• Kamis, 26 Februari 2026

Anak Meninggal Usai Dirawat, Keluarga Laporkan RSIA Puri Betik Hati ke Dinas Kesehatan

Kamis, 26 Februari 2026 - 11.53 WIB
189

Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Betik Hati di Jl. Pajajaran Kec. Way Halim, Kota Bandar Lampung. Foto: Ist

Kupastuntas.co, Bandar Lampung - Seorang anak bernama Abizar Fathan Athallah meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Puri Betik Hati. Pihak keluarga menduga adanya kelalaian dalam penanganan medis.

Orang tua korban, Muslim, warga Perum Griya GMI Blok B4/35 Bandar Lampung, mengungkapkan kronologi kejadian yang menimpa anaknya

Ia juga mengaku telah melaporkan peristiwa ini kepada Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan juga Lampung-In untuk dapat segera ditindaklanjuti.

Menurut Muslim, peristiwa bermula pada 15 Februari 2026 sekitar pukul 23.00 WIB saat dirinya membawa sang anak ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit tersebut dengan keluhan muntah-muntah dan sakit perut hebat.

"Awalnya dokter menyampaikan anak saya akan diberikan suntikan pereda nyeri dan anti mual. Jika membaik bisa rawat jalan," ujarnya saat memberikan keterangan, Kamis (26/2/2026).

Namun, saat proses administrasi, Muslim mengaku diminta membayar karena layanan rawat jalan tidak dapat menggunakan BPJS.

Karena tidak memiliki biaya, pihak rumah sakit kemudian menyarankan rawat inap agar dapat menggunakan BPJS.

"Setelah proses administrasi selesai, barulah anak saya mendapatkan tindakan medis berupa suntikan, pemasangan infus, serta pengambilan sampel darah," jelasnya.

Selama dirawat, kondisi korban disebut terus memburuk. Anak tersebut mengalami muntah berulang hingga belasan kali dan terus mengeluhkan nyeri hebat di bagian perut.

Muslim mengaku telah berulang kali melaporkan kondisi anaknya kepada perawat jaga. Namun, penanganan yang diberikan disebut hanya berupa obat pereda nyeri seperti paracetamol.

"Anak saya terus meringis kesakitan. Saya sudah bolak-balik lapor, tapi hanya diberikan obat pereda nyeri," katanya.

Pada 16 Februari 2026 pagi, dokter spesialis anak yang menangani korban menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit hingga sekitar 19.000 yang mengindikasikan adanya infeksi.

Anak tersebut kemudian diberikan terapi antibiotik. Namun demikian, kondisi korban tidak menunjukkan perbaikan. Bahkan muntah berubah menjadi berwarna kuning hingga hijau.

Memasuki 17 Februari 2026 dini hari, kondisi korban semakin memburuk. Saat dilakukan pemeriksaan lanjutan, dokter menyatakan dugaan usus buntu dan menyarankan tindakan operasi.

Korban kemudian diminta berpuasa sejak pagi untuk persiapan tindakan. Namun, menurut orang tua, proses penanganan lanjutan berjalan lambat.

"Anak saya sudah puasa sejak pagi, tapi sampai siang belum juga ditangani. Bahkan terus meminta minum karena kesakitan," ujarnya.

Pemeriksaan rontgen baru dilakukan sekitar pukul 09.30 WIB. Sementara dokter bedah disebut baru datang pada sore hari untuk memastikan tindakan operasi.

Menurut keterangan keluarga, keterlambatan juga terjadi karena dokter anestesi yang akan menangani operasi sulit dihubungi.

Setelah persetujuan operasi ditandatangani oleh orang tua, kondisi korban justru semakin kritis. Anak tersebut mulai mengalami penurunan kesadaran hingga akhirnya dilakukan tindakan darurat.

Namun, upaya penyelamatan tidak berhasil. Korban dinyatakan meninggal dunia.

"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Anak kami meninggal dunia. Kami merasa ada kelalaian dalam penanganannya. Kalau memang tidak sanggup kenapa tidak dirujuk saja," ujar Muslim.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga telah melaporkan kasus ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.

Dinas Kesehatan menyatakan telah menerima laporan dan akan segera memanggil pihak rumah sakit untuk klarifikasi.

Keluarga berharap adanya investigasi menyeluruh serta pertanggungjawaban atas dugaan kelalaian yang menyebabkan meninggalnya anak mereka.

"Kami hanya ingin keadilan untuk anak kami. Dinas Kesehatan bilang mereka akan segera memanggil pihak rumah sakit," tutupnya.

Hingga berita ini diterbitkan, wartawan masih berupaya meminta klarifikasi dari Rumah Sakit Betik Hati. (*)