
ukuran keberhasilan sesungguhnya,” kata Eko kepada awak media, Kamis
(26/2/2026).
Menurutnya, kinerja fiskal bukan perkara persepsi, melainkan dapat diukur
secara objektif. Sistem keuangan daerah telah diatur dalam Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 dan berada dalam pengawasan Badan Pemeriksa Keuangan.
"Dari kerangka tersebut, indikatornya jelas. Apakah Pendapatan Asli
Daerah atau PAD meningkat konsisten, apakah belanja pegawai tetap proporsional,
apakah belanja modal mendorong pertumbuhan ekonomi dan kualitas layanan publik,
atau justru ketergantungan pada transfer pusat makin membesar. Kalau PAD
stagnan, belanja rutin membengkak, dan ketergantungan dana transfer meningkat,
maka itu alarm fiskal,” jelasnya.
Eko mengingatkan, banyaknya proyek fisik belum tentu mencerminkan kemajuan
struktural. Tanpa fondasi fiskal yang kuat, pembangunan berisiko menjadi siklus
lima tahunan tanpa kesinambungan.
Pria yang juga intens menulis buku tersebut menyebut konsep legacy fiskal
sebagai ukuran penting keberhasilan kepala daerah. Legacy bukan hanya soal
gedung atau infrastruktur yang berdiri, tetapi sistem keuangan yang tetap
stabil bahkan setelah masa jabatan berakhir.
“Kemajuan substantif itu ketika daerah semakin mandiri secara keuangan dan
tetap stabil meski kepemimpinan berganti. Kalau tidak ada penguatan sistem,
maka yang tersisa hanya beban anggaran di masa depan,” ujarnya.
Ia menyoroti struktur fiskal kota yang berbeda dengan kabupaten. Dalam
kerangka Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, baik kota maupun kabupaten memiliki
kewenangan otonom, namun basis fiskalnya tidak identik.
Kabupaten memiliki desa-desa yang menerima Dana Desa sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Sementara kota seperti Metro lebih
bertumpu pada PAD sektor jasa dan perdagangan, yang menuntut kreativitas dan
efisiensi tinggi dalam pengelolaannya.
“Kalau kota tidak kreatif menggali potensi jasa, perdagangan, dan
optimalisasi aset, maka ruang fiskalnya akan sempit,” katanya.
Sebagai perbandingan, Eko mencontohkan pengalaman tata kelola di RSUD
Jenderal Ahmad Yani Metro. Menurutnya, ketika perencanaan dilakukan berbasis
rencana induk, sistem didigitalisasi, dan pengembangan layanan dijalankan
terukur, hasilnya dapat dibaca secara objektif dengan arus kas membaik, aset
tumbuh, dan kepercayaan publik meningkat.
"Penataan kawasan dilakukan bukan sekadar memperindah tampilan, tetapi
memperkuat fungsi dan keberlanjutan. Aktivitas ekonomi informal direlokasi
secara solutif. Sistem parkir manual yang rawan kebocoran beralih ke sistem
elektronik yang lebih akuntabel," paparnya.
"Peningkatan pendapatan terjadi bukan karena menaikkan tarif,
melainkan memperbaiki tata kelola. Dampaknya jelas, target anggaran tercapai,
aset meningkat, dan institusi menjadi lebih tahan terhadap tekanan fiskal,”
imbuhnya.
Namun dirinya mempertanyakan apakah pendekatan sistemik semacam itu sudah
menjadi arus utama dalam kebijakan fiskal Pemerintah Kota Metro saat ini. Eko
mengingatkan, 2026 berpotensi menjadi tahun krusial. Jika belanja rutin tidak
dikendalikan dan inovasi PAD tidak tumbuh signifikan, maka tekanan fiskal dapat
menggerus ruang belanja pembangunan.
Eko menilai, dalam satu tahun pertama kepemimpinan Bambang–Rafieq, belum
tampak langkah strategis yang menonjol dalam penguatan struktur fiskal jangka
panjang.
“Gedung bisa selesai dalam satu periode. Tapi sistem fiskal yang sehat
adalah fondasi satu generasi. Kalau fondasi ini rapuh, maka pembangunan hanya
akan menjadi repetisi program tanpa daya tahan,” bebernya.
Meski demikian, ia menegaskan kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan,
melainkan mendorong evaluasi berbasis data dan transparansi. Namun tantangan
yang diangkat Eko membuka ruang diskusi publik yang lebih luas tentang arah
kebijakan fiskal daerah.
Bagi Eko, pembangunan sejati tidak diukur dari seberapa banyak proyek
diresmikan, tetapi dari seberapa kokoh struktur keuangan yang menopang masa
depan.
“Kemajuan daerah tidak hanya terlihat dari apa yang berdiri hari ini,
tetapi dari seberapa kuat struktur keuangan yang menopang hari esok,”
tandasnya.
Di tengah dinamika politik dan ekspektasi publik, satu hal menjadi jelas
yaitu fiskal bukan sekadar angka dalam APBD, melainkan cermin arah dan
keberanian kepemimpinan. (*)
Berita Lainnya
-
Modus Antar Ibu ke Puskesmas, Warga Metro Bawa Kabur Motor Tetangga
Kamis, 26 Februari 2026 -
Tahu Goreng dan Telur Puyuh Jadi Menu MBG di Metro Barat, Wali Murid Nilai Jauh dari Standar Gizi
Rabu, 25 Februari 2026 -
Pengamat Soroti Perombakan Kabinet Metro Bahagia: Enam Bulan Tidak Ada Progres, Evaluasi
Rabu, 25 Februari 2026 -
Heboh Paket MBG Minim di Metro, Satgas Sebut Terjadi Human Error
Rabu, 25 Februari 2026









